
Sementara itu, Melati yang masih shock dan masih tertekan, ia pun terlihat putus asa, tubuhnya lemas, kemana lagi ia harus pergi, untuk kembali ke rumah sakit rasanya kakinya sudah lemas duluan, pasti dokter memberikan kabar yang sudah bisa ia tebak.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan putri Ibu!"
Melati terngiang-ngiang kata-kata itu, sehingga membuat dirinya histeris dan berteriak menyebut nama sang putri.
"Amandaaaaaa!" teriak Melati yang terdengar sampai di telinga anak buah Kumbang.
"Nyonya! Ada apa? Tenanglah Nyonya!" seru wanita yang bernama Ana itu kepada Melati.
"Anakku, aku ingin bertemu dengan anakku, tolong! Tolong bawa aku kepada anakku! Aku ingin tahu bagaimana keadaannya, tolong aku Nyonya!" rengek Melati memohon agar dirinya diantar ke rumah sakit untuk bertemu dengan sang anak.
"Nyonya yang tenang, ya! Sebaiknya Nyonya makan dan istirahat dulu! Kondisi Nyonya sangat lemah!" seru Ana sembari membantu Melati untuk tenang. Tentu saja Melati marah, bagaimana bisa Ana bicara seperti itu disaat dirinya sedang panik dengan kondisi sang anak yang belum ia ketahui keadaannya.
"Saya tidak mau makan dan istirahat, bagaimana bisa Anda bilang agar saya bisa tenang, hidup anak saya sedang dipertaruhkan, Amanda!!" ucap Melati dengan ekspresi yang terlihat sangat putus asa.
"Nyonya tenanglah! Putri Anda baik-baik saja, Amanda tidak kenapa-kenapa, Nyonya." Ucapan Ana membuat Melati seketika terkejut dan bertanya, "Apa maksud, Nyonya? Darimana Nyonya tahu jika Amanda baik-baik saja? Katakan!!" desak Melati sambil menggoyang-goyangkan pundak Ana.
"Iya iya Nyonya tenang, ya! Saya akan mengatakannya. Nona Amanda sekarang sedang bersama Tuan Kumbang, dan keadaan Nona Amanda sudah sangat membaik, jadi Nyonya tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan putri Nyonya, Tuan Kumbang sudah menjaganya dengan baik," ungkap Ana yang seketika membuat Melati tidak percaya, ternyata Kumbang sudah berada di rumah sakit dan menyelamatkan putrinya.
__ADS_1
"Kumbang? Kumbang ada di rumah sakit? Nyonya tidak bohong, kan?" tanya Melati sekali lagi.
"Tidak, Nyonya! Mana mungkin saya bohong, Tuan Kumbang sendiri yang mengatakannya kepada saya, Nyonya diminta untuk tetap berada di sini sampai Tuan Kumbang datang," ucap Ana sembari tersenyum.
Akhirnya, Melati bisa bernafas dengan lega, antara bahagia dan terkejut, bagaimana bisa Kumbang tahu jika putrinya sedang membutuhkan dirinya, padahal saat itu Melati belum sempat bertemu dengan dirinya.
"Syukurlah! Terima kasih ya Tuhan! Akhirnya engkau mendengarkan doa-doaku, Amanda ... Mama kangen banget sama kamu, Nak!" ucap Melati lirih.
"Kalau begitu, Nyonya makan dulu! Saya permisi sebentar!" pamit Ana. Sebelum Ana pergi, Melati bertanya kepada wanita itu tentang apartemen yang sedang ia tempati itu.
"Tunggu!" panggil Melati.
"Apa apartemen ini milik Kumbang?" tanya Melati sembari memperhatikan apartemen mewah itu.
"Iya Nyonya, Tuan Kumbang memiliki beberapa apartemen di kota ini, karena Tuan sering sekali ke kota ini untuk urusan bisnisnya, sehingga apartemen ini menjadi rumah kedua bagi Tuan Kumbang," ungkap Ana yang sudah bekerja bertahun-tahun kepada Kumbang.
"Emm ... kalau boleh tahu, apa Kumbang tinggal sendiri? Atau mungkin dia sudah punya istri?" tanya Melati yang mulai penasaran dengan kehidupan mantan pacarnya itu. Karena semenjak putus hubungan, Melati belum pernah bertemu ataupun mengetahui kehidupan Kumbang lagi, hingga akhirnya mereka dipertemukan pada malam itu, malam dimana akhirnya terlahir seorang gadis cilik yang cantik yang bernama Amanda.
"Tuan Kumbang belum menikah, Nyonya!" balas Ana yang membuat Melati tersenyum paksa.
__ADS_1
"Ohhh ... itu artinya, dia tinggal bersama orang tuanya dong, ya? Tante Seruni dan Om Elang," tanya Melati sekali lagi. Tentu saja Melati sangat mengenal kedua orang tua Kumbang, karena dulu mereka sering jalan-jalan bersama saat mereka masih berpacaran. Tapi, Ana Justru menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nyonya. Orang tua Tuan Kumbang sudah lama meninggal," ungkap Ana.
"Apa? Mereka sudah meninggal? Tante Seruni dan Om Elang? Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, ya Tuhan! Itu artinya sekarang Kumbang hanya tinggal bersama Mawar dong?" tanya Melati yang semakin penasaran. Melati tahu jika Kumbang hanya dua bersaudara, yaitu dirinya dan Mawar.
Sejenak, Ana menundukkan wajahnya, dan sangat berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenapa Nyonya diam?" tanya Melati semakin penasaran.
"Emm ... Tuan Kumbang sekarang tinggal sendirian, Nyonya. Iya dulu memang ada Non Mawar yang tinggal bersama dengan Tuan Kumbang, tapi ... setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, semuanya berubah. Nona Mawar mengalami musibah yang menyebabkan Tuan Kumbang begitu marah, karena kejadian yang menimpa Nona Mawar itu sudah membuat jiwanya terguncang, Nona Mawar depresi berat, Nyonya!" ungkap Ana yang semakin membuat Melati sangat terkejut, Mawar adik Kumbang yang dulu ia sangat dekat dengannya, kini harus mengalami nasib yang memilukan.
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Melati yang tidak percaya jika seorang Mawar yang sangat ceria dan periang bisa mengalami hal yang membuat jiwanya terguncang.
"Ada seorang pria yang sudah membuat kehidupan Nona Mawar mengalami depresi berat, Nyonya. Dia adalah mantan kekasihnya dulu," balas Ana.
"Seorang pria? Memangnya apa yang dilakukan oleh pria itu kepada Mawar?" tanya Melati yang semakin penasaran.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1