
Mereka terdiam sesaat saat bibir itu saling menempel, Melati memejamkan matanya dan tidak bergerak sama sekali. Kumbang pun memejamkan matanya dan menikmati desaahan nafas Melati yang terasa begitu hangat. Tak ada suara, hanya suara tarikan nafas keduanya yang terdengar begitu indah, hanya bersentuhan saja tanpa melakukan tindakan berikutnya. Itu sudah cukup membuat jantung Melati berdebar kencang.
"Oh God! Apa yang terjadi padaku? Perasaan ini muncul kembali, perasaan yang sama saat aku masih bersama dirinya. Apa aku masih mencintai Kumbang?"
"Nafas ini? Nafas yang membuat seluruh jiwaku bergetar, sentuhan ini yang semakin tidak bisa membuatku melupakanmu, Mel! Aku tidak bisa menunggu lagi. Kamu harus secepatnya menjadi milikku, harus!"
Keduanya berbisik pada hati masing-masing.
Hingga akhirnya tiba-tiba Amanda datang dan mengejutkan mereka berdua.
"Mama ...!!" suara mungil itu membuat Melati spontan membuka kedua matanya dan menjauhkan dirinya dari Kumbang.
"Em Sayang! Udah selesai mainnya?" seru Melati sembari beranjak berdiri dari atas lantai. Sementara itu Kumbang masih duduk di atas lantai sambil melihat putrinya memergoki dirinya bersama sang ibu.
Amanda berlari ke arah keduanya dan tiba-tiba berhenti sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Mama dan Papa ngapain duduk di lantai?" pertanyaan sang bocah yang membuat Melati bingung menjawabnya.
__ADS_1
"Emm ... tadi kaki Mama kesemutan, jadi Mama duduk di atas lantai saja sambil selonjoran, biar kesemutannya hilang," ucap Melati berbohong.
"Kesemutan? Apa kesemutannya itu barengan sama Papa? Kok Papa ikut duduk di atas lantai juga sih!" ucapan Amanda yang ceplas-ceplos seketika membuat keduanya saling menatap.
Kumbang pun tersenyum dan mengajak Amanda untuk ikut duduk bersamanya.
"Amanda sini! Duduk bersama Papa!" titah Kumbang kepada putrinya, Amanda pun mendekati Kumbang dan meraih sang putri untuk duduk bersama dirinya.
"Tadi, Mama kakinya kesemutan dan Papa pijitin, kasihan kan Mama. Udah berhari-hari nggak ketemu sama kamu." Ucap Kumbang.
"Papa bukan mijitin kaki Mama, Sayang! Tapi mijitin bibir Mama. Tapi nggak jadi karena ada kamu," batin Kumbang sembari melirik ke arah Melati.
"Iya, tadi juga seperti itu. Karena Papa udah selesai mijitin ya itu upahnya Papa, dipeluk Mama, iya dipeluk dan dicium seharusnya. Eh ... nggak-nggak Papa bercanda!" celetuk Kumbang yang membuat Melati tersenyum malu.
Amanda kembali duduk di pangkuan Kumbang, sepertinya gadis itu sudah beradaptasi dengan ayah kandungnya, Ia pun sudah tidak terlalu menanyakan keberadaan Surya lagi.
"Amanda, kita makan dulu, yuk! Papa sudah lapar banget," ajak Kumbang untuk makan bersama.
__ADS_1
"Ayok! Amanda juga lapar banget." Ucap gadis itu sembari beranjak dari pangkuan sang ayah. Spontan Amanda berlari ke arah luar dan tanpa sengaja ia menyenggol sebuah foto yang terletak di atas sebuah meja kecil. Tubuh Amanda menyenggol foto Mawar hingga terjatuh di atas lantai. Kaca nya pecah dan berserakan dimana-mana.
Spontan Amanda berhenti dan takut jika saja Kumbang marah, sementara itu Melati berlari menghampiri sang anak dan berusaha untuk menenangkannya.
"Manda nggak apa-apa? Awas Sayang, banyak kaca pecah," seru Melati sembari menjauhkan putrinya dari pecahan beling kaca.
Kumbang berdiri dan berjalan menuju foto yang dijatuhkan oleh putrinya. Amanda sangat ketakutan karena Kumbang tidak tersenyum sama sekali.
Kumbang berjongkok dan mengambil foto Mawar yang sudah dijatuhkan oleh putrinya.
"Maaf, Pa! Amanda tidak sengaja!" ucap gadis kecil itu. Kumbang pun memeluk putrinya agar tidak ketakutan. "Papa ngga marah kok! Kamu saja yang hati-hati, nanti pecahan beling ini bisa melukaimu," ucap Kumbang sembari memegang foto Mawar. Secara tak langsung, Amanda melihat foto Mawar yang terlihat begitu cantik itu.
"Waaah cantik sekali, foto siapa itu, Pa?" tanya Amanda sambil menunjuk pada potret Mawar yang sedang tersenyum.
"Dia Tante kamu, Sayang! Namanya Mawar, Tante Mawar!" balas Kumbang.
"Tante Mawar? Namanya kayak Mama, nama bunga. Kenapa aku nggak dikasih nama sama kayak bunga aja sih, Ma! Kayak bunga Kamboja, atau enggak bunga Kantil." Ucapan lugu sang anak seketika membuat Kumbang dan Melati tertawa.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...