
Setelah beberapa saat, Mawar bangun dan beranjak mengambil pakaiannya kembali, gadis itu tampak tertatih, sesekali ia merasakan sakit pada perut bagian bawah. Sementara itu, Surya tampak tertidur pulas di atas ranjang tidur.
Mawar merasa sedikit kesakitan pada area pangkal pahanya, gadis itu sesekali menangis dengan apa yang telah terjadi, kesuciannya hilang saat itu juga.
"Maafkan adikmu ini, Mas! Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku adik yang bodoh," Mawar merutuki nasibnya sendiri. Hingga akhirnya, tiba-tiba Surya memeluk Mawar dari belakang dan berkata, "Kamu mau kemana, Sayang? Apa kamu tidak ingin merasakannya lagi?" bisik Surya di telinga Mawar.
"Ma-maaf, Mas! Aku pulang saja, tolong antarkan aku pulang, aku takut kakak mencari ku, dia pasti sangat marah dan tidak akan mengizinkan aku keluar rumah lagi," balas Mawar.
"Hmm ... baiklah! Aku akan mengantarmu pulang, tapi kita masih bisa bertemu lagi, kan? Aku sangat suka tubuhmu," rayu Surya yang tidak bisa Mawar tolak.
Mawar menganggukkan kepalanya pelan, kemudian dengan terbata-bata gadis itu berucap, "Mas, kamu harus menepati janjimu, kamu harus menikahiku, Mas! Aku sudah menyerahkan segalanya untukmu."
Surya tersenyum menyeringai saat mendengar ucapan dari Mawar.
"Tentu saja, Sayang! Aku akan menikahimu, tidak usah takut gitu dong! Tapi untuk sekarang aku tidak bisa melamarmu, aku harus menyelesaikan kuliahku, kamu sendiri juga masih sekolah, bukan? Kedua orang tuaku ingin melihatku sukses dulu, kita jalani hubungan kita seperti biasa, dan kamu tidak usah khawatir, setelah aku sukses, aku pasti akan menikahimu secepatnya," janji-janji manis itu terucap begitu mudah dari bibir Surya. Gadis mana yang tidak terbuai akan janji palsu itu, apalagi Surya mengatakannya atas dasar cinta.
Mawar yang belum pernah jatuh cinta kepada pria, ia pun seperti dibawa ke awang-awang, serasa hanya Surya seorang lah pria yang mencintainya, tanpa sadar Mawar sudah dibodohi oleh pria yang terkenal dengan sifat playboy nya itu.
Setelah Mawar dibujuk kembali oleh Surya untuk bermain bersama, Mawar pun terlihat lemas dan tidak berdaya, seolah tenaganya habis untuk memenuhi hasrat pria yang mengaku sangat mencintainya itu.
__ADS_1
Di saat mereka selesai melakukan hubungan haram itu. Tiba-tiba ponsel Mawar berdering, spontan Mawar terkejut dan melihat ke layar ponselnya ternyata itu adalah nomor Kumbang.
"Mas Kumbang!" ucap Mawar lirih. Ia pun segera menjauh dari posisi Surya yang saat itu sedang terhempas di atas ranjang.
"Ha-halo, Mas!"
"Mawar, kamu di mana sekarang? Mas tanya teman kamu katanya kamu tidak datang ke rumahnya?" tanya Kumbang yang merasa khawatir dengan keadaan sang adik.
"Em ... Ma-Mawar sedang dalam perjalanan pulang, Mas! Iya tadi Mawar nggak jadi ke rumah Intan, Mawar pergi ke toko buku, Mawar kelupaan saking asyiknya baca buku, Mas! Sekarang Mawar otw pulang," jawab Mawar berbohong.
"Oh ... ya sudah! Hati-hati, jangan malam-malam pulangnya, Mas khawatir sekali, apalagi ini sudah hampir jam sembilan. Apa perlu Mas jemput sekarang? Katakan sekarang kamu di mana?" paksa Kumbang yang masih khawatir dengan keadaan adik satu-satunya itu.
"Mawar! Kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri dong!" seru Surya saat melihat Mawar memakai pakaiannya kembali.
"Aku harus pulang, Mas! Ini sudah malam, aku tidak mau orang rumah marah, kamu tidak usah mengantarku pulang, aku bisa sendiri," seru Mawar.
"Tapi Mawar! Masa kamu harus pergi secepat ini sih, aku belum memberikan gaya terbaru untukmu, aku masih ingin bersamamu, Sayang!" rengek Surya yang tidak ingin ditinggalkan oleh Mawar. Tapi Mawar tetap bersikeras untuk pergi dan ia tidak perduli jika Surya masih ingin Mawar menemani dirinya.
"Aku benar-benar minta maaf, Mas! Aku tidak bisa lagi, bukankah tadi kamu sudah puas melakukannya, sudah 4 kali kamu melakukannya, badanku capek semua nuruti keinginan kamu, sekarang aku mau istirahat, aku mohon, Mas! Biarkan aku pergi," pinta Mawar memelas.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Surya mendapatkan telepon dari Melati. Spontan Surya langsung menerima telepon dari wanita yang menjadi gebetannya itu.
"Halo, Mel! Tumben kamu meneleponku?" tanya Surya yang terlihat begitu bahagia, ia tampak memalingkan wajahnya dari Mawar, tentu saja ekspresi wajah Surya seketika membuat Mawar mengernyitkan dahinya.
"Mas Surya berbicara kepada siapa, senyum-senyum gitu?" batin Mawar bertanya-tanya.
"Oh ya, Surya! Kamu punya buku antropologi nggak? Kalau punya aku pinjam sebentar dong?" seru Melati yang seketika membuat Surya langsung menjawab iya.
"Oh iya tentu saja aku punya," jawabnya dengan semangat.
"Apa aku bisa ambil sekarang? Soalnya aku butuh banget untuk bahan skripsi," sahut Melati penuh harap, Melati hanya menganggap Surya sebagai teman biasa, sedangkan Surya menganggap Melati sebagai gadis yang berbeda dari sekian banyak gadis yang ia kenal, dan Surya tetap mencintai Melati meskipun Melati berkali-kali menolak cintanya.
"Oh jangan-jangan, biar aku yang antar ke rumahmu, ini sudah malam, seorang gadis tie baik pergi malam-malam, aku akan segera datang tunggu aku!" setelah mengatakan hal itu, Surya pun segera mengenakan pakaiannya, dan meminta Mawar untuk pulang segera.
"Oh ya Mawar, kalau kamu ingin pulang, pulang saja! Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal, karena aku ada urusan sebentar, oke!" seru Surya yang tiba-tiba membuat Mawar terkejut, seolah Surya lebih memperdulikan orang yang baru saja menghubungi dirinya ketimbang mengantar Mawar pulang.
"Siapa yang menelepon mu tadi, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi?" tanya Mawar penasaran. Surya pun mendekati gadis itu lalu berkata, "Itu bukan urusanmu!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1