Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Tersedak


__ADS_3

Mawar tertunduk, ternyata dugaannya salah besar, Surya tidak seperti ucapan kakaknya, Surya menginginkan lebih kepada Mawar. Kumbang pun melihat adiknya yang tertunduk sedih.


"Kamu kenapa?" tanya pria tampan itu. Mawar terkesiap dan pura-pura baik-baik saja.


"Ah ... tidak apa-apa Mas. Ya sudah, Mawar mau ke kamar dulu, mau ganti baju." Mawar pamit untuk ke kamarnya, sembari berjalan Kumbang memperhatikan adiknya yang sedikit berubah.


Mawar masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, Kumbang mengerutkan keningnya dan merasa jika adiknya sedang tidak baik-baik saja.


Tak berselang lama, Kumbang dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar rumah. Ia pun bergegas untuk membukakan pintu, dan benar saja itu adalah tukang ojol yang mengantarkan pesanan Kumbang.


"Ini Pak! Semuanya jadi 150 ribu," seru tukang yang mengantarkan makanan itu kepada Kumbang.


Kumbang menerima makanan itu dan membayarnya dengan uang pecahan seratus ribuan sebanyak 2 lembar.


"Ini uangnya, kembaliannya tidak usah, itu tip untuk bapak, terima kasih, ya!" Kumbang memberikan uang itu kepada si tukang ojol. Tentu saja tukang ojek itu sangat bahagia tak terkira, tukang ojek yang usianya sudah cukup tua itu terlihat begitu senang mendapatkan rejeki lewat Kumbang.


Sebelum tukang ojek itu pergi, pria itu sempat berterima kasih dan mendoakan Kumbang. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak! Semoga Bapak rejekinya semakin berlimpah, dan semoga Allah segera mengabulkan doa dan harapan, Bapak. Bapak adalah orang baik, saya yakin sekali jika Bapak pasti akan mendapatkan apa yang bapak impikan," seru tukang ojek itu sembari menengadahkan tangannya mendoakan Kumbang.


Kumbang tersenyum dan kemudian berkata, "Aamiin, terima kasih atas doanya, Pak!" Kumbang tersenyum. Kemudian tukang ojek itu pamit pergi dan kembali melanjutkan pekerjaannya untuk mengirim pesanan pelanggan yang lainnya.


Sementara di sisi lain, Surya sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Dengan wajah yang berseri, Surya tentu saja sudah tidak sabar ingin segera melihat wajah Melati, ia pun membawakan Melati sekuntum bunga mawar yang akan Ia berikan kepada Melati dan berharap Melati akan menerimanya.


Tak berselang lama, mobil Surya tiba di depan rumah Melati, jarak rumah Surya dan Melati sekitar tiga puluh lima menit dari rumahnya, cukup lama Surya berkendara, karena rumah Melati berada di luar kota dimana Surya tinggal. Melati dan keluarganya kembali ke kota kelahiran karena sang Ayah sudah pindah dinas, sekarang ayah Melati sudah pensiun dari angkatan darat.


Melati adalah anak pertama, dan kedua orang tuanya berharap Melati bisa lulus sebagai Sarjana hukum dan meneruskan perjuangan sang ayah yang mengabdi kepada negara dengan menjadi seorang Pengacara.

__ADS_1


Surya turun dari mobil dan segera menemui Melati. Saat itu Melati sedang sibuk di depan laptopnya untuk mengerjakan skripsi, sang ibu memanggilnya dan berkata jika ada Surya yang datang.


"Mel! Ada Nak Surya di luar, dia mau bertemu sama kamu," seru sang Ibu yang ikut senang. Melati pun segera beranjak untuk menemui teman sekampusnya itu.


Surya menunggu Melati sambil duduk di ruang tamu, Melati melihat Surya yang sedang duduk-duduk sambil membawa buku yang ia maksud.


"Hai, Sur!" sapa Melati sembari menghampiri Surya.


"Eh ... Mel! Sorry aku terlambat, tadi jalanan macet banget jadinya agak malam nyampenya," balas Surya yang terlihat gugup di depan Melati.


Melati tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, aku yang harus minta maaf sama kamu, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot membawanya ke rumah, aku bisa ambil sendiri ke rumah kamu," ucap Melati.


"Oh jangan! Kamu tidak usah datang ke rumah, apalagi sekarang udah malam, nggak baik anak gadis pergi malam-malam, nanti kalau ada orang yang jahat gimana, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, aku rela jauh-jauh datang ke rumahmu, dan aku iklhas kok," ucap Surya yang berharap dirinya bisa semakin mendekati Melati.


Melati tersenyum malu, meskipun Surya sering sekali ia hindari bahkan ia tolak cintanya, tapi Surya tidak pernah menyerah dan tetap baik kepada Melati.


Kemudian Surya memberikan buku itu kepada Melati dan tak lupa ia meletakkan sekuntum bunga mawar kepada Melati di atas buku yang ia serahkan kepada gadis pujaannya itu.


"Ini bukunya, Mel!" seru Surya sembari tersenyum. Tentu saja Melati terkejut kenapa ada setangkai bunga mawar putih Surya letakkan di atas buku antropologi itu.


"Surya! Untuk apa bunga ini?" tanya Melati sambil mengambil setangkai bunga mawar yang Surya petik dari halaman rumahnya itu.


"Oh itu, iya tadi di halaman rumah, aku melihat bunga mawar itu sedang mekar-mekarnya, lalu aku memetiknya dan aku kepikiran kamu. Jadi, aku berinisiatif untuk memberikannya untukmu. Kenapa? Kamu tidak senang?" seru Surya penasaran.


"Kata siapa aku tidak suka, bunganya cantik sekali dan masih harum, hanya saja untuk apa kamu petik bunga indah ini untukku, biarkan saja dia menghiasi halaman rumahmu, biarkan dia mekar di sana, itu pasti akan lebih indah karena mawar ini akan tetap segar," ucapan Melati sejenak mengingatkan Surya akan gadis yang bernama Mawar.

__ADS_1


Gadis yang baru saja Ia tiduri hanya karena Melati mengacuhkan dirinya dengan tidak mau pergi bersamanya, Surya kesal dan melampiaskannya kepada Mawar.


"Em ... iya, tapi aku tidak sabar ingin memetiknya, karena keindahannya menggoda mataku yang sedang kalut, dan aku berharap bunga mawar ini mampu membuat hatimu luluh, Mel! Aku berharap masih ada kesempatan untukku ada dalam hatimu, dan semoga saja Tuhan mendengarkan doaku," ucap Surya yang membuat Melati terdiam, sungguh tak lelah pria itu berusaha untuk merayunya.


"Hmm ... entahlah, Sur! Untuk saat ini aku masih belum berkeinginan untuk memiliki pasangan, aku ingin membahagiakan orang tuaku dulu, kamu mengerti, kan?" balas Melati yang pada akhirnya membuat Surya menghela nafas panjang. Mungkin benar satu-satunya cara untuk mendapatkan Melati adalah lewat perjodohan, karena sangat susah untuk meluluhkan hati seorang Melati.


"Maafkan aku, Surya! Aku tidak bisa mencintai pria lain, hati ini masih terpaut pada seseorang, dan dia adalah Kumbang, terlalu sulit untuk menghilangkan rasa cinta ini untuknya," batin Melati yang nyatanya gadis itu tidak bisa melupakan cinta pertamanya, yaitu Kumbang Kelana.


Di saat yang bersamaan, Kumbang yang saat itu sedang menikmati makan malam bersama sang adik, tiba-tiba saja ia tersedak dan batuk-batuk.


"Mas Kumbang, kamu kenapa? Ini minum dulu!" seru Mawar yang melihat sang kakak yang batuk-batuk.


Kumbang segera minum air putih yang di berikan oleh sang adik, setelah Kumbang minum ia pun sedikit tenang. Kumbang menghela nafas panjang dan berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Mas nggak apa-apa, kan?" tanya Mawar.


"Tidak apa-apa, Mas baik-baik saja," balas Kumbang sembari meletakkan minumannya kembali.


"Hmm ... kayaknya ada yang sedang kangen sama Mas!" celetuk Mawar kepada Kumbang.


"Hah! Kangen? Ada-ada saja kamu, emangnya siapa yang kangen sama Mas?" balas Kumbang sembari melanjutkan kembali makannya.


"Hmm ... bisa jadi itu Mbak Melati." Ucapan Mawar sontak membuat Kumbang salah tingkah dan tersenyum malu.


"Melati? Apa iya? Emangnya dia masih ingat sama Mas? Ah nggak mungkinlah, Melati pasti sudah melupakan Mas," balas Kumbang tak percaya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2