MELEPAS ASA YANG KU GENGGAM

MELEPAS ASA YANG KU GENGGAM
Bab 29


__ADS_3

Hari masih sedikit gelap, Radik sudah sampai di depan rumah yang tampak hening.


Semalam ia menginap di kontrakan Bunga, subuh sekali ia pulang karena harus masuk kantor hari ini sedangkan pakaian kerja ada di rumah.


Radik membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa. Ia pun melangkah masuk ke dalam, mata nya mengedar ke seluruh ruangan.


Sedikit aneh kali ini dia tidak melihat Seruni. Biasa nya istri nya itu bangun pagi dan jam segini sudah sibuk di dapur. Tapi Radik tidak melihat nya saat dia mengecek setiap ruangan termasuk dapur.


Radik berfikir sejenak,


' Apa mungkin Seruni pulang ke rumah orang tua nya ? ' gumam Radik.


'' Aaarrrgghhh, '' geram Radik.


Kali ini Seruni pasti mengadu pada mertua nya itu. Kedua orang tua Seruni pasti sudah tau apa yang tlah ia perbuat. Fikiran Radik sedikit kacau mengingat hal itu, bagaimana ia menjelaskan semua pada Wirya dan Susi mertua nya ?


Tak ingin buang waktu ia pun bergegas ganti pakaian dengan pakaian kerja, masalah Seruni ia fikirkan nanti.


Saat ini ia harus segera ke kantor karena Yudha dari kemarin sudah menelpon nya berkali-kali.


Mungkin atasan nya itu marah karena Radik pulang dari Kalimantan sebelum waktu yang sudah di tentukan. Radik harus mencari alasan kuat untuk itu.


Matahari kian menampakan sinar nya, Radik beranjak menuju meja makan. Hanya ada beberapa helai roti saja di sana. Dia pun melahap roti itu untuk mengganjal perut nya.


Radik meneguk segelas air putih setelah roti nya habis. Tak ada sarapan, susu ataupun kopi kali ini, karena Seruni tak berada di sana. Biasa nya Seruni selalu siap melayani nya.


Radik segera berangkat setelah melirik arloji yang menunjukan pukul tujuh lebih.


Sekitar lima belas menit ia pun sampai di kantor. Radik langsung memasuki gedung pencakar langit tersebut.


Ia menaiki lift menuju lantai teratas gedung. Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai atas, Radik berjalan menapaki koridor kantor.


'' Kamu sudah pulang ? '' sahut Seno yang baru saja keluar dari ruangan.


Langkah Radik terhenti, ia menatap tajam Seno yang kini mimik muka nya seakan penuh ledekan. Seno memang tengah menertawai nasib Radik, karena ia tau jika Seruni dekat dengan Dirga dari bukti foto yang ia ambil saat itu.

__ADS_1


'' Kamu pasti takut istri mu,,, ''


'' Diam !! '' potong Radik tegas masih dengan tatapan tajam.


Seno menahan senyum seraya menggelengkan kepala lalu pergi dari hadapan Radik, membuat Radik semakin geram.


Radil kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti menuju ruangan Yudha.


Radik mengetuk pintu ruangan tersebut. Suara Yudha menyahut dari dalam menyuruh nya masuk.


Di sana sudah ada Dania dan Yudha, Radik mengernyitkan dahi melihat putri Yudha yang nampak jutek. Ayah dan anak itu memasang muka penuh kemarahan, firasat Radik mulai tak enak.


'' Duduk, '' perintah Yudha singkat.


Sementara Dania yang berdiri di samping kursi Yudha nampak menyunggingkan senyum sinis.


'' Hari ini bereskan barang-barang di ruangan mu, KAMU SAYA PECAT ! " suara Yudha bak halilintar menggelegar di pagi hari.


'' Maksud nya ? '' Radik sedikit memiringkan kepala tak mengerti apa maksud dari semua ini yang sangat tiba-tiba.


'' Tapi pak, kenapa saya di keluarkan secara tiba-tiba ? Apa karena saya pulang lebih cepat dari Kalimantan ? Saya punya alasan untuk itu. '' Padahal Radik sendiri masih mencari-cari alasan.


'' Itu salah satu nya, '' tegas Yudha. Membuat dahi Radik semakin menunjukan lipatan-lipatan kecil.


'' Memang nya ada yang lain ? Apa kesalahan saya pak ? '' ia semakin tidak mengerti berusaha mengingat kesalahan nya.


'' Anda lupa, atau pura-pura lupa ? Oke aku ingatkan kembali, aku pernah bilang tolong jaga istri anda. Istri anda sudah lancang menggoda calon suami ku, anda ingat perkataan ku beberapa waktu lalu ? '' tukas Dania.


Radik mengusap wajah dengan telapak tangan, ia tak percaya hanya karena masalah pribadi ia harus di keluarkan dari perusahaan.


'' Tapi itu tidak ada hubungan nya dengan pekerjaan, Pak. Saya mohon beri saya kesempatan, tolong jangan sangkut pautkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadi, '' pinta Radik.


'' Keputusan ku tak bisa di ganggu gugat, apapun yang menyangkut putri kesayangan ku maka aku tak akan tinggal diam. Mengerti ? '' Yudha semakin tak profesional dan otoriter.


'' Sana urus istri mu biar gak kecentilan merayu pria lain, '' ledek Dania membuat telinga Radik panas.

__ADS_1


Braakkk


'' Perusahaan macam apa ini ? '' Radik menggebrak meja, kali ini ia berani karena saat ini juga Yudha bukan atasan nya lagi.


Dania tersentak kaget, sementara Yudha geram membelalakan mata nya seraya berdiri berhadapan dengan Radik.


'' Berani sekali kamu ! '' bentak Yudha.


Radik memiringkan bibir, menatap dua orang dihadapan nya yang memiliki watak sama.


'' Anda sudah bukan atasan saya, bukankah anda sendiri baru saja memecat saya ? Baik, saya pergi. '' Radik menunjuk batang hidung Yudha dengan telunjuk nya lalu ia pergi dari hadapan Yudha dan Dania yang semakin geram.


Radik membanting pintu, membuat Disty yang baru muncul di koridor tersentak.


Disty baru saja datang dari Kalimantan menyusul Radik yang sudah lebih dulu pulang, setelah mendapat izin dari Nalendra dan Yudha sebelumnya.


Radik berjalan melewati Disty yang masih mematung menatap nya. Radik tampak acuh dan tak perduli keberadaan Disty di sana.


' Ini gara-gara perempuan s*alan itu, ' cecar Radik dalam hati.


Ia mengepalkan tangan seakan ingin segera melayangkan tinju nya pada Seruni. Tapi kali ini istri nya tidak ada di rumah melainkan berada di kediaman orang tua nya. Radik tak mungkin datang kesana apalagi dengan niat ingin memberi pelajaran lagi pada Seruni.


Radik memasuki ruangan, mengemasi semua barang-barang milik nya. Usai semua terkemas ia pun berlalu dari gedung kantor yang sudah lama menjadi tempat nya bekerja, namun kini dia sudah tak bekerja lagi di sana karena suatu hal yang tak masuk akal menurut nya.


Radik memasukan beberapa barang milik nya ke dalam mobil, lantas melajukan kendaraan nya membelah jalanan raya yang sudah mulai di padati oleh orang-orang dan kendaraan berlalu-lalang.


Radik terus berfikir mencari cara agar bisa menemui Seruni. Emosi nya seakan tak bisa di kendalikan dan ingin segera ia tumpahkan.


Beberapa menit kemudian ia sampai di rumah. Langkah nya tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.


Praang


Berkali-kali Radik melemparkan apa saja benda yang ada di hadapan nya, termasuk salah satu nya figura foto pernikahaan nya dengan Seruni. Beberapa guci dan hiasan rumah yang berjejer di atas lemari pun tak luput dari pelampiasan kemarahan nya.


Tak perduli dengan tangan yang sudah mengeluarkan darah segar, mengucur di setiap keramik berwarna putih.

__ADS_1


Kemarahan serta emosi mengalahkan rasa sakit akibat goresan benda pecah belah yang ia hancurkan.


__ADS_2