
Semalaman Seruni tak bisa tidur karena kondisi Radik yang kian memburuk.
Seruni pun memutuskan untuk mengajak Radik pergi ke dokter. Seruni membopong Radik ke dalam mobil, pria itu terlihat lemas dan tak bertenaga hingga Seruni lah yang akan mengendarai mobil tersebut.
Mobil hitam itu pun melaju membelah jalan raya, sesekali Seruni melirik Radik yang terkulai lemas di jok sebelahnya.
Lima belas menit kemudian mereka pun sampai di depan Rumah Sakit. Seruni segera masuk ke lobi meminta bantuan perawat agar membawa kursi roda untuk Radik.
Tak lama kemudian seorang perawat membawa Radik dengan menggunakan kursi roda menuju ruangan, sementara Seruni mengurus pendaftaran di lobi.
Seruni bergegas menyusul Radik dan perawat tadi setelah menyelesaikan pendaftaran pasien.
Radik di baringkan di sebuah ranjang dan di periksa oleh Dokter bernama Louis. Seruni duduk di kursi yang berada di ruangan itu, memperhatikan Dokter Louis yang tengah memeriksa suami nya.
'' Kami harus melakukan cek laboratorium, '' ucap Dokter Louis seraya mengambil darah di tangan Radik.
Radik hanya terdiam pasrah, saat ini seluruh tubuh nya terasa sakit dan remuk. Setelah mengambil darah, Dokter Louis pun memasang infus agar Radik tidak kekurangan cairan. Seorang perawat pun memberinya obat agar menurunkan demam dan meringankan rasa sakit.
'' Tunggu sebentar sampai hasil tes nya keluar, '' terang Dokter Louis.
''Baik, makasih Dok, '' Ucap Seruni.
Dokter Louis dan seorang perawat pun keluar dari ruangan menuju laboratorium.
Seruni menghampiri Radik yang sudah mulai tertidur setelah sebelumnya di beri obat oleh perawat. Sesekali punggung tangan wanita itu menyentuh kening Radik, memastikan suhu tubuh nya turun.
Tubuh Seruni yang baru saja pulih pun terasa letih setelah seharian kemarin mengurus Radik, apalagi semalam ia sampai bergadang. Hingga kini mata nya terasa berat, Seruni mulai tertidur di kursi dekat ranjang Radik.
Beberapa jam kemudian seseorang masuk, suara pintu dan langkah kaki nya membuat Seruni terbangun. Rupanya Dokter Louis yang datang dengan membawa selembar kertas.
'' Gimana Dok, suami saya sakit apa ? '' Seruni beranjak dari duduk setelah melihat Dokter Louis.
'' Suami anda mengidap penyakit HIV aids, '' raut muka Louis sangat serius menanggapi penyakit yang di derita pasien nya. Louis menyerahkan hasil uji lab ke tangan Seruni.
'' Apa ? '' Seruni terkejut tak percaya, Radik pun terbangun karena mendengar suara Seruni yang sedikit kencang.
__ADS_1
'' Ada apa ? Dok saya sakit apa ? '' tanya Radik meringis karena rasa sakit yang masih terasa di tubuh nya.
Louis dan Seruni saling bertukar pandang, namun sebagai Dokter tentu nya Louis tak mungkin menyembunyikan riwayat penyakit yang di derita pasien.
'' Anda terkena HIV aids, '' tutur Louis.
Sontak Radik mengusap kasar wajah dengan kedua telapak tangannya. Mencengkram rambut, seraya mengingat semua yang telah ia lakukan selama ini.
Ia teringat pada Bunga si wanita penghibur yang sudah lama menjadi kekasih gelap nya. Radik yakin dialah yang sudah menularkan penyakit , karena tak mungkin Seruni istrinya mengidap penyakit itu.
Louis menganjurkan agar Radik lebih menjaga daya tahan tubuh nya. Banyak beristirahat dan pola hidup sehat. Louis memberi beberapa resep obat untuk nanti di tebus di apotik. Louis pun keluar dari ruangan itu.
'' Bunga, ini pasti karena wanita j*lang itu. '' Geram Radik seraya beranjak dari pembaringan. Tubuh nya memang masih sangat lemah namun dia harus segera menemui wanita itu. Emosi nya mulai membuncah seakan tak dapat terbendung lagi.
Seruni berusaha menenangkan Radik, walau pun hatinya kini kembali merasakan sakit teramat dalam. Bagaimanapun ia harus menguatkan Radik di saat seperti ini, dukungan dari orang terdekatlah yang bisa memberinya semangat melawan penyakit yang di derita.
'' Sabar Mas, sekarang kamu tidur dulu, '' sergah Seruni.
Namun Radik tetap bersihkeras melepaskan jarum infus yang terhunus di lengan nya.
'' Aku akan mendatangi wanita itu, '' murka Radik.
Obat yang di berikan perawat tadi sedikit meringankan pegal-pegal di tubuh, dan demam nya pun mulai turun mungkin ini hanya efek sementara dari obat tersebut.
Radik keluar dari ruangan menuju tempat parkir, Seruni terus mengekor di belakang. Beberapa orang di sekitar lobi menatap heran mereka berdua yang nampak terburu-buru pergi.
'' Mas tunggu, kamu harus istirahat, '' ucap Seruni menahan langkah Radik saat sampai di depan mobil.
'' Minggir, '' teriak Radik yang sudah tersulut emosi.
'' Baik aku antar kamu, tapi biar aku saja yang menyetir, lebih baik Mas masuk di jok belakang agar bisa sambil istirahat. '' ucap Seruni khawatir.
Tanpa menjawab Radik pun menuruti perintah Seruni. Ia masuk ke pintu belakang mobil.
Seruni pun melajukan mobil menuju kontrakan Bunga. Radik menunjukan arah jalan ke tempat dimana Bunga tinggal.
__ADS_1
Perasaan Seruni kacau, sungguh konyol saat ini rasanya karena harus datang ke tempat Bunga, wanita yang sudah merusak rumah tangga nya. Apalagi kali ini ia akan mengantarkan suami nya kesana.
Seruni terus berperang dengan isi kepalanya. Belum lagi tentang penyakit yang di derita Radik. Bukan tak mungkin ia sendiri pun terkena penyakit yang sama, karena ia ingat betul sudah pernah melakukan hubungan intim beberapa hari lalu saat hubungan mereka membaik.
Rasanya kepala Seruni akan pecah memikirkan semua itu. Bagaimana dengan Keysha putri nya ? Itu yang sangat ia khawatirkan.
Mobil mereka pun sampai di depan kontrakan Bunga. Radik bergegas turun dari mobil, Seruni masih ragu ia hanya termenung di depan stir menatap nanar punggung suaminya lewat kaca mobil.
Seruni masih shock dengan semua ini. Netra nya melihat Radik memasuki rumah wanita itu, hati Seruni kembali tersayat hingga butiran bening pun memenuhi mata nya dan terjatuh di pipi.
Brraaaakkk
Radik membuka paksa pintu kontrakan Bunga. Mata nya membulat sempurna melihat Bunga dan Billy tengah bermesraan di sana.
'' Dasar j*lang, '' Radik menarik tubuh wanita itu dan melemparnya ke lantai hingga tersungkur.
'' Bro.. '' Billy gelagapan seolah tak ada kata yang bisa ia ucapkan saat kepergok oleh Radik sahabat nya.
Billy menyangka Radik marah karena melihatnya bermesraan dengan Bunga.
'' Jadi begini kelakuan kalian di belakang ku ? '' tegas Radik dengan nada tinggi.
'' So-sorry bro ini semua bisa aku jelasin, '' ucap Billy.
'' Mas, ini salah paham aja, '' Bunga kini bangkit dan mulai merayu Radik.
'' Berhenti, jangan dekati aku. '' Radik menahan langkah Bunga yang hampir mendekat ke arah nya hingga wanita itu berhenti.
'' Gara- gara kamu, sekarang aku jadi mengidap penyakit mematikan. Dasar perempuan iblis, mur*han, cih . '' Desis Radik.
'' Apa ? '' Billy sedikit tak mengerti maksud ucapan Radik barusan.
'' Iya gara-gara j*lang satu ini aku terkena HIV, kalau kau mau ambil saja sampah ini,'' cemooh Radik membuat Billy terkejut pasalnya ia pun bisa di pastikan terkena virus tersebut.
'' Jangan asal nuduh ya, '' tepis Bunga membela diri karena memang dirinya belum merasakan gejala apapun. Padahal penyakit itu sudah bersarang di tubuh nya, hanya saja gejala yang dialami berbeda-beda bahkan mungkin penyakit itu belum di sadari oleh nya.
__ADS_1
'' Awas saja kamu, aku sumpahin kamu mati secepatnya, '' Radik yang tak ingin menyentuh Bunga pun segera pergi karena merasa jijik pada wanita itu.
Sementara Seruni masih berada di mobil menatap Radik yang baru keluar dari kontrakan Bunga. Samar suara perkelahian mereka tedengar oleh Seruni, ia sendiri tak mau tau apa yang mereka bicarakan. Yang pasti saat ini hatinya hancur sekali.