
Radik membanting pintu saat memasuki mobil, membuat Seruni yang tengah melamun pun tersentak.
'' Kita pulang, '' ujar Radik masih menekuk wajah nya.
Seruni mengangguk pelan, ia mulai melajukan mobil. Sesekali Seruni melihat Radik lewat kaca spion, wajah Radik nampak pucat saat ini.
Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan antara mereka berdua, mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Hingga akhir nya mereka sampai di depan rumah.
Seruni membantu Radik turun dari mobil, raut muka Seruni nampak jelas sudah menangis dan Radik baru menyadari hal itu. Sedari tadi dia hanya memikirkan penyakit yang di derita nya, penyakit mematikan dari wanita s*alan menurut nya.
'' Seruni, '' seru Radik.
Seruni menoleh hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Tatapan mereka berdua beradu beberapa detik, Seruni segera membuang pandangan ke arah lain.
'' Maafkan aku, selama ini aku sudah berbuat banyak kesalahan. Please maafkan aku, '' Radik meraih dagu Seruni agar mata indah wanita itu menghadap pada nya.
Namun entah kenapa rasanya begitu hambar, tak ada desiran atau getaran dalam hati Seruni saat menatap Radik. Padahal dulu jelas-jelas Seruni sangat mencintai pria di hadapan nya ini, tapi kenapa saat ini ia sulit sekali menemukan rasa cinta itu kembali.
Yang ia temukan hanya sebuah luka yang berhasil di torehkan pria ini, serta pengkhianatan yang berujung nasib buruk menimpanya.
'' Sudah lah jangan bahas lagi, kita masuk kamu butuh istirahat. '' Seruni menuntun langkah Radik. Ekspresi datar Seruni barusan membuat hati Radik bertanya-tanya.
' Mungkinkah Seruni akan meninggalkan ku, atau dia akan meminta cerai nanti karena kondisi ku saat ini ? ' lirih nya dalam hati.
Radik berbaring di ranjang, Seruni menutupi setengah tubuhnya dengan selimut dan wanita itu pun berlalu sejenak.
Tak lama Seruni kembali dengan membawa baskom berisi air hangat untuk mengompres. Dengan telaten ia merawat Radik, walaupun tak keluar sepatah kata pun dari bibir Seruni.
Wanita itu hanya fokus merawat Radik, namun enggan untuk berbicara. Seakan banyak beban memenuhi fikiran nya.
'' Aku harus ke apotik, kamu butuh obat penurun panas. Tadi kita gak sempet beli karena terburu-buru ke tempat Bunga. Harus nya kamu fikirkan dulu kesehatan kamu, Mas. '' kali ini Seruni baru angkat bicara setelah beberapa menit terdiam seakan mengunci mulut nya.
'' Iya,, makasih sudah merawat ku, '' Radik menggenggam jemari Seruni dan menatap lekat mata indah itu.
__ADS_1
'' Aku sekalian nengokin Keysha dulu, Mas. Ada beberapa barang juga yang harus aku bawa di sana. Aku tinggal dulu ya, '' Seruni segera berdiri dan melepaskan genggaman Radik.
Seruni meraih tas kecil di atas meja rias, dan bergegas menuju pintu keluar dari kamar tersebut.
Radik tiba-tiba saja memanggil dan menghentikan langkah nya.
'' Seruni tunggu, '' sahut Radik.
Seruni membalikan badan.
'' Ambil atm ku, kamu pasti butuh untuk beli obat kan. Sekalian juga belikan kebutuhan untuk Keysha. '' tutur Radik sambil menyodorkan kartu atm yang baru ia ambil dari dompet nya.
Seruni melangkah kembali ke arah pria itu, meraih atm dari tangan Radik tanpa bersuara sedikit pun. Memang benar saat ini Seruni tak memegang cukup uang karena pemberian Radik sudah mulai menipis apalagi jumlah yang ia berikan pun memang tak seberapa.
Jadi menurut Seruni tak ada salah nya menerima atm itu lagi pula untuk kepentingan Radik sendiri dan Keysha anak nya.
'' Pin nya 300494, '' ujar Radik.
Seruni pun segera berlalu dari hadapan nya. Radik hanya terdiam menatap kepergian Seruni.
Dalam hati pria itu di penuhi penyesalan. Sudah terlalu banyak luka yang ia torehkan pada istri nya.
Berkali-kali Seruni menerima perlakuan kasar, bahkan sebuah tamparan pun sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari wanita itu.
Radik teringat semua perlakuan nya terhadap Seruni selama ini. Belum lagi pengkhianatan yang telah ia perbuat, wanita mana pun pasti akan pergi meninggalkan laki-laki seperti nya.
Tapi tidak dengan Seruni, berkali-kali ia di kecewakan, di sakiti, di aniyaya bahkan di khianati oleh nya tetap saja wanita itu memberi kesempatan untuk nya merubah sikap. Memperbaiki semua nya, namun apa yang Radik lakukan ? Malah diri nya tak segan memfitnah Seruni berhubungan dengan Dirga ataupun Seno.
Terlalu banyak kesalahan yang ia perbuat pada Seruni hingga kini saat diri nya berada di posisi terendah sekalipun Seruni tetap menemani dan merawat nya.
Jika wanita di luaran mungkin sudah pergi jauh-jauh hari apalagi sekarang Radik seorang pengangguran dan pesakitan, hal ini lah yang semakin menyiksa hati Radik.
Ia takut Seruni tinggalkan, ia takut kehilangan istri nya. Memikirkan semua itu membuat kepala Radik semakin sakit. Ingin sekali ia tidur dan melupakan semua nya namun sulit sekali. Bahkan ia berharap saat bangun nanti ini hanya sebuah mimpi buruk untuk nya, tapi sayang nya ini adalah kenyataan pahit yang harus ia terima.
__ADS_1
.
.
Sementara Seruni baru sampai di rumah Wirya. Wajah nya terlihat murung, membuat Susi ibunda nya sedikit heran melihat ekspresi Seruni.
'' Kamu pasti lelah kan mengurus Radik, gimana keadaan nya sekarang ? '' tanya Susi seraya duduk di samping putri nya.
Sementara Wirya tak perduli dengan keadaan Radik, beliau tampak acuh karena kesal pada Seruni yang masih saja berkorban banyak untuk laki-laki macam Radik.
'' Mas Radik... '' Seruni menghentikan ucapan nya, kini air mata mulai membasahi pipi.
Pandangan Susi dan Wirya saling beradu, merasa heran dengan respon Seruni seperti ini. Mereka juga cemas takut terjadi sesuatu pada putri nya itu, khawatir Radik kembali menyakiti Seruni.
'' Apa dia berulah lagi ? '' tegas Wirya mulai berbicara. Namun Seruni menggelengkan kepala pelan masih sambil terisak tak mampu berucap.
'' Kamu kenapa, Nak ? '' Susi membelai rambut Seruni.
Seruni menghela nafas dalam-dalam, mengusap air mata yang membasahi pipi nya, mulai mengatur pita suara nya agar tak serak karena menangis.
'' Mas Radik mengidap HIV, '' lirih Seruni merundukan kepala tak berani menatap kedua orang tua nya.
Ucapan Seruni barusan bak petir di siang hari, membuat Wirya merasa sesak hingga memegangi dada nya. Sementara Susi terbelalak tak percaya.
Bukan karena mengkhawatirkan keadaan Radik, tapi kali ini Seruni lah yang mereka cemaskan. Bagaimanapun Seruni dan Radik adalah sepasang suami istri yang pastinya melakukan hubungan intim.
Bukan tak mungkin Seruni juga tertular penyakit yang di derita Radik. Meski itu baru sekedar dugaan mereka saja, namun tak menutup kemungkinan semua itu terjadi.
'' Astaghfirullah,, '' Susi menutup mulutnya yang sedikit terbuka.
'' Lebih baik kalian bercerai, Bapak tak mau nasib kamu sama seperti nya. Kamu harus segera memeriksakan diri, meyakinkan kalau benar-benar tak tertular penyakit lelaki baj*ngan itu, '' ucap Wirya dengan nada suara tinggi masih sambil menepuk-nepuk dada nya yang sesak.
Seruni terkejut mendengar penuturan Wirya. Tangis yang sedari tadi ia tahan kini kembali membanjiri wajah cantik wanita itu, begitupun Susi tak bisa menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar.
__ADS_1