
Keadaan Maria sudah mulai membaik, untung saja Dirga cepat melarikan nya ke rumah sakit. Ia di tangani oleh dokter spesialis dalam terbaik di rumah sakit tersebut.
'' Mana Dania dan yang lain nya ? Bagaimana pesta pertunangan kalian ? '' tanya Maria setelah siuman.
'' Mama jangan mikirin apa-apa dulu, yang penting sekarang Mama sembuh. '' Dirga menempelkan telapak tangan Maria di pipi nya.
'' Tapi Dirga, '' ucapan Maria terhenti.
'' Ssstt.. mereka bukan keluarga baik-baik. Mereka hanya ingin harta kita, Mam. Bukti nya setelah Dirga berikan sejumlah uang pun mereka menerima nya. '' Sela Dirga meyakinkan pada Maria bahwa keluarga Yudha hanya menginginkan materi.
'' Apa ? '' Maria meringis.
'' Tuh udah Dirga bilang, Mama jangan mikirin hal yang gak penting, biar aku yang urus. Sekarang Mama hanya tinggal memikirkan kesehatan Mama sendiri, Mama harus kuat jangan buat Dirga khawatir, '' ujar nya.
Maria tak menyangka jika keluarga Yudha rupanya hanya mengejar harta mereka, padahal ia sudah menaruh harapan besar pada Dania untuk bisa menjadi pendamping putra semata wayang nya.
Dirga pun memutuskan untuk membawa Maria kembali ke Kalimantan sementara waktu, guna menghindari keluarga Yudha. Ia akan memerintahkan Nalendra agar menjemput Maria. Sedangkan Dirga masih harus di kota ini karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Selain itu ia pun akan membantu proses perceraian Seruni, ia akan menyewa pengacara untuk menangani perceraian Seruni dan Radik.
.
.
Beberapa hari kemudian kondisi Maria sudah mulai membaik, dia pun segera terbang ke Kalimantan dengan di temani Nalendra.
Sepupu Dirga tersebut sengaja datang untuk menjemput Maria, setelah sebelumnya di perintahkan oleh Dirga.
Di sana Maria akan tinggal bersama Nalendra dan keluarga besar nya di Kalimantan. Jadi Dirga tak perlu khawatir saat dia jauh dengan Maria, Dirga tak bisa ikut bersama nya saat ini dengan alasan masih banyak urusan pekerjaan yang memerlukan diri nya. Jimmy tak bisa menghandle semua pekerjaan tanpa Dirga.
__ADS_1
Sementara Seruni mulai sibuk mengurus perceraian nya dengan Radik. Ia mulai mendatangi pengadilan agama untuk mengajukan gugatan perceraian.
Lasri sudah memberitahu Seruni jika Dirga akan menyewakan pengacara untuk nya. Dengan di antar Robi kuasa hukum nya ia datang ke Pengadilan Agama. Setelah semua berkas di lampirkan ke Pengadilan Agama, selanjutnya giliran Robi yang akan membereskan semua nya agar proses perceraian Seruni bisa secepatnya tuntas.
Saat ini Seruni dan Dirga sering berkomunikasi via telepon ataupun chat, bahkan sesekali mereka pun bertemu jika Dirga sedang tidak sibuk.
Hubungan keduanya semakin dekat, apalagi Seruni sekarang mulai tau jika tak akan ada lagi perjodohan antara Dirga dan Dania. Dirga menceritakan semua nya pada Seruni begitupun tentang kondisi Maria Mama nya.
Sementara Robi mengurus perceraian Seruni, Dirga mengajak wanita itu untuk mengecek ulang kondisi kesehatan nya.
Dirga masih sangsi dengan hasil test yang di lakukan Seruni beberapa waktu lalu, karena setelah ia mencari tau perihal penyakit tersebut, ia menemukan banyak kasus kesalahan test laboratorium. Bisa saja hasil test Seruni pun tidak akurat karena beberapa faktor, apalagi tak ada gejala yang di alami Seruni seperti penderita HIV pada umum nya.
Dirga meminta pada pihak Rumah Sakit agar melakukan test yang paling akurat, meski harus menunggu cukup lama hasil test itu keluar. Dirga selalu menguatkan Seruni, dan meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
'' Makasih kamu sudah banyak membantu ku, '' ucap Seruni yang saat ini tengah berada di restoran bersama Dirga.
'' Sama-sama, aku ikhlas melakukan apapun untuk mu, '' ucap Dirga lembut dengan tatapan yang menusuk ke jantung wanita di hadapan nya.
Belum resmi menjadi pasangan pun Seruni sudah sangat bahagia sekali bersama Dirga di dekat nya. Ia merasakan cinta yang tulus dari pria itu, ia percaya Dirga tak akan pernah melukainya.
Dari kejauhan seseorang memperhatikan mereka berdua. Dania saat itu sedang berada di restoran yang sama dengan Dirga dan Seruni, ia bersama kedua teman nya memperhatikan kedua sejoli yang tengah makan siang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Dania mengepalkan tangan melihat kemesraan antara Seruni dan Dirga, rasa nya ingin sekali melabrak wanita yang sudah merebut calon tunangan nya itu.
Dania pun berdiri dari duduk, ia berjalan ke arah Seruni dan Dirga berada dengan di ikuti kedua teman nya yakni Citra dan Rani.
Suara tepukan tangan Dania menyadarkan kedua nya yang tengah asyik menikmati makan siang mereka. Bahkan berhasil mengundang banyak mata menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
'' Wah..wah..wah..mesra sekali kalian ya, seorang pengusaha muda berkencan dengan wanita yang masih bersuami. Apa kata orang-orang jika mengetahui pemilik Cakra Dirgantara menjadi seorang pebinor, '' celoteh Dania bak orang tak berpendidikan mempermalukan mereka di depan umum.
Beberapa orang yang duduk dekat dengan mereka pun mulai mendengarkan ocehan Dania, siapa yang tak mengenal perusahaan besar milik Dirga.
Kedua pasangan itu pun kini menjadi pusat perhatian beberapa tamu restoran, apalagi saat ini Dirga mulai berdiri berhadapan dengan gadis yang sudah mencoreng nama baik nya.
'' Jangan sembarangan kalau bicara, '' geram Dirga setengah berbisik hingga beberapa orang yang di sana menajamkan pendengaran mereka agar ucapan si pemilik Cakra Dirgantara itu terdengar.
'' Kenapa ? Malu ? '' Dania masih saja berusaha memancing emosi pria di hadapan nya.
'' Sudah, sudah. Lebih baik kita pergi dari sini, '' ujar Seruni pada Dirga. Ia mulai risih jadi tontonan para tamu restoran.
'' Dasar perempuan gak tau malu, sudah berani merebut calon tunangan ku. Apa kamu tak punya kaca di rumah hingga berani mendekati Kak Dirga yang kasta nya jauh berbeda dengan mu, '' ejek Dania.
'' Diam ! Berani kau rendahkan lagi Seruni maka aku takan segan merobek mulut mu, '' Dirga mulai tersulut emosi.
'' Cukup, tak perlu ladeni dia. Ayo kita pergi. '' Seruni segera menarik lengan Dirga, walaupun sebelum nya Dirga sangat sulit beranjak dari sana karena masih belum puas jika tidak memberi pelajaran pada gadis itu.
Dania tersenyum sinis seraya melipat lengan menatap kepergian mereka berdua. Begitupun Rani dan Citra yang ikut-ikutan menatap mereka dengan penuh kebencian.
Setelah Dirga dan Seruni lenyap dari pandangan, ia pun menghentakkan kaki nya kesal.
'' Ini gak bisa di biarkan, mereka malah semakin lengket saja. Aku heran sama si Radik suami perempuan itu, kok bisa-bisa nya kecolongan bini nya sendiri. '' Dania menepuk kening dan mendengus kesal.
'' Jangan-jangan mereka sekongkol tuh, ada kan suami istri sekongkol buat bisa dapatin harta kekayaan. Bisa jadi tuh Seruni sama suami nya kerjasama buat morotin Dirga, iya gak ? '' cetus Citra sok tau.
'' Masa sih ? '' Rani mengerutkan kening.
__ADS_1
'' Aku harus temui Radik, '' Dania menatap lurus ke depan, otak licik nya mulai kembali bekerja keras untuk menyusun rencana baru.