
Hampir satu jam Seruni juga Dirga menunggu perkembangan Radik. Pria itu belum juga sadar dari pingsan.
Seruni makin mengaggumi sosok Dirga yang mau mengerti situasi yang terjadi saat ini. Tak mungkin jika Seruni meninggalkan Radik begitu saja. Apalagi Paman dan Bibi Radik baru akan datang esok hari, mengingat jarak dari kota mereka cukup jauh.
Tiba-tiba Radik mulai membuka mata nya perlahan. Ia meringis seakan menahan sakit yang entah dibagian tubuh mana, Seruni segera mendekat sedang Dirga segera keluar memanggil perawat dan Dokter.
'' Se-runi ? '' kata Radik terbata-bata, ia baru sadar jika diri nya tengah berada di ruang Rumah Sakit setelah beberapa saat mengedarkan pandangan.
'' Iya, aku di sini, Mas. Ada yang sakit ? Dirga sedang memanggil Dokter, tunggu sebentar ya. '' Seruni menatap wajah Radik yang tampak pucat pasi.
Mata Radik mulai berkaca-kaca, ia meraih jemari Seruni menggenggam nya erat. Dan menatap lekat mata Seruni yang terkejut akan perlakuan nya.
Rasa nya Seruni ingin menepis lengan Radik, namun ia tidak tega apalagi keadaan Radik sangat lemah seperti ini.
'' Apa yang terjadi pada ku Seruni ? '' tanya Radik.
'' Kata Dokter, Mas Radik di temukan pingsan di mobil di tepi jalan raya. Untung saja beberapa orang yang ada di sana membawa Mas kesini. Mungkin kelelahan, harusnya Mas lebih menjaga kondisi kesehatan. '' Raut wajah Seruni terlihat mengkhawatirkan diri nya, membuat Radik semakin merasa menyesali semua perbuatan nya dulu.
'' Maafkan aku Seruni. Selama ini aku selalu menyakiti mu, aku frustasi dengan proses perceraian kita hingga aku tak perduli akan apapun yang terjadi pada diri ku. Aku tak perduli meski penyakit itu terus menggerogoti ku, yang aku ingin kamu kembali pada ku. Menemani ku, yang mungkin sudah tak punya banyak waktu lagi untuk hidup di dunia ini, '' pinta Radik memelas.
Seruni membuang wajah nya seakan ingin menyembunyikan mata yang sudah berkaca-kaca hingga air mata itu pun berhasil turun dari sudut mata nya.
Seruni sudah memaafkan semua perbuatan Radik semasa mereka masih tinggal serumah, namun setelah Seruni mengetahui persekongkolan Radik dan Dania beberapa waktu lalu membuat tekad nya makin bulat untuk bercerai dari suami nya.
Bisa-bisa nya Radik mengatakan hal seperti tadi, padahal jelas-jelas Radik sudah melakukan kesalahan yang kian fatal. Bukan tak mungkin Radik kembali menodai pernikahan mereka dengan melakukan hubungan tak pantas dengan Dania.
__ADS_1
Kini ia malah menginginkan Seruni menerima nya kembali setelah apa yang ia lakukan pada Seruni. Seruni benar-benar tak habis pikir dengan sikap Radik.
Belum Seruni menjawab perkataan Radik barusan, Dirga masuk ke ruangan itu bersama Dokter setelah sebelum nya Dirga mendengar ucapan Radik pada Seruni yang membuat hati nya terasa terbakar.
Seruni segera menepis genggaman tangan Radik, ia melangkah mundur saat Dokter akan memeriksa Radik.
Seruni menatap Dirga yang kini tengah menatap nya penuh tanya, tatapan mereka saling beradu. Dirga sangat takut kehilangan Seruni, ia khawatir jika Seruni akan memaafkan Radik dan kembali pada suami sah nya. Bahkan mungkin membatalkan perceraian mereka, berbagai asumsi berkecamuk di benak Dirga.
Ia benar-benar tak rela melihat Seruni menjatuhkan air mata nya lagi, setelah beberapa waktu dekat dengan wanita itu. Baru kali ini lagi Dirga melihat air mata pilu berdesakan di mata indah Seruni.
Apakah Seruni akan merelakan kebahagiaan nya demi kesehatan Radik ? Pertanyaan itu yang terus menyesakan dada Dirga.
Antara Seruni maupun Dirga tak saling bicara saat ini, apalagi di hadapan Radik. Mereka lebih memilih diam dan saling tatap saja, dengan luka dan rasa sakit di hati masing-masing.
'' Untuk beberapa hari anda di rawat di sini dulu, kami akan memantau kondisi kesehatan anda secara berkala, '' ucap Dokter.
'' Sebenarnya apa yang terjadi Dok ? Apa ini ada hubungan nya dengan penyakit yang ku derita ? Apa hidup ku sudah tak lama lagi ? '' tanya Radik pesimis, namun seakan mengharapkan belas kasihan dari Seruni agar wanita itu luluh dan kembali bersama nya.
Dokter terdiam sejenak, kemudian kembali berkata, '' Kami akan berusaha semaksimal mungkin. ''
Secara tidak langsung jawaban Dokter membenarkan ucapan Radik, meski kemudian memberi nya sedikit harapan untuk Radik berjuang melawan penyakit yang di derita nya. Walau sepertinya harapan itu sangat tipis.
Dokter meninggalkan ruangan tersebut, sebelum nya ia meminta agar Seruni datang ke ruangan nya untuk membahas kondisi Radik.
Seruni pun mengikuti Dokter tersebut, sementara Dirga menunggu Radik di sana. Suasana hening seketika saat tinggal mereka berdua di ruangan itu.
__ADS_1
'' Makasih udah membantu ku, '' ucap Radik memecah keheningan. Ia berbicara tanpa menoleh ke arah Dirga yang kini berdiri tak jauh dari ranjang nya.
'' Iya, sama-sama. '' Jawab Dirga singkat.
'' Kau dengar tadi apa kata Dokter ? Hidupku kemungkinan sudah tak lama lagi, aku harap kamu mundur dan menjauh dari Seruni. Biarkan aku menghabiskan masa terakhir ku bersama nya, '' lirih Radik.
Dirga menghela nafas panjang, ia menatap tajam pria yang terbaring lemah di hadapan nya.
'' Aku mencintai Seruni, tak mungkin jika aku mundur membiarkan Seruni kembali masuk ke dalam belenggu yang menyiksa batin nya. Jika memang kamu mencintai Seruni, jangan egois dengan menjadikan penyakit mu sebagai alasan untuk memiliki nya. Biarkan Seruni menentukan pilihan nya sendiri, bebaskan dia, biarkan dia bahagia, '' jelas Dirga.
'' Apa kau tak merasa begitu egois dengan cinta mu pada Seruni ? Hingga kau membiarkan aku yang pesakitan ini di tinggalkan begitu saja oleh istri ku sendiri. Sekarang kesalahan bukan hanya pada ku tapi juga pada Seruni, yang memiliki hubungan dengan pria lain padahal belum resmi bercerai. '' Radik membalas tatapan Dirga.
'' Seruni tidak salah, kalau pun kedekatan kami suatu kesalahan maka kesalahan mu lah yang lebih besar daripada kami. Aku hanya membantu dia terlepas dari keterpurukan yang selama ini, hampir saja merelakan kebahagiaan nya tergadaikan hanya demi pria tak tau diri seperti mu, '' desis Dirga.
Seruni masuk ke dalam ruangan tanpa mereka sadari jika wanita itu mendengar perseteruan mereka.
Mata sayu wanita itu kian di banjiri oleh linangan air mata. Membasahi wajah cantik nya hingga terlihat sendu.
'' Mas Dirga, sebaiknya kamu pulang. Aku akan tetap di sini menjaga Mas Radik sampai Bibi dan Paman nya datang, '' ucap Seruni dengan berat hati.
Tentu saja perkataan Seruni mengejutkan Dirga, seakan menusuk relung hati nya. Secara tidak langsung Seruni menyetujui permintaan Radik untuk menemani sisa hidup laki-laki itu.
Sementara Radik tersenyum dalam hati, ia senang akhirnya Seruni luluh juga. Ia merasa menang melawan Dirga. Dalam kondisi nya yang sudah tak berdaya ini, masih saja Radik berpikiran picik. Tak perduli dengan penyakit yang di derita, tak perduli dengan seberapa lama lagi diri nya hidup di dunia ini. Yang pasti ambisi nya untuk merebut Seruni membuat nya lupa akan segala hal.
Radik terlalu egois, sangat egois hingga ia tak akan pernah membiarkan Seruni jatuh ke tangan laki-laki lain. Dia tak pernah memikirkan perasaan wanita itu. Bukan cinta yang membutakan diri nya melainkan sebuah ambisi semata.
__ADS_1