
Kisah cinta barteran ini dimulai karena aku naksir Sarah, adiknya Bawon. Kisah asmara yang apes, nggak bertahan lama. Sarah memutuskan hubungan begitu saja. Sekarang tinggal aku sendiri, merasa kehilangan separuh jiwaku, tapi bodoh, ah. Dunia ini tidak selebar taplak meja. Masih banyak cewek-cewek cakep di luar sana dan hidup harus terus berputar. Masa iya kalah sama gangsingan? Meskipun aku ditinggalkan Sarah, biarkan saja. Aku nggak perlu mati karena dia, tak perlu! Nehi, nehi ....
Wait! Bukankah aku punya ribuan teman di facebook? Mana ceweknya cakep-cakep lagi. Masa iya, satu dari mereka nggak ada yang nyangkut dan bisa kujadikan pacar sebagai pengganti Sarah? Tutup akun saja kalau begitu, malu-maluin! Aku berusaha menguat-nguatkan hati yang kata lagu melayu dangdut seperti cermin jatuh ke lantai. Remuk redam berkecai. Walah, mellow amir! Rasa sakit dan kecewa itu manusiawi, tapi janganlah keterusan, kalau orang Malaysia bilang, berkekalan. Hahahaha ... pret!
__ADS_1
Meski aku berusaha untuk melupakan saat-saat indah bersama Sarah, tetap saja bayangan cewek itu meraja di hatiku. Ingat dulu, bagaimana sulitnya aku meyakinkan Bawon, kakak lelakinya Sarah agar dia merelakan adiknya kupacari. Bukankah di dunia persahabatan ada peraturan tak tertulis, dilarang memacari adik teman sendiri? Itu sama saja dengan pagar makan rumput! Ah, namanya juga cinta? Siapa yang tau dia datang dari mana? Apa dari mata turun ke hati atau dari hati naik ke mata. Who knows?
Aku keukeuh nembak Sarah yang ternyata naksir juga sama aku. Gayung bersambut dan jadilah aku pacaran dengan cewek berkulit putih mulus itu, tapi memang dasarnya Bawon punya bakat pedagang kayak mamanya, dia nggak mau jadi jomblo sendirian sedangkan aku sudah punya pacar. Maka sistem dagang jaman dulu pun berlaku bagi kami, barter adalah jalan yang tepat. Win win solution. Adik angkatku, Mediana Sri Wulandari jadi pacarnya Bawon dan Sarah jadi pacarku. Begitulah ....
__ADS_1
Sarah yang masih SMU kelas satu--sebutan kerennya kelas sepuluh--menolak tunangan. Katanya model-model begitu udah nggak jaman, mending pacaran saja. Aku ngajak Sarah back street kalau nggak mau tunangan, tapi dia menuduhku nggak gentle beud! Beraninya macarin anak orang sembunyi-sembunyi kayak gitu. Akhirnya kami putus dan Sarah meninggalkanku. Menang banyak si Bawon, dia masih tetap pacaran sama Mediana, malah makin mesra. Aku yang nganggur. Program barter itu menguntungkan Bawon, aku yang bangkrut!
Ya, sudahlah. Mau diapain lagi? Nasi sudah jadi bubur mau dibikin lontong juga nggak bisa. Sarah pergi siapa tau Chelsea Islan yang dateng? Eh, dia udah punya pacar apa belon, sih? Nggak taulah, aku jarang nonton infotainment. Takut jadi tukang gibah, men! Lagian cowok kok, tongkrongannya infotainment? Melohay banget!
__ADS_1
Akhirnya aku memang patah hati. Rasanya seperti dunia ini mau runtuh, masih mending kalau durian yang runtuh bisa dikirim ke pasar buah. Whatever-lah, putus cinta itu memang nggak enak, titik! Makanya ada kalimat bijak yang berbunyi: Serahkan hatimu separuhnya saja dan kalau jatuh cinta, cintailah dengan ala kadarnya. Ya, kalau emas ada yang kadarnya 22 karat, 24 karat. Kamu jatuh cinta aja satu gram, berapa karatnya terserah asal jangan karatan itu namanya cinta kadaluwarsa. Salam super! Lho?!