MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
PERTEMUAN yang HANGAT


__ADS_3

Kenia tertawa gelak-gelak. Bahunya sampai ikut terguncang.


"Siapa yang bisa melupakan anak rumahan seperti kamu. Baru jam tujuh malam saja sudah ditelepon sama Mama, disuruh pulang!"


Kampret! Masih ingat juga dia soal itu. Aku merutuk dalam hati.


”Handphone kamu sudah di off-kan belum? Nanti ditelepon lagi sama Mama, disuruh pulang," ejek Kenia masih dengan tawanya yang berderai.


"Mau taruhan?" tantangku.


"Taruhan apa?" Kenia menatapku.


"Kita begadang sampai pagi pun, aku tidak akan ditelepon dan tidak disuruh pulang," ujarku yakin.


Kenia tersenyum saja.


"Kurang kerjaan apa, aku begadang sampai pagi sama kamu?"


Seorang pelayan mengantarkan pesanan Kenia semangkuk tomyam sea food. Aku tersenyum. Kenia sempat menangkap basah senyumku itu. Dia memberengutkan bibir dan menepuk punggung tanganku.


"Apa senyum-senyum?" protesnya.


"Pesanan kita selalu sama, ya? Aku tadi juga pesan tomyam seafood. Waktu dulu pertama kali bertemu, kita juga makan makanan yang serupa. Mie hijau, kan?" aku tersenyum lagi.


"Itu pertanda kalau kita jodoh!" ujar Kenia enteng.


Buset, deh! Cewek ini nyablak juga kalau ngomong, tapi kalau dipikir-pikir orang seperti dia memang lebih jujur. Bicaranya langsung-langsung saja tidak dengan metafora dan bersayap seperti puisi-puisi di koran minggu yang kerap membuat kening berkerut.


Pesananku datang kemudian. Kali ini Kenia yang tersenyum.


”Tuh, jodohnya sudah datang," Kenia mengerlingkan mata pada mangkuk tomyam yang ada di hadapannya.


"Pertanyaanku tadi belum dijawab," ujarku penasaran.


Kenia mengangkat wajahnya dan memandangku.


"Pertanyaan apa?"


"Kamu suka nongkrong di sini?" tanyaku sambil menyendok sedikit kuah tomyam, menikmati rasa asamnya yang segar dan meresap di lidah.


"Sekali-sekali," jawab Kenia tanpa memandangku.


"Kalau kamu, sering?' Kenia balas bertanya dan kali ini dia menatapku.


"Kalau dulu sering, waktu masih punya pacar," jawabku jujur.


Kenia terperangah. Ditatapnya mataku.

__ADS_1


"Oh, waktu masih punya pacar?" Kenia tertawa.


"Nggak lucu juga, ngapain ketawa," kesalku.


"Sejak pertama kali bertemu kamu, aku yakin kalau kamu itu unik!" suara Kenia terdengar serius.


Menurut Kenia lagi, dia belum pernah bertemu cowok yang minta nomor telepon, tapi merajuk ketika tidak dikasih. Kenia juga bilang baru sekali dia bertemu lelaki yang tersedak ketika merokok. Apalagi menjadi gugup dan takut ketika ditelepon oleh mamanya.


Aku mendengar dengan tekun apa yang diucapkan oleh Kenia. Dia seolah mengulang kembali kejadian di saat pertama kali kami bertemu dan berkenalan. Beberapa waktu yang lalu.


"Siapa bilang aku merajuk karena tidak dikasih nomor telepon?" aku membantah tuduhan Kenia.


Kenia tertawa pelan.


"Aku tahu kamu merajuk, ngambek. Jangan mungkir!"


"Aku bukan pemaksa. Kalau enggak dikasih ya, sudah."


"Merajuk kan itu namanya?" ejek Kenia.


"Terserahlah," ujarku mengalah.


Tanpa kuminta akhirnya Kenia memberi tahu nomor handphone-nya dan yang lebih mengejutkanku dia juga memberitahukan di apartemen mana dia tinggal, nomor pintu dan di lantai berapa. Luar biasa berani dan terbuka menurutku. Untuk orang yang belum begitu dikenalnya dengan baik, dia berani membuka diri seperti itu. Ah, Kenia. Seandainya saja aku seorang psikopat, apa yang akan terjadi padamu?


"Aku percaya padamu," ujar Kenia seolah tahu apa yang ada di pikiranku.


"Naluriku selalu betul," Kenia tersenyum.


Lalu kami bicara banyak dan saling membuka diri. Beban di pikiranku seolah hilang lenyap tanpa bekas. Ternyata asyik juga berbincang dengan Kenia. Dia orangnya ceplas-ceplos dan humoris. Aku sering ketawa dibuatnya. Baru kali inilah aku begitu terpesona dengan seorang perempuan. Kenia pintar mengatur irama pembicaraan dan selalu memahami topik yang dibicarakan sehingga suasana menjadi hidup. Kalau dibandingkan dengan Sarah, mantanku itu lewat! Dia cantik, tapi tidak sepintar Kenia kalau bicara. Mungkin dikarenakan faktor usia dan pengalaman. Kenia menarik, tapi Sarah menggemaskan. Itu bedanya


"Bagaimana setelah putus dengan Sarah, kamu jadi seperti perahu patah kemudi sekarang?"


"Mungkin," jawabku tak berusaha menutupi keadaan.


"Sudah berani melawan sama Mama dan jadi pemberontak?"


"Apa boleh buat?" ujarku enteng.


Kenia menghela napas. Ditatapnya mataku.


"Kalau begitu kamu tidak unik lagi."


Aku menatap mata Kenia.


"Biarlah, yang penting aku sudah dapat nomor ponsel kamu."


Kenia lagi-lagi memukul punggung tanganku. Senyumnya mengembang manis. Aku jadi merasa dekat dengannya.

__ADS_1


"Aku bisa ganti nomor," ancam Kenia.


"Bagaimana dengan alamat apartemen itu?" aku mengingatkan.


"Aku bisa pindah, kan? Di Medan ini ada banyak apartemen kelas bintang lima dan ada beberapa apartemen kelas menengah. Kamu akan kesulitan mencari jejakku," ancam Kenia lagi.


Aku terdiam. Kenia senyum-senyum merasa menang.


"Kenapa diam?"


"Kalau begitu kamu memang nggak niat berteman," ujarku pelan.


Kenia tertawa.


"Niatlah, aku niat banget berteman sama kamu".


Bagai tetesan embun pagi, jawaban Kenia itu membuat sejuk hatiku. Setidaknya sosok Kenia bisa sedikit melipur lara di hati.


"Kamu tahu nggak sejak pertemuan kita yang pertama itu, aku selalu datang ke tempat itu. Menunggumu untuk bertemu kembali. Menyesal juga kenapa aku tidak memberikan nomor handphone saat kamu memintanya. Aku hampir putus asa, kita tak akan bertemu lagi, tapi ternyata malam ini kita ketemu dan itu sangat membuatku senang. Penantianku tidak sia-sia," Kenia menutup kalimatnya dengan senyum.


Aku menarik napas. Sampai sebegitunyakah Kenia mengharapkan pertemuan denganku. Apa yang istimewa dari seorang Bono sehingga diperjuangkan begitu rupa? Kupandangi wajah Kenia Dinar Ayu. Dia masih tersenyum.


"Apa yang membuatku begitu istimewa?" tanyaku penasaran.


"Itulah yang kusebut unik. Di mataku kamu itu cowok langka!" lugas Kenia sambil menyudahi makan dan mereguk minuman lalu menyulut sebatang rokok.


"Katanya aku tidak unik lagi?"aku menyelidik.


Kenia mengembuskan pelan asap rokok dari bibirnya yang bagus.


"Kalau pun benar kamu telah jadi lain, keadaanlah yang membuatmu seperti sekarang. Bagiku kamu tetap saja menarik," ujar Kenia tenang.


"Terus?" tanyaku bodoh.


Kenia tertawa pelan sambil menjentikkan abu rokoknya.


"Ya, aku suka punya teman seperti kamu. Karena keunikanmu itu."


"Kamu juga unik," balasku memuji.


Kenia menatapku dengan wajah senang.


"Oh, ya? Kenapa kamu bilang aku unik?"


"Karena kamu merokok," jawabku polos.


"Sialan, kirain apa?" Kenia tertawa sambil mematikan puntung rokoknya ke dasar asbak.

__ADS_1


Pertemuan malam itu telah mendekatkanku dengan Kenia, perempuan berwajah indo yang usianya sepantaran dengan Kak Farah. Aku tidak tahu apa yang dicarinya dariku. Mungkin saja dia sama sepertiku, sedang patah hati karena ditinggal kekasih dan ingin mencari teman berbagi. Entahlah, tapi yang pasti aku senang berkenalan dan bersahabat dengannya. Perempuan cantik bernama Kenia Dinar Ayu.*


__ADS_2