
Wah, Kenia tambah cantik kalau sudah dandan. Pasti orang-orang yang melihat kami jalan berdua mengatakan betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan Kenia. Padahal aku cuma teman dan menumpang tempat tinggal di apartemennya. Makanya kalau menilai orang jangan dari luarnya saja, 90 persen pasti salah.
"Ini kunci, kamu bisa bawa mobil, kan?" Kenia memberikan kunci mobilnya padaku.
"Lucu saja rasanya kalau bepergian, cewek yang nyetir mobil," ujar Kenia sambil membuka pintu apartemen. Kami pun keluar berbarengan.
"Jadi salah satu kriteria lelaki pilihanmu, harus bisa bawa mobil?"
"Kalau aku hamil dan tiba-tiba harus melahirkan tengah malam, terus suamiku nggak bisa bawa mobil, bagaimana? Apa aku harus nunggu ambulan datang, keburu brojol anakku."
"Jauh sekali perumpaannya sampai ke sana," komentarku.
"Aku memang jauh berpikir ke masa depan. Bukan seperti kamu yang pikirannya pendek. Ada masalah dikit terus pergi meninggalkan rumah."
"Karena aku masih muda, baru 17 tahun."
"Aku juga masih muda, baru 20 tahun." ujar Kenia menyela.
"Keberatan aku menumpang?" ujarku merasa tersindir. Karena tadi Kenia menyinggung-nyinggung masalah aku lari dari rumah.
”Kok, ngomong begitu?" Kenia menoleh padaku.
Kami masih menyusuri koridor apartemen menuju pintu lift. Aku diam dan tak menanggapi Kenia.
"Kalau aku keberatan, sudah dari kemarin waktu di Pos Security itu aku menolakmu". ujar Kenia bernada kesal.
***
Di jalan aku menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Kenia duduk membisu. Salahku juga memang, kenapa meragukan niat baiknya menolongku memberikan tumpangan di apartemenya, tapi entahlah, akhir-akhir ini aku memang gampang sekali tersinggung dan menjadi perasa. Mungkin sudah jadi hukum alam, orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan dan kesusahan mudah sekali untuk sakit hati, marah dan mengamuk. Padahal sabar itu adalah kemenangan. Kesabaran itu baik untuk siapa pun.
"Maafkan aku," ujarku memecah keheningan.
"Sudah aku maafkan dari tadi-tadi," sahut Kenia.
"Terus kenapa diam saja, seperti orang marah?" ujarku lagi.
"Aku yang malas bicara, nanti kamu salah sangka lagi, tersinggung lagi," sahut Kenia tanpa menoleh.
"Nggaklah, aku harus tahu diri," ujarku menanggapi ucapan Kenia.
Keniia menoleh dan tersenyum padaku.
__ADS_1
"Kamu itu orangnya gampang tersinggung dan mudah sekali melupakan."
"Untuk apa berlama-lama dalam kemarahan," sahutku sambil terus berkonsentrasi menyetir mobil.
"Tapi aku tidak suka sama cowok yang mudah tersinggung. Seperti perempuan!" Kenia menyalakan musik dari audio car.
"Memangnya perempuan gampang tersinggung?" tanyaku heran.
"Kebanyakan begitu."
"Termasuk yang ngomong, kan?" aku menoleh sedikit pada Kenia.
"Aku masa bodoh, nggak pusing dengan omongan orang. Kalau kepalaku digetok baru aku tersinggung dan marah,” ujar Kenia enteng.
"Sebetulnya aku lebih masa bodoh dibandingkan kamu. Aku tidak pernah tersinggung apalagi marah-marah. Dibilang bodoh, begok, atau lemot sama keluarga dan teman-teman di sekolah, aku enggak pernah marah."
"Kenapa begitu?"
"Memang kenyataannya aku lemot.”
Kenia tertawa mendengar pengakuanku.
"Dari mana kamu tahu kalau aku anak pintar?"
"Naluriku selalu betul."
"Heleh! Dari kemarin-kemarin naluri terus?" ejekku.
"Memang kelebihanku di situ?"
”Muhun, abdi percanteun ka anjeun," ujarku sambil tersenyum.
"Lho, kok kamu bisa ngomong Sunda?"
"Waktu kita kenalan dulu, kamu kan ngakunya orang Bandung?" Jadi secara diam-diam aku belajar bahasa Sunda.
Kenia tertawa.
”Gombal kamu, nggak percaya aku, tapi aku suka cowok pengingat seperti kamu. Banyak lelaki yang tidak suka mengingat-ingat tentang sesuatu hal yang menurutnya sepele, tapi bagi perempuan hal itu bisa sangat menyentuh hatinya. Seperti kamu itu yang masih mengingat aku berasal dari mana."
"Menyentuh hati?" tanyaku heran.
__ADS_1
Gampang sekali kalau begitu menyentuh hati perempuan. Ingat saja hal-hal yang sepele, pasti mereka suka. Satu lagi rahasia tentang perempuan kudapatkan dari Kenia. Aku meliriknya sedikit. Cantik sekali dia. Kenia menoleh padaku tiba-tiba. Aku kembali menatap ke arah depan. Jalanan agak macet dan laju mobil jadi tersendat, kesempatan itu kugunakan untuk ngobrol panjang lebar dengan Kenia dan sesekali sambil menatap wajahnya.
”Lamun anjeun tiasa ngemut-ngemut anu alit, pasti dipikareuseup ku istri. Percanteun!" ujar Kenia tiba-tiba.
Aku terbodoh. Wah, kepanjangan. Mana aku ngerti?
”Abdi teu ngartos naon anu dicarioskeun ku anjeun?" jawabku menanggapi ucapan Kenia.
"Nah, itu kamu pakai Bahasa Sunda lagi?" heran Kenia.
"Iya, aku bisanya cuma sedikit-sedikit."
”Anjeun teh bisaan nyinceutna, Jang!”
"Memang!" aku tertawa.
"Kamu ngerti apa yang kukatakan tadi?"
”Nggak," jawabku masih tertawa.
"Dasar, blekog!" Kenia menepuk pundakku.
Melewati sedikit kampus Universitas Panca Budi, aku membelokkan mobil ke arah deretan ruko di kawasan hotel Lido. Hotel kelas melati di kawasan Sei Sikambing.
”Ngapain kita ke sini?" Kenia menoleh padaku heran.
"Mencari temanku itu."
"Dia tinggal di hotel ini?"
”Bukan, tapi mangkalnya di sekitar tempat ini. Kalau kita mencarinya dari ujung ke ujung pasti ketemu."
Aku menghentikan mobil di tempat parkir.
"Ayo, kita cari dia. Biasanya pelukis jalanan itu punya kelebihan yang luar biasa."
"Alasannya?"
"Karena mereka menggunakan emosi dan imajinasinya yang liar."
”Sok tahu, ah!" Kenia membuka pintu mobil.
__ADS_1