
Di sekolah, awalnya aku duduk sebangku dengan Bawon, sedangkan Mediana duduk dengan Sri Kustinah. Entah kenapa Bawon meminta Sri pindah duduk di sebelahku dan dia sendiri duduk sebangku dengan Mediana. Karena setamat SMU nanti, rencananya Mediana akan kuliah ke Singapura. Sekarang pun dia sudah sibuk ikut bimbingan belajar. Jadi wajar saja Bawon ingin memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit itu sebelum mereka berjauhan untuk waktu yang lama. Aku juga bertanya pada Sri kenapa dia bersedia pindah. Dulu ketika aku menyerobot tempat duduknya, dia marah dan misuh-misuh meskipun aku cuma minta sehari saja duduk bersama Mediana, tapi ketika Bawon yang memintanya pindah bangku, kok malah dia mau dan rela begitu saja. Padahal sejak pertama masuk sekolah, Sri selalu duduk sebangku dengan Mediana.
Sri Kustinah, cewek berambut keriting itu menjawab jujur. Katanya dia mengerti bagaimana perasaan orang yang lagi diamuk badai asmara. Biarlah Bawon dan Mediana duduk sebangku, itu akan menambah semangat belajar mereka. Ugh! Lagaknya Sri, kayak yang sudah pengalaman pacaran saja. Meski begitu aku senang juga sebangku sama dia, soalnya Sri lebih pintar dibanding Bawon. Jadi kalau dalam keadaan darurat, aku bisa minta bantuan sama dia. Memecahkan soal-soal rumit. Kalau nggak dikasih ya, nyontek saja. Apa susahnya, sih?
"Apa senyum-senyum?" Sri menoleh padaku.
“Nggak, aku suka aja melihat rambut keritingmu itu," jawabku sambil tersenyum.
"Jangan gombal kau, Bono!" Sri membuang muka.
Cie-cie ... dia marah, tapi dalam hati senang, tuh! Cewek mana sih yang tidak suka dipuji?
"Sri, Sri ..." aku menyikut lengannya.
"Apa, Bono?" Sri menoleh kesal.
"Anu ... itu, anu ... duh! Bagaimana, ya?"
"Ada apa, sih?" Sri Kustinah jengkel.
Aku nyengir dan garuk-garuk kepala. Sri nampak kesal.
"Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini padamu. Bahkan sejak pertama tadi kau pindah duduk di sebelahku."
Sri Kustinah membuang muka lagi.
"Dengarkan aku, Sri."
"Iya, aku dengar. Katakan saja," ujar cewek berambut keriting itu tanpa menoleh.
__ADS_1
"Kalau ada pelajaran yang sulit-sulit kasih tahu aku, ya?"
Sontak Sri Kustinah menoleh padaku.
“Nyontek maksudnya?"
"Ya, kalau bahasa halusnya alih teknologi," ujarku santai.
"Makanya kalau mau pintar harus rajin belajar," Sri menggerutu.
"Belajar apa, sekarang aja gurunya nggak masuk?" protesku.
"Ada atau tidak ada guru, kita harus belajar. Membaca dan mengulangi pelajaran minggu kemarin."
Payah berdebat sama orang pintar. Mati kutu kita dibuatnya. Aku mengambil buku dari tas bersamaan dengan masuknya Bu Oca ke dalam kelas dengan langkah tergesa-gesa.
"Pagi anak-anak, maafkan saya terlambat," ujar Bu Oca sambil menaruh tas tangannya ke atas meja.
Suasana kelas sontak menjadi riuh oleh derai tawa teman-teman sekelas. Bingung aku jadinya. Apa yang lucu, sih?
"Tenang, tenang!" Bu Oca memukul mejanya.
Kelas menjadi hening.
"Bono betul. Dia jujur memaafkan saya yang lain mungkin menggerutu dalam hati."
Wah, tumben Bu Oca baik hati. Biasanya dia paling kejam bila berurusan denganku. Kalau dihitung-hitung ada lima kali aku diusir dari kelas sama dia. Hari ini wajah Bu Oca tambah manis kelihatannya. Aku tersenyum. Bu Oca memandangku.
"Kenapa senyum-senyum, Bono?"
__ADS_1
Ups! Gawat, bakal diusir lagi, nih. Cepat aku membolak-balik buku. Entah mencari apa, aku sendiri pun bingung.
"Anak-anak hari ini Ibu tugaskan kalian menulis pidato tentang perubahan iklim global."
Kelas semakin hening. Aku merinding. Menulis pidato itu gampang, tapi bahasanya ini. Bu Oca, kan guru bahasa Inggris? Apa dia mau kalau aku menulis pidato tentang perubahan iklim global itu pakai bahasa Indonesia? Mana ada harapan!
"Ibu minta kalian bekerjasama dengan teman sebangku masing-masing. Hal itu akan melatih kalian agar terbiasa dalam kerja tim. Ada pertanyaan?"
Semua diam. Nggak tau juga, apakah mereka mengerti atau memang tidak tau apa yang mau ditanyakan. Kalau aku ya sudah jelas. Bingung!
"Kalau tidak ada yang bertanya, sekarang mulai kerjakan. Saya keluar sebentar," Bu Oca beranjak dari dalam kelas.
"Nah, kan? Korupsi waktu dia," bisikku pada Sri.
Sri tak bereaksi atau menanggapi kata-kataku tadi. Dia mulai mengambil buku dan pena, aku juga ikut-ikutan mengerjakan hal yang sama. Sri mulai menulis, aku cuma bengong.
"Ini pekerjaan tim, Bono!" ujar Sri tiba-tiba.
"Iya, aku tau,"
"Apa yang mau kita tulis?" Sri melirik padaku.
"Perubahan iklim global itulah, apalagi?" jawabku yakin.
"Ya, perubahan iklim itu apa?" kejar Sri lagi.
Halah! Pintar-pintar, kok ya, perubahan iklim saja nggak ngerti. Bahasa Inggrisnya climate change. Suhu udara makin panas dan kata para ahli geologi benua es di kutub utara sedikit demi sedikit mulai mencair. Terus permukaan air laut naik dan kita mati tenggelam. Wah, ngeri kalau dibayangkan. Aku bergidik sendiri.
"Jangan melamun kau, Bono!" Sri mengejutkanku.
__ADS_1
"Ini aku juga sedang mikir," sahutku masih merasa ngeri membayangkan kalau daratan ini sampai tenggelam.