MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
HANG OUT dengan KENIA


__ADS_3

Di luar aku bingung sendiri nggak tau mau pergi kemana. Biasanya kalau keluyuran aku hanya menghabiskan waktu di mal, tapi sekarang rasanya tempat itu sudah mulai membuatku jenuh. Beginilah kalau tak punya banyak teman akrab. Aku tak punya tempat untuk bertandang. Ketika sedang dilanda kebingungan itu, tiba-tiba saja nada panggil masuk ke handphone-ku. Perlahan aku menghentikan sepeda motor dan menepi untuk menjawab panggilan. Yes! Dari Kenia rupanya.


"Hallo, Kenia?" sapaku dengan hati gembira.


"Kamu lagi di mana?" suara Kenia terdengar dari seberang sana.


"Di jalan."


"Mau ke mana?"


"Nggak ada, keliling aja."


"Kita ketemu, yuk?"


"Oke, di mana?" sahutku senang.


"Enaknya di mana?"


"Terserah."


"Kalau di Starbuck, bagaimana?" tawar Kenia.


"Starbuck banyak, yang mana?"


"Terserah yang mana,"


Butet! Eh, busret! Mau ngajak ketemuan, apa berantem, nih? Akhirnya kami sepakat di dekat apartemennya Kenia. Memang lagi nasib baik. Di tengah kebingunganku, Kenia menelepon dan mengajak bertemu. Waktu tak akan terasa kalau berduaan dan ngobrol dengan Kenia. Ada saja hal menarik yang dibicarakannya. Kenia memang punya pergaulan yang luas bila dibandingkan denganku. Sosok Kenia mampu meredam pesona Sarah di mataku. Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan, tapi dia tak akan mampu menghantui selamanya. Seorang Kenia Dinar Ayu telah menghempang dominasi Sarah di benakku. Waktu akan menyembuhkan luka dan aku percaya pada kalimat bijak itu.


Cinta memang bisa membuat orang menjadi baik atau jahat. Aku merasa telah menjadi jahat karena cintaku pada Sarah yang tidak kesampaian. Jahat karena aku telah berani melawan mama yang selama ini amat sangat kuhormati. Entahlah, kenapa sedikit orang yang mampu menerima keadaan ketika kisah cintanya gagal. Bahkan banyak yang menjadi kalap dan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Perasaan cinta itu memang luar biasa. Tak ada hal yang begitu kuat bisa menggerakkan orang untuk bertahan hidup atau memilih mati, kecuali perasaan cinta.


***

__ADS_1


Di Starbuck aku memesan toffe nut frappuccino sedangkan Kenia memilih toffe nut latte. Perbincangan dimulai dari cerita-cerita lucu dan hal-hal kecil yang dialami Kenia. Bahkan dia juga bercerita tentang tetangga di apartemennya, seorang lelaki bernama Soriano yang sudah beristri, tapi selalu saja berusaha mencari-cari kesempatan untuk menggoda Kenia.


"Lelaki itu pemabuk!" cibir Kenia.


”Pemabuk?" aku memastikan.


"Ya, tiap malam dia pulang larut dan seringkali mengetuk pintu apartemenku," ujar Kenia sambil senyum-senyum.


"Dia mengetuk padahal ada bel di pintu apartemen," sambung Kenia lagi.


”Namanya juga orang mabuk?" aku ikut-ikutan tersenyum.


Aku tahu kalau dia pura-pura salah mengetuk pintu. Semabuk-mabuknya orang pasti dia tahulah nomor pintu apartemennya sendiri. Kecuali kalau sudah tak sadarkan diri, itu baru aku percaya kalau dia tak ingat apa-apa lagi.


"Terus kalau sudah begitu?" tanyaku penasaran.


"Terpaksa aku membuka pintu dan menyuruhnya pergi sebelum aku memanggil petugas keamanan apartemen."


"Kenapa tidak mengancam dengan memanggil istrinya saja?"


"Dia pernah nakal sama kamu?"


"Selalu, bahkan berani ngajak tidur juga."


"Begitulah risiko orang cantik! Apalagi tinggal sendirian di apartemen," komentarku.


"Apakah aku cantik?" Kenia menatapku.


"Lumayan," jawabku menggodanya.


Kenia tertawa mendengar jawabanku. Padahal siapa pun pasti mengakui kalau Kenia itu perempuan cantik dan nyaris sempurna. Bahkan seorang pemabuk seperti lelaki yang bernama Soriano itu pun, semakin mabuk karena pesona kecantikan Kenia.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kekasihmu itu?" tanya Kenia mengalihkan pembicaraan.


"Kekasihku?"


"Ya, mantanlah. Masih bertemu dengan dia?"


"Tidak pernah lagi."


"Kalian tidak satu sekolah?"


"Beda. Aku satu sekolah dengan Abangnya."


Kenia mengamati wajahku. Diamati seperti itu, aku jadi rikuh juga.


"Kenapa memandang seperti itu?" tanyaku mencoba keluar dari rasa tak nyaman.


q1"Kamu patah hati pasti," ujar Kenia enteng.


"Masih lumayan patah hati daripada patah kaki?" sahutku tak kalah enteng.


Kenia tertawa. Tergelak-gelak.


"Kenapa, tertawa?" tanyaku bingung.


Heran saja, kenapa masih ada di jaman digital sekarang ini laki-laki bisa patah hati? gumam Kenia sambil mereguk toffe nut latte.


"Kenapa heran, gara-gara internet saja orang sekarang banyak yang bunuh diri," ujarku kesal. Orang patah hati kok dihubung-hubungkan dengan jaman.


"Seandainya saja ada laki-laki yang patah hati karena aku. Uh, betapa aku merasa telah menjadi begitu berharga," pandangan Kenia menerawang.


"Aneh, kok senang ada orang patah hati karena kamu?" kupandangi Kenia dengan heran.

__ADS_1


”Bukan senang, tapi kalau ada laki-laki yang patah hati berarti cintanya itu cinta mati, cinta yang benar-benar dari hati," Kenia beralasan.


Aku tak sepenuhnya membenarkan ucapan Kenia. Apalah gunanya kita mencintai sepenuh hati kalau seperti itu balasannya?


__ADS_2