
Pagi subuh, aku dibangunkan oleh seorang lelaki tua yang ternyata pengurus Masjid. Meski mata masih mengantuk karena tidak biasa bangun pagi, tapi aku terpaksa bangun dengan sekali geliat. Coba kalau di rumah, mama dan Bik Narti bergantian membangunkan dan aku cuma menggeliat saja di tempat tidur. Barulah setelah menggeliat puluhan kali, aku bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Sekarang di emperan masjid ini hanya dengan sekali tepukan di bahu, aku sudah terbangun dan langsung duduk dengan mata terbuka meskipun sedikit.
"Kau musafir?" tanya Pak Tua Nazir Masjid.
"Iya, Pak," jawabku sambil mengucek-ngucek mata.
"Pergi mandi dulu, sebentar lagi waktunya sholat subuh. Kau muslim, kan?" dia meneliti wajahku.
Aku mengangguk. Pak Tua itu membuka pintu-pintu masjid lalu menghidupkan lampu-lampu. Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dekat tempat berwudu. Sesaat kemudian aku mendengar suara Pak Tua tadi membaca Al Quran. Ah, selama ini aku selalu melewatkan saat-saat seperti begini. Bisa kuhitung berapa kali dalam sebulan terbangun pagi subuh dan mendengar suara orang mengaji dari masjid dekat rumah. Kalau terbangun pun aku malah tertidur kembali.
Selesai mandi aku menaruh ransel di emperan masjid dekat pintu. Saat itu seorang Pak Tua yang lain sedang mengumandangkan azan, memanggil orang-orang untuk meninggalkan tempat tidurnya dan bersegera menunaikan sholat subuh di masjid. Sampai azan subuh berakhir dikumandangkan, orang yang berada di masjid bisa dihitung dengan jari. Semuanya lelaki paruh baya dan nyaris jompo, cuma aku sendiri yang masih muda. Pada kemana yang lain, yang masih muda usia? Paling juga masih ngorok di rumahnya masing-masing.
Sholat subuh selesai ketika warna langit menjadi terang-terang tanah. Aku bergegas keluar, tapi Pak Tua Nazir Masjid memanggil dan mengajakku sarapan di rumahnya. Betul memang sholat subuh itu pembuka pintu rejeki. Baru saja usai sholat sudah ada tawaran untuk sarapan, bagaimana nanti siang? Semuanya pasti akan menjadi mudah.
"Kau berasal dari mana, Nak?" tanya Pak Tua, Nazir Masjid sambil melangkah di sampingku.
"Medan, Pak," jawabku jujur.
__ADS_1
"Dari kota ini juga?" dia menoleh heran sambil memandangku.
"Iya," jawabku pelan.
Gawat, nih. Bisa-bisa sarapan pagi dibatalkan. Tadi ketika aku dibangunkan, Pak Tua itu sempat bertanya apakah aku musafir. Aku menjawab iya. Musafir dari Hongkong? tau nggak yang dinamakan musafir itu adalah orang yang bepergian jauh dari kota asalnya seperti pengembara gitu. Nah, aku pengembara apa? Lokal apa interlokal? Bebas roaming, apa tidak?
"Kau tidak punya keluarga?"
"Punya, Pak."
"Di mana rumah keluargamu?"
"Kau lari dari rumah?" ujar Pak Tua menyelidik.
"Iya, Pak," jawabku jujur. Abis kalau aku bohong bisa kualat, kan? Masa sih, Nazir Masjid dibohongin? Kurang kerjaan banget!
Sambil sarapan lontong sayur, aku bercerita kenapa sampai lari dari rumah. Pak Tua yang akhirnya kuketahui bernama Syarif, menasihatiku panjang lebar. Katanya aku ini bodoh, hanya karena putus cinta saja jadi malas sekolah, keluyuran dan akhirnya minggat dari rumah.
__ADS_1
"Lebih baik patah hati, daripada patah kaki," ujar Pak Syarif bercanda.
"Kenapa bisa begitu, Pak?" hampir aku tersedak mendengar ucapannya itu.
Pak Syarif tersenyum dan membeberkan alasan kata-katanya barusan tadi. Kalau putus dengan kekasih, kita bisa cari ganti. Nah, kalau kaki yang patah apa bisa diganti sama kaki kuda? Ya, enggak bisa. Paling kaki yang lama dipermak kembali, itu pun syukur-syukur bisa menyatu dan sembuh. Kebanyakan orang meskipun sembuh, tapi jalannya jadi tidak stabil kayak mobil enggak pernah di-balancing. Aku tersenyum mendengar penjelasan Pak Tua yang baik hati dan humoris ini.
"Jadi patah hati itu tidak apa-apa. Sakit dan kecewanya paling juga setahun, setelah itu hatimu akan terbuka untuk yang lain. Jangan sampai mengorbankan kehidupanmu. Itu bodoh namanya," ujar Pak Syarif panjang lebar.
"Bapak pengalaman juga ya, soal patah hati?" tanyaku polos.
"Bapak tidak pernah patah hati, Bapak cuma melihat dan mengamati perilaku anak-anak sekarang. Jaman dulu mana ada istilah pacaran seperti kalian. Orang-orang dulu kalau sudah dewasa dan mampu berkeluarga ya, dijodohkan sama anak tetangga atau saudara dekat sendiri."
Yaaa ... nggak ada romantis-romantisnya dong, pak? Belum pernah ketemu langsung dikawinkan? Iya, kalau ceweknya cakep itu lain soal. Cinta kan bisa datang belakangan. Kalau dapat yang di bawah standar? Haiyya!
Aku memandang Pak Syarif. Mengamati itu pekerjaan pengamat. Seperti sepak bola. Pemain sekelas Ronaldo, bisa salah di mata pengamat. Kurang inilah, kurang itulah. Coba kalau pengamat itu disuruh masuk ke lapangan. Dua-tiga kali ngejar bola pingsan ditandu keluar. Mengamati ya enak, coba kalau merasakan sendiri. Membahana-badai pasti.
"Bagaimana, kau masih ingin melarikan diri dari rumah dan jadi gelandangan, hanya gara-gara patah hati sama perempuan?" tanya Pak Syarif serius.
__ADS_1
"Ya, sa-saya ... mulai tobat sih, Pak." ujarku tergagap.