
Pagi hari mama mengetuk pintu kamar. Saat itu aku sudah siap-siap mau berangkat ke sekolah. Baru saja pintu itu kubuka sedikit, mama sudah menerobos masuk.
"Jam berapa kamu pulang tadi malam?!"
"Bono pulang, Mama sudah tidur," jawabku sambil meraih kunci sepeda motor di atas meja belajar.
Ketika beranjak keluar, mama menghadangku di pintu kamar.
"Kamu sudah bukan seperti Bono yang kemarin-kemarin. Apa yang meracuni pikiran kamu?!" tanya mama dengan tatapan matanya yang tajam.
"Bono mau sekolah, Ma," aku malas menjawab pertanyaan mama.
Tanpa bicara apa-apa lagi mama berbalik dan pergi meninggalkan kamarku. Ah, sudahlah. Terserah mama mau marah atau sakit hati. Apa pun namanya. Hidup ini sudah terasa asing bagiku.
"Tidak sarapan dulu, Bono?" tegur papa tiriku ketika aku berpapasan dengannya di carport. Papa tiriku itu baru saja selesai memanaskan mesin mobilnya.
"Ayo, kita sarapan sama-sama," ajaknya.
"Nanti saja, Bono sarapan di kantin sekolah," jawabku malas sambil menstater sepeda motor.
Udara pagi yang segar tak membuat pikiranku jadi sejuk seperti biasanya. Kupacu sepeda motor menuju sekolah. Bayangan wajah Sarah berkelebat tiba-tiba. Ah, Sarah. Apakah kau juga tersiksa seperti aku? Katakanlah lewat angin pagi ini. Katakanlah ....
Tiba-tiba sebuah angkot menyalip dan berhenti tepat di depanku. Pembalap sekaliber Valentino Rossi pun tidak akan bisa menghindari tabrakan kalau ada kendaraan yang menyalip dan berhenti tiba-tiba seperti itu.
Braaakkk!!! Meski aku sempat mengerem sepeda motor dan coba menghindar, tetap saja sepeda motorku menghantam bagian samping belakang angkot itu. Aku terjatuh bersama sepeda motor di aspal jalan. Sopir angkot turun dan marah-marah.
__ADS_1
"Makanya kalau bawa kendaraan jangan melamun!"
Aku mengalami luka-luka lecet di tangan dan siku. Setan juga nih supir, sudah dia yang salah, pakai marah-marah lagi. Pelan aku mendirikan sepeda motor.
"Adanya SIM, kau?!" tanya si supir seperti polisi saja gayanya.
Kudekati supir angkot itu lalu dengan secepat kilat aku menarik dan menjatuhkannya dengan teknik bantingan. Supir itu terempas, wajahnya membentur aspal jalan. Sementara itu tangannya kutelikung ke belakang.
"Kau yang tidak punya SIM. Kalau pun punya, pasti itu SIM tembak!' ujarku marah.
Supir itu meronta-ronta dalam keadaan tertelungkup di aspal jalan. Para penumpangnya turun ingin melerai. Orang-orang yang melintas memperlambat laju kendaraannya hanya ingin melihat apa yang terjadi.
"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak supir angkot meronta-ronta.
"Sudahlah, Nak. Kami nanti terlambat ke kantor," ujar seorang ibu penumpang angkot.
"Ada apa ini?"
Setelah polisi datang baru aku melepaskan supir itu dan menceritakan bagaimana kejadiannya sampai aku terjatuh karena menabrak angkot yang berhenti tiba-tiba, tapi supirnya marah-marah menyalahkanku. Lalu polisi meminta SIM kami berdua.
"Saya tadi buru-buru, Pak," ujar supir angkot membela diri.
"Rejeki itu enggak perlu dikejar, sudah ada bagiannya masing-masing!" sergahku kesal pada supir angkot.
"Kamu lukanya bagaimana, perlu ke rumah sakit?" tanya Pak Polisi.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma lecet sedikit saja," jawabku jujur.
Polisi mengembalikan SIM dan mengijinkanku pergi. Sedangkan supir angkot itu kena tilang. Aku tersenyum puas.
"Gunting aja SIM-nya, Pak!" seruku masih kesal, sambil menstater sepeda motor dan berlalu dari tempat itu.
Kalau lalu lintas kota ini mau aman dan tertib, peraturan harus betul-betul dijalankan dan hukum ditegakkan. Jangan cuma omong kosong doang. Sampai kiamat pun ketertiban jalan di kota ini nggak ada bagus-bagusnya, kalau hukum itu pandang bulu dan bisa ditawar-tawar. Enak yang punya bulu banyak. Bisa nawar-nawar hukum!
Sampai di sekolah baru aku merasakan nyeri dari luka lecet di tangan dan siku sebelah kanan. Lutut kananku juga terasa berdenyut sakit meski tak ada luka. Ini pasti akibat benturan dengan aspal jalan. Uh, aku berjalan terpincang-pincang. Luka lecet di tangan mulai membengkak dihiasi dengan darah yang menetes pelan. Setelah menaruh sepeda motor di tempat parkir, aku mendatangi guru piket dan minta ijin untuk tidak masuk sekolah.
Kebetulan saja guru piketnya Pak Marudut Tampubolon, wali kelasku. Dia membawaku ke ruangan Unit Kesehatan Sekolah untuk mendapatkan pertolongan pertama. Luka-luka lecet di tangan dibersihkan dengan alkohol lalu diberikan Betadine serta dibalut dengan perban. Setelah itu aku diperbolehkan pulang, tapi dianjurkan untuk ke rumah sakit. Wali kelasku itu tak terlalu khawatir dengan luka-luka lecet di tangan, yang dia khawatirkan adalah memar di lutut sebelah kananku. Siapa tau ada tulang yang retak. Kan, bahaya?
"Terima-kasih, Pak," aku mengucapkan terima kasih pada Pak Marudut.
"Hati-hati di jalan, Bono"
"Pak, saya dapat ijin berapa hari?" tanyaku penasaran.
Pak Marudut Tampubolon meneliti wajahku. Memang dasar guru, ya? Muridnya sakit juga masih dihitung-hitung berapa hari dikasih ijin. Kasih aja libur sepuluh hari biar sembuh betul, pelit amat!
"Sudahlah, saya kasih ijin tiga hari," ujar wali kelasku itu.
Betul, kan? Dia tadi mikir berapa hari pantasnya aku dikasih ijin tidak masuk sekolah. Guru itu di mana-mana juga sama. Mereka merasa rugi kalau muridnya nggak bisa mengikuti pelajaran.
"Meski begitu kita lihat saja nanti, kalau memang memar di lutut kau itu serius, Bapak lihat rekomendasi dari dokter saja. Kalau dokter bilang harus istirahat sebulan. Ya, Bapak akan beri ijin sebulan," ujar Pak Marudut menambahkan.
__ADS_1
Aku langsung memberi hormat menirukan gaya militer.
"Siap, Pak!"