
Pukul satu dini hari aku pulang ke rumah, meskipun suasana sudah sepi, tapi tetap saja aku masuk dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan suara berisik yang bisa-bisa membangunkan mama. Setelah memasukkan sepeda motor, aku masuk ke dapur melalui pintu penghubung yang ada di garasi. Sebelum menuju kamar, aku menyempatkan diri membuat secangkir cappuccino. Lumayanlah buat menghangatkan perut sehabis keluyuran malam. Selesai membuat minuman aku beranjak dengan langkah berjingkat dan mengendap-endap, persis seperti pendekar ninja. Ketika melintas di ruang keluarga tiba-tiba lampu menyala terang. Mama berdiri di dekat sakelar lampu. Bukan main terkejutnya aku. Gawat, nih!
"Sekarang Mama tanya, kamu maunya apa, Bono?" suara mama terdengar datar sekali.
Aku diam tak berani memandang tatapan mama yang tajam mengunjam. Begitulah kalau dia marah. Mama tidak pernah mencak-mencak dan pakai mata melotot seperti dalam cerita sinetron. Meskipun begitu tetap saja aku takut dibuatnya.
"Kamu dihukum tidak boleh masuk sekolah selama seminggu, karena mempermainkan guru bahasa Inggris. Besok Mama harus menemui Kepala Sekolahmu," suara mama masih terdengar datar dan tenang.
Aku masih diam. Tanganku terasa pegal memegangi cangkir yang berisi cappuccino.
"Mama tidak tau mau bilang apalagi. Kamu sudah bukan seperti Bono yang Mama kenal dulu."
Tiba-tiba papa tiriku muncul di ruang keluarga.
"Sudah larut malam, Ma. Besok pagi saja dibicarakan. Bono juga pasti capek dan mengantuk."
"Capek apa, keluyuran?" sahut mama tanpa menoleh pada papa tiriku yang berdiri di dekatnya.
"Sudahlah, Ma. Bicarakan besok pagi saja," ujar papa tiriku lagi.
"Tidak, Mama mau selesaikan malam ini juga. Mama sudah terlalu lama diam. Bono, kalau kamu masih mau tinggal di rumah ini, ikuti aturan Mama. Jadilah anak baik-baik seperti dulu atau keluar dari rumah ini."
"Jangan begitu, Ma," papa tiriku menyela mama.
"Mama sudah capek!"
__ADS_1
Kemudian mama pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Jangan dimasukkan ke hati, Bono. Mamamu lagi kesal, besok juga dia menarik kata-katanya kembali. Sekarang pergilah tidur," ujar papa tiriku berusaha menenangkan.
Seperti mimpi rasanya mendengar mama bisa berkata seperti itu. Aku melangkah menuju kamar dengan perasaan tak menentu. Kenapa mama tega mengusirku dari rumah? Apakah kesalahanku tak bisa dimaafkan? Ah, sudahlah. Kalau itu bisa membuat mama tenang, aku harus meninggalkan rumah ini. Toh, aku anak laki-laki, takut apa? Aku bisa hidup di mana saja. Meski dengan perasaan sedih, kecewa dan sakit hati, aku mengemasi pakaian dan memasukkannya ke dalam ransel. Besok pagi aku harus meninggalkan rumah. Selamat tinggal semuanya.
***
Pagi hari setelah mama, papa dan Mediana keluar rumah, aku pun bergegas. Sebelum pergi aku mendatangi Bik Narti yang sedang mencuci piring di dapur.
"Bik, Bono mau pergi."
Bik Narti menoleh.
"Pergi ke mana, kau tidak sekolah?"
"Kau dihukum karena apa?"
"Sudahlah, Bik. Malas Bono cerita soal sekolah."
"Terus mau ke mana bawa-bawa tas ransel begitu? Mau naik gunung?"
"Bono diusir Mama".
Bik Narti terkejut. Dia berhenti mencuci piring.
__ADS_1
"Bibik tidak percaya, Bono. Ibu itu sangat menyayangimu. Dia selalu cerita sama Non Mediana, sama Bibik, kalau kau itu anak kesayangannya".
"Itu dulu, Bik. Sekarang tidak lagi.”
Meskipun Bik Narti berusaha membujukku supaya tidak pergi, tapi aku sudah bulat hati untuk meninggalkan rumah. Kemarin malam sudah terang-terangan mama mengusirku. Mau apalagi?
"Bono pergi, Bik," aku menyalami Bik Narti.
Sedih juga melihat mata Bik Narti yang berkaca-kaca. Bagaimanapun dia ikut merawatku sejak kecil dan aku selalu hormat padanya. Pastilah dia merasa kehilangan. Sesungguhnya aku pun begitu. Setelah keluar dari rumah ini, aku juga akan kehilangan banyak kenangan. Banyak sekali.
"Tidak bawa sepeda motor, Bono?" Bik Narti mengikutiku sampai ke halaman.
"Tidak, Bik. Sepeda motor itu dibeli pakai duit Mama."
"Tapi kan sepeda motor itu dibeli untukmu?"
”Nggak apa-apa, Bik. Biar saja ditinggal."
"Perginya jangan lama-lama, Bono," ujar Bik Narti sedih.
Aku cuma tersenyum sambil membuka pintu gerbang dan bergegas keluar. Bik Narti menutupkan kembali pintu gerbang itu.
"Hati-hati, Bono. Sering-seringlah memberi kabar," ujar Bik Narti dari balik pintu gerbang.
***
__ADS_1
Ternyata tekadku yang bulat untuk meninggalkan rumah, menjadi gepeng setelah berada di luar. Sudah berjam-jam duduk di halte, tapi tidak tahu mau naik angkot yang mana. Lebih parah lagi aku tidak punya tujuan mau ke mana. Terbayang gelandangan yang tertidur di emperan toko dalam benakku. Apakah nasibku akan berakhir seperti itu? Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke pool bus antar provinsi, di jalan Sisingamangaraja. Mungkin lebih baik aku ke Yogya saja, tinggal di rumah simbah., tapi sesampainya di pool bus, aku malah jadi bingung. Duit dari mana untuk beli tiket? Bukankah aku cuma bawa dompet yang berisi beberapa puluh ribu sisa uang jajanku, sedangkan kartu ATM sengaja kutinggal di rumah? Uh! Dunia rasanya semakin sempit. Sampai sore hari aku masih bertahan di pool bus. Orang-orang datang dan pergi silih berganti, cuma aku yang masih duduk kebingungan sendiri. Mau ke mana sekarang?