MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
DIJEMPUT MAMA


__ADS_3

Aku jadi ngeper juga. Kemarin mau makan aja harus jual celana dulu? Kalau celanaku sudah habis, mau jual apalagi? Pak Syarif masih memandangiku. Aku nyengir seperti keledai. Malu hati juga sama diri sendiri, kok cemen banget aku ini?


"Saya menyesal dan mau pulang, tapi malu," ujarku pelan.


"Malu sama siapa, orang tuamu? Apa kau tidak malu sudah menyusahkan hati dan membuat tak tenang hati mereka?" ujar Pak Syarif berapi-api.


"Mereka siapa, Pak?" tanyaku bodoh.


"Ya, orang tuamulah siapa lagi?"


"Oh, Mama," gumamku pelan.


"Bapakmu kemana, masih ada, kan?"


"Bercerai dengan Mama. Sekarang ada Papa tiri,” ujarku menjelaskan.


“Sama saja, kau telah menyusahkan hati mereka. Sekarang pulanglah, cium tangan Ibumu dan minta ampun. Kau berdosa padanya," Pak Syarif menasihatiku.

__ADS_1


Mataku merebak, tapi malu mau menangis. Kayak film India saja pakai acara berlinang air mata. Aku berusaha menahan-nahan tangis, tapi karena ditahan malah ingus yang keluar. Kutukupret, deh! Seperti di film-film bule kalau pas adegan sedih, bukan air mata yang keluar, tapi ingus. Ternyata di situ letak perbedaan Hollywood dengan Bollywood. Baru aku tahu sekarang.


Pukul tujuh pagi aku selesai ngobrol-ngobrol dengan Pak Syarif, dia tidak ada kegiatan lain selain mengurus masjid yang berada di depan rumahnya. Usia Pak Syarif sudah 70 tahun dan hidup sederhana dari uang pensiun yang ia terima. Sekarang waktunya untuk mengejar akhirat, katanya padaku sebelum kami sama-sama keluar rumah. Pak Syarif mengantarkanku sampai ke pinggir jalan di depan masjid.


"Ini ambillah," Pak Syarif menyelipkan lembaran seratus ribu ke tanganku.


Aku tertegun menatap tangan Pak Syarif yang menoyodorkan uang.


"Jangan, Pak. Terima kasih, saya punya ongkos untuk naik angkot," aku menolak pemberiannya.


Baru saja aku dan Pak Syarif sampai di halaman masjid, sebuah mobil city car warna biru metalic berhenti di pinggir jalan, dekat pintu gerbang. Kok, rasa-rasanya mirip mobil Mama? Aku memperhatikan dengan serius. Sampai mataku menyipit saking seriusnya. Jantungku kebat-kebit. Jangan-jangan, jangan-jangan ... (mirip dialog sinetron dengan akting mulut mangap dan alis mata naik-turun) aku memandangi mobil yang berhenti itu. Beberapa saat kemudian mama turun bersama Mediana. Jreng! Aku kaget, Pak Syarif nggak ikut kaget. Soalnya dia nggak tau kalau itu mamaku. Kalau dia tau mungkin Pak Syarif ikut-ikutan jreng! Pingsan juga. Ahaaayy ... Lebaaayyy!


Mama bergegas memasuki halaman masjid, diikuti oleh Mediana dari belakang. Aku melirik Pak Syarif dan beliau balas melirik padaku, seolah-olah bertanya siapa yang datang itu, barangkali dia nggak punya saudara yang cakep-cakep seperti ini. Mediana cakep, mamaku juga cakep, entah kenapa aku tidak mewarisi kecakepan mama. Lho?!


"Bono?!" mama berlari ke arahku.


"Siapa dia, Nak?" tanya Pak Syarif bengong.

__ADS_1


"Mama saya, Pak."


Aku sempat melihat Pak Syarif manggut-manggut sambil tersenyum. Mama mendekat dan aku melirik Pak Syarif. Beliau mengisyaratkan dengan matanya agar aku mencium tangan mama seperti yang dikatakannya tadi ketika sarapan. Bahwa aku telah berdosa pada mama karena lari dari rumah.


"Pulanglah, Nak," ujar mama sedih.


Sejuk rasanya hati ketika mendengar mama memanggilku dengan sebutan nak karena mama telah menggunakan hak patennya sebagai seorang ibu untuk memanggil darah daging dan sibiran tulangnya. Mataku merebak, asli bukan menangis palsu karena obat tetes mata seperti bintang sinetron itu. Aku betul-betul terharu.


"Maafkan Bono, Ma," ujarku sambil mencium tangan mama.


"Mama yang salah," mama memelukku.


"Nah, sekarang pulanglah. Masa depanmu masih panjang, ingat pesan Bapak tadi?" Pak Syarif tersenyum menatapku.


"Lebih baik patah hati daripada patah kaki," ujarku yakin.


Pak Syarif tertawa, mama dan Mediana juga ikut tertawa. Lalu aku memperkenalkan mama dengan Pak Syarif, Nazir Masjid yang baik hati itu. Mama berterima-kasih dan berjanji akan terus menyambung silaturrahim dengan keluarga Pak Syarif. Sama seperti aku tadi, ketika mama mau memberikan uang sebagai tanda terima kasih pada Pak Syarif, beliau juga menolak. Mungkin dia juga sadar enggak ada mirip-miripnya dengan Belanda, kecuali kulitnya rada putih, tapi hidungnya buntet. Intinya Pak Syarif nggak mau kebaikannya dinilai dengan uang.

__ADS_1


__ADS_2