MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
SALAH ORANG


__ADS_3

Baru saja turun dari mobil, aku sudah menangkap sosok Giring sedang berjalan ke arah kami yang masih berdiri di dekat mobil.


"Itu dia temanku."


"Yang mana?" tanya Kenia penasaran.


"Itu yang pakai baju hitam, celana ketat yang berambut mohawk."


"Itu kan, anak punk?" ujar Kenia bingung.


"Memang kenapa kalau anak punk? Dia punya keahlian juga biar pun penampilannya seperti itu."


”Will see ..." ujar Kenia merasa tak yakin.


”Gir!! Giring!" aku memanggilnya sambil melambaikan tangan.


Giring yang memang sedang berjalan ke arah kami langsung memandangku. Anak itu bergegas, melangkah menghampiri. Aku dan Kenia masih berdiri di dekat mobil.


"Apa kabar, Bro?" sapaku sambil mengulurkan tangan.


"Baik, Bro!" Giring menyambut uluran tanganku dan menariknya ke atas lalu menyilangkan genggamannya di tanganku, seperti salam komando ala militer.


"Kenalkan ini Kenia," aku memperkenalkan Kenia pada Giring.


"Kenia, ini Giring temanku," aku juga mengenalkan Giring pada Kenia.


Giring menatap tajam mata Kenia. Ekspresi wajahnya datar tanpa senyum. Kenia merapat ke sampingku dan aku merasakan kalau lenganku dipegang erat olehnya.


”Jalmi ieu teh meuni nyingsieunkeun," bisik Kenia padaku.

__ADS_1


"Wah, orang Sunda, ya? Pantas cantik kali!" Giring tersenyum.


Buset, dah! Dengar juga dia apa yang dibisikkan Kenia padaku.


”Bro, aku mau bicara bisnis sama kau," ujarku coba mengalihkan perhatian Giring.


Giring beralih menatapku.


"Bisnis apa?"


"Kenia perlu lukisan makanya aku mencarimu, kau kan pelukis. Bikin lukisan yang bagus, soal harga gampanglah itu," ujarku panjang lebar.


"Bagaimana, Ken? Soal harga nggak masalah, kan?" aku menoleh pada Kenia.


"I-iya, iya ... nggak masalah, tapi lukisannya yang bagus, terserah mau lukisan apa. Pemandangan boleh, gambar kucing juga boleh," Kenia tersenyum takut-takut melihat Giring. Dia masih memegang erat lenganku.


"Kau dengar sendiri kan, Bro?" ujarku menguatkan maksud Kenia.


"Kenapa, Bro?" tanyaku heran.


"Siapa yang bilang kalau aku pelukis?" Giring nyengir.


"Kau sendiri yang bilang. Ingat nggak waktu dulu hampir kutabrak karena nyeberang jalan sembarangan dan akhirnya kita ngobrol-ngobrol di halte itu?" aku menunjuk ke arah halte di depan kampus Universitas Panca Budi.


Giring tersenyum kikuk. Hilang kesan Anak Punk-nya yang sangar.


"Sebetulnya aku pelukis tattoo," ujar Giring masih dengan senyum kikuknya.


Hah?! Pelukis tattoo? Aku terkejut dan melirik pada Kenia. Cewek berwajah indo yang masih menempel erat di sampingku itu cuma nyengir sambil menahan tawanya. Aku juga ikut-ikutan tersenyum. Malu hati sebenarnya pada Kenia. Benai kite kalau begian cerita en, abah long! Hahahaha ...

__ADS_1


"Makanya kau dengar dulu penjelasanku waktu itu, Bro. Jangan main tinggal aja, nggak nanya aku ini pelukis apa," Giring protes. Aku terdiam. Dasar, Wa tu si gonglang.


"Jadi bagaimana, ya?" aku bingung juga jadinya.


"Apa kau mau di tattoo?" tanya Giring pada Kenia.


”Nggak ah, terima kasih," Kenia menarik-narik lenganku. Sepertinya dia memberi isyarat padaku untuk segera pergi.


Cantik kali cewek kau, Bro. Pantas saja kau patah hati kalau sampai kehilangan dia. Sekarang kalian sudah pacaran lagi rupanya, Giring tertawa.


”Bukan, bukan dia yang kuceritakan itu."


"Berarti kau playboy kelas satu. Putus satu dapat seribu!" Giring tertawa lagi.


"Sudah ya. Bro. Kami cabut dulu. Nanti kapan-kapan aku ke sini lagi," ujarku berpamitan. Sejak tadi Kenia juga memaksa-maksa supaya kami segera pergi.


"Motor kau pun bagus kali, Porse!" Giring menyentuh dan mengelus-elus dinding mobil.


”Bukan motor, mobil!" ujar Kenia sambil bergegas membuka pintu mobil.


"Cakap orang Medan memang kek gitulah, sayang?" Giring mengerlingkan matanya menggoda Kenia.


Kenia meminta kunci mobil padaku lalu membuka pintu dan buru-buru masuk ke mobil.


"Putih dan mulus kali cewek kau itu, Bro. Lalat pun bisa terpeleset kalau hinggap di kulitnya," Giring senyum-senyum menggoda.


"Dia bukan pacarku, Bro. Cuma teman. Oh ya, lalat enggak mungkin mau nempel di kulitnya," aku menanggapi ucapan Giring, tentang kulit Kenia yang katanya putih dan mulus itu.


"Kenapa?" kali ini wajah Giring terlihat serius.

__ADS_1


"Wangi kali dia, mana mau lalat sama yang wangi-wangi?" jawabku balas menggoda.


”Kambiang lah waang!" Giring meninju pelan perutku.


__ADS_2