MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
SEMUA KARENA, SARAH!


__ADS_3

Ketika berada di kamar, handphone-ku berbunyi. Ada panggilan dari Sarah. Ah, dia lagi. Masih belum puaskah kau menyakitiku?


"Ya, hallo ..." kujawab telepon Sarah.


"Apa kabar?" terdengar lembut suara Sarah di telingaku.


"Bohong kalau kukatakan baik," jawabku dengan jujur.


"Kalau salah, Ca, minta maaf," ujarnya pelan.


"Siapa lelaki tadi, pacarmu?" tanyaku penasaran. Begitu mudahnya dia melupakan aku.


"Sudahlah, lupakan yang dulu-dulu. Kita masih bisa bersahabat, kan?" ujar Sarah di seberang sana.


"Terus kenapa tadi kau melarangku mengirim pesan?" tanyaku sakit hati.


"Ca, takut dia cemburu".


"Oh, begitu? Kenapa sekarang menelepon aku?"


"Cuma mau minta maaf dan Ca berharap kita jadi sahabat," sahut Sarah pelan.


"Sahabat seperti apa?" kejarku.


Hening. Tak ada jawaban Sarah.


"Kau begitu cepat melupakan aku, "ujarku kecewa.


"Maafkan, Ca ...”


Sambungan telepon diputus.

__ADS_1


Ya, aku maafkan kamu ... gumamku sendiri. Menjawab permintaan maaf Sarah.


Meski terasa sakit dan kecewa, sekuat hati aku ingin memaafkan Sarah. Kalau betul aku mencinta, harusnya aku ikut bahagia kalau Sarah menemukan bahagia pada lelaki pilihannya itu. Ayolah, Bono. Kau harus kuat. Cinta ini tak bisa membunuhmu.


***


Terlambat sekitar sepuluh menit, harusnya memang guru piket melarangku masuk sekolah, tapi dengan alasan ban sepeda motor bocor di jalan dan harus ditambal, mau nggak mau guru piket mengijinkanku masuk. Apa boleh buat, terpaksa berbohong soalnya takut daftar absenku bertambah banyak. Bisa-bisa mempengaruhi nilai ujianku nanti.


Aku masuk kelas ketika anak-anak yang lain sedang sibuk mengerjakan tugas yang diberikan guru bahasa Inggris. Mengalihbahasakan lagu anak Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kreatif memang guru-guru sekarang untuk membuat puyeng murid-muridnya. Segala macam lagu anak-anak dialihbahasakan. Apa nggak ada tugas yang lain?


Karena kamu terlambat masuk kelas, saya berikan tugas untuk mengalihbahasakan dua lagu anak-anak ke dalam bahasa Inggris! ujar Bu Rosa yang biasa kami sebut dengan panggilan Bu Oca.


Uh! Satu lagu saja belum tentu bisa, ini disuruh dua lagi. Aku bersungut-sungut dalam hati. Sambil mengeluarkan buku dari dalam tas, mataku melirik kiri kanan. Buset! Pada tekun semuanya seperti komposer sedang nulis lirik lagu. Aku bingung. Berpikir-pikir. Mau nulis lagu apa, ya?


Ayo, Bono. Mulai kerjakan jangan cuma bengong! seru Bu Oca.


Aku mulai mencari-cari bentuk. Biasanya kalau lagi terpojok begini, otak bebalku bisa jadi sangat kreatif. Itu menurut penilaianku sendiri, entah kalau penilaian orang lain. Ah, masa bodohlah. Aku sudah dapat idenya sekarang.


Poke a me a me


Be lay long cope you cope you


Tea poke addict van die


The of oh tan dock code a


Ball On Que


Ball on que are the lime a


Rope a rope a war nanny a

__ADS_1


He jaw cone ing club you


Me roach mood a than be row


Me let use ball on he jaw


Tart!


Hat tea que sung at cat chow


Ball on que thing go all am pad


Que pay gang


A rat a rat


Ketika Bu Oca meminta semua murid mengumpulkan tugas mengalihbahasakan lagu anak-anak Indonesia ke dalam bahasa Inggris, aku pun tak mau ketinggalan. Salah benar itu urusan nanti yang penting ikut menyerahkan dua lagu yang telah kualihbahasakan itu. Tugas selesai. Biasanya guru suka marah kalau kita tidak mau berusaha, tapi kalau sudah mati-matian mengerjakan tugas yang diberikan, mereka akan memaafkan kalau kerjaan kita ada salah-salah dikit.


Setelah jam Bu Oca selesai, kelas diiisi oleh Pak Alimin Nasution, guru matematika yang bengisnya setanding dengan penjajah Jepang. Aku berdoa semoga ada keajaiban yang bisa membuatku keluar dari kelas saat ini. Apa pasal? Pasalnya adalah pekerjaan rumah yang diberikannya minggu kemarin belum selesai kukerjakan.


Pintu kelas diketuk oleh Bu Novianti staf tata usaha sekolah, dia masuk dan langsung menghampiri Pak Alimin. Kulihat mereka membicarakan sesuatu, entah apa. Semoga saja Pak Alimin Nasution ada urusan penting sehingga dia harus meninggalkan kelas. Hh! Mudah-mudahan saja begitu.


Bono, kamu dipanggil Bu Rosa ke kantor guru, suara Pak Alimin terdengar seperti gelegar petir.


Seisi kelas memandang padaku. Uh! Kok, jadi salah alamat? Heran, malah aku yang dipanggil bukannya Pak Alimin, tapi syukur juga, berarti aku selamat dari masalah pekerjaan rumah yang belum selesai itu.


Aku melangkah keluar kelas diiringi oleh tatapan heran teman-teman sekelas. Jangankan mereka, aku sendiri pun keheranan. Ada urusan apa sampai Bu Oca memanggilku pada jam belajar. Pasti ada yang begitu penting, tapi apa, ya? Aku terus melangkah menyusuri selasar sekolah mengikuti Bu Novianti yang berjalan lebih dulu di depanku.


Ada apa sampai saya dipanggil, Bu? tanyaku penasaran pada Bu Novianti.


Saya juga tidak tahu, jawab Bu Novianti masih terus melangkah.

__ADS_1


__ADS_2