MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
BUKAN SITI NURBAYA


__ADS_3

Tante Puji menatap Sarah dan aku bergantian. Aku betul-betul mati kutu. Sarah sudah seperti kepiting rebus. Merah matang wajahnya, akibat kelepasan ngomong memanggilku dengan sebutan ayang di depan mamanya.


Hm! Tante Puji—mamanya Sarah— berdehem.


"Bentar, ya. Sarah bikin minum dulu," ujar Sarah langsung ngacir meninggalkan ruang tamu.


Sepeninggal Sarah, kini tinggal aku dan Tante Puji duduk berhadapan. Dia meneliti wajahku. Kalau aku jangan ditanya, rasanya kepingin terbang saja dari tempat itu.


"Bono.”


"Ya, Tante?" aku tersenyum canggung.


"Tante dengar Sarah memanggil kamu dengan sebutan ayang. Apa artinya itu?"


Aku semakin canggung, seperti berhadapan dengan hakim yang akan memutus vonis atas kejahatanku. Tante Puji masih memandangku dengan tatapannya yang tajam, tapi tidak kejam.


“A-artinya ..." aku meringis—seperti mau menangis.


"Apa?" kejar tante Puji.


"Itu, Tante ...”


"Itu, apa?"


“Artinya, sa-sayang ..."


Tante Puji manggut-manggut.

__ADS_1


"Oh, ayang itu artinya sayang, ya. Berarti kalian pacaran, dong?"


“Betul Tante, tapi Bono sudah ijin sama Bawon, kok," ujarku membela diri.


"Seharusnya kamu minta ijin Tante, bukannya sama Bawon."


Aku nyengir seperti kuda kesiram air.


“Kalau begitu Bono minta ijinnya Tante sekarang saja,," ujarku memberanikan diri. Udah kepalang basah, nyebur aja sekalian.


“Kamu tahu nggak, kalau Tante tidak mengijinkan Sarah pacaran?"


Aku terkejut setengah mati. Apa yang dikatakan Tante Puji itu membuatku tersadar dari mimpi indah. Tidak diijinkan?


"Tante akan menelepon Mama kamu, Bono."


Ternyata Tante Puji dan mama satu merek juga. Apa salahnya kalau pacaran, asal baik-baik saja. Aku pernah dengar dari tante Puji sendiri, kalau dulunya dia pacaran juga dengan papanya Bawon dan Sarah sebelum mereka kawin. Kenapa sekarang dia melarang anaknya pacaran? Apa nggak salah kaprah namanya?


Lho? Kok, Tante Puji tahu kalau tadi aku ngomongin dia dalam hati? Aku semakin mati gaya di hadapan mamanya Sarah. Ucapannya tadi seolah membalasku secara telak.


"Jadi Bono harus bagaimana, Tante?" aku menyerah kalah.


"Nanti Tante telepon Mama kamu saja."


"Telepon Mama buat apa, Tante?" tanyaku bingung.


“Tidak apa-apa, Tante dan Mama kamu itu kan sahabat lama, sejak sekolah sampai kuliah kami selalu bersama. Ya, seperti kamu dan Bawon sekarang. Ke mana-mana selalu sama. Kamu itu sudah dianggap keluarga di rumah ini."

__ADS_1


Penjelasan Tante Puji membuatku agak lega sedikit, tapi kenapa dia melarang Sarah pacaran, apa dia tidak percaya padaku? Katanya sudah dianggap seperti keluarga?


Aku celingukan menunggu kedatangan Sarah yang katanya mau bikin minum, tapi belum nongol juga sampai sekarang. Kalau sendiri begini menghadapi mamanya, aku jadi mati kutu. Coba saja tadi Sarah tidak kelepasan ngomong manggil aku dengan sebutan ayang tentu saja keadaannya tidak seperti ini. Kemarin-kemarin aku datang, tante Puji wellcome aja, tuh! Mungkin dikiranya aku cuma mau ketemu Bawon, dia tidak mengira kalau aku pacaran sama Sarah.


***


Aku pulang ke rumah tanpa prasangka apa-apa, nyantai aja. Pengalamanku tadi yang mati kutu di hadapan mamanya Sarah, sudah tidak membebani pikiran lagi. Setidaknya hubunganku dengan Sarah sudah diketahui mamanya. Soal dia tidak suka kalau anaknya pacaran denganku itu soal lain. Tinggal melobi mama saja, supaya Tante Puji luluh hatinya dan merestui hubunganku dengan Sarah. Kan, mereka sahabat karib? Urusan bisa jadi gampang. Case closed!


"Bono," suara mama memanggilku.


Pucuk dicinta, ulam tiba. ada benarnya juga kata pepatah. Baru saja masuk rumah, aku sudah dipanggil mama. Sekalian saja ngomogin soal tante Puji, nggak perlu nunggu besok-besok.


"Ya, Ma?" aku menghampiri mama yang sedang membuka-buka buku di ruang baca.


"Sini, Mama mau bicara."


Aku datang mendekat.


"Ada apa, Ma?"


Mama menutupkan buku, meletakkannya ke atas meja dekat tempat duduknya. Dia tersenyum menatapku. Ada apa, sih? Aku bingung melihat sikap mama. Kok, sepertinya serius, tapi santai.


"Tadi Tante Puji menelepon Mama."


Deg! Kalau begini nggak jadi santai, deh! Abis dua orang “petinggi negeri” sudah saling teleponan, ada apakah gerangan? Aku mengambil tempat duduk di dekat mama. Bersiap-siap mendengarkan apa yang akan dibicarakannya.


"Tante Puji ngomong sama Mama."

__ADS_1


Ampun, dah! Mama bertele-tele. Kenapa enggak langsung saja. Mana jantung udah empot-empotan begini. Tante Puji ngomong soal apa? Pasti soal Sarah, kan? Iya, kan? Aku menduga-duga dalam hati.


"Dia mau menjodohkan kamu dengan putrinya, Sarah."


__ADS_2