
Siang yang tadinya panas terik berganti menjadi mendung. Gelap menyelimuti langit dan angin bertiup agak kencang hingga menerbangkan debu yang membentuk pusaran kecil seperti badai pasir menghadang laju sepeda motorku. Meskipun begitu aku terus bergerak di antara kendaraan yang memenuhi jalan Surabaya. Namun titik air lebih cepat datangnya dari perkiraan. Cepat sekali titik-titik air yang kecil bagai jarum-jarum halus itu berganti menjadi hujan deras. Tak ada pilihan lain kecuali mencari tempat berteduh. Aku mengarahkan sepeda motor ke deretan pertokoan dan menepi dengan tubuh nyaris basah kuyup.
Satu persatu pengendara sepeda motor yang terjebak hujan menepi dan ikut berteduh di emperan toko. Ah, jalan Surabaya, daerah pecinan yang dalam sejarahnya dulu bernama jalan Kanton. Waktu masih kecil, papa selalu mengajakku membeli sepatu di daerah ini. Karena memang jalan Surabaya dan sekitarnya merupakan pertokoan yang menjual sepatu sebelum akhirnya kalah pamor dengan munculnya pusat-pusat perbelanjaan megah yang bertabur di kota Medan. Tinggal-lah kawasan jalan Surabaya sendiri dan sepi. Aku menyebutnya sebagai kota tua meskipun penampilannya tidak setua bangunan di daerah Kesawan. Di sana masih ada bangunan kuno, rumah peninggalan Tjong A Fie. Papaku bilang Tjong A Fie itu adalah seorang saudagar Tionghua dan konglomerat pada jamannya dan dikenal juga sebagai dermawan serta banyak menyumbang untuk kemajuan pembangunan kota Medan. Lalu di seberang jalan, tidak terlalu jauh rumah bergaya oriental milik Tjong A Fie, ada rumah makan Tip Top tempat hangout tuan-tuan dan noni Belanda jaman dulu. Arsitektur bangunannya masih asli dan kata papaku tempat membakar rotinya pun masih memakai oven peninggalan jaman dulu dan bahan bakarnya menggunakan kayu bukan listtik. Sungguh sejarah dan kenangan yang mahal untuk dibuang begitu saja. Apa yang selalu mengingatkanku pada papa adalah, dia suka membawaku berkeliling kota Medan serta bercerita tentang sejarah kota ini padaku. Ketika aku bertanya, papa selalu bisa menjawabnya, lalu dia tersenyum dan mengakui kalau dulu saat seusiaku dia juga sering dibawa kakek berkeliling kota Medan serta menceritakan sejarah apa yang tersimpan dibalik sebuah bangunan atau jalan-jalan di kota ini. Aku seolah terlempar ke masa lalu, sementara itu hujan masih turun dengan derasnya, angin bertiup menebarkan hawa dingin. Ah, tiba-tiba saja aku jadi teringat papa. Bagaimana kabarmu wahai lelaki gagah?
Hujan masih turun menghadirkan tirai air yang mengaburkan pandangan. Aku menggigil ketika angin bertiup dan menerpa tubuhku yang basah. Tiba-tiba saja ada sepeda motor datang dan menepi. Seorang perempuan yang duduk di boncengan turun dan berlari menuju emperan toko. Ketika dia berada di dekatku, seketika itu pula aku terkesiap. Sarah?! Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk.
"Apa kabar?" aku menyapanya dan berusaha menenangkan perasaan.
Sarah tak menjawab dan laki-laki yang memboncengnya tadi datang mendekat sambil mengibaskan pakaiannya yang basah. Aku tak kenal siapa dia. Mungkin teman sekolah Sarah atau pacar barunya. Entahlah ...
"Ca, sori ya seharusnya tadi aku bawa mobil, tapi siapa yang tahu hari ini akan turun hujan?" ujar cowok itu mesra.
Sarah menarik lengan lelaki itu dan menjauh dari tempatku berdiri. Ada yang menusuk hatiku tiba-tiba. Lelaki itu memanggil Sarah dengan sebutan, Ca. Hanya orang-orang istimewa dalam hidup Sarah yang memanggil seperti itu. Angin bertiup lagi menambah gigil tubuhku. Untuk semua inikah kau korbankan hidup? Ah, Bono. Kau memang pecundang!
__ADS_1
Aku mengambil handphone dan mengetik pesan:
Siapa dia , Ca?
Pesan kukirim. Mudah-mudahan saja nomor handphone Sarah masih yang dulu. Selama ini aku tak pernah menghubunginya lagi, tapi aku berharap dia belum mengganti nomornya. Pesan pun terkirim. Thanks, God!
Aku mencuri-curi pandang ke arah perempuan yang telah meremukkan hatiku itu. Dia mengambil sesuatu dari saku. Pasti sedang mengambil handphone. Baca dan balaslah pesanku, Ca. Harapku dalam hati. Syukurlah, nampaknya dia membaca dan membalas pesanku. Aku melihat Sarah memencet-mencet keypad handphone-nya.
Pesan balasan masuk ke handphone-ku :
Pesan dari Sarah kubalas lagi :
Kenapa dia memanggil dengan sebutan, Ca?
__ADS_1
Sarah membalas pesanku :
Memang kenapa?
Pesan balasan kukirim lagi:
Dia pacarmu?
Pesanku dibalas Sarah:
Sudahlah jangan tanya lagi.
Handphone kusimpan di saku. Selesai sudah. Tak ada yang perlu diingat-ingat, biarlah Sarah menjadi masa lalu dan sesekali muncul kembali dalam ingatan. Pergilah yang pergi. Hatiku pun membeku, keras seperti batu. Memang ada baiknya mencinta tak sepenuh jiwa. Kalau pun dia berpaling masih ada cinta lain tempat berlabuhnya hati.
__ADS_1
Hujan reda perlahan, menyisakan rinai gerimis. Bergegas aku dari emperan toko dan memacu sepeda motor berlalu meninggalkan jalan Surabaya yang penuh kenangan. Tentang papa, tentang sekelumit sejarah kota ini dan sekarang kenangan itu bertambah panjang dengan hadirnya Sarah bersama seorang lelaki di siang yang basah oleh hujan.