MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
TERDAMPAR DI JALAN


__ADS_3

Sekarang baru aku tahu kalau langit itu tinggi setelah tidak lagi berada dalam naungan mama. Dulu aku merasa semuanya bisa diraih, apa-apa minta sama mama, sedikit-sedikit lapor mama. Semua akan menjadi baik-baik saja kalau bersama mama, tapi sekarang? Perutku minta sarapan saja aku tak sanggup memenuhinya, apalagi minta yang empat sehat lima sempurna? Meskipun bagiku lima itu masih nilai jeblok yang warnanya merah. Harusnya delapan pintar, sepuluh jenius! Hehehe ... ngelantur, maklum lamunannya orang kelaperan.


Aku masih terus melangkah menyusuri jalan S. Parman hingga sampai ke pasar Petisah. Kenapa aku menuju tempat ini? Sederhana saja, karena Petisah adalah pasar tempat berjual beli. Apa saja ada dan tentu saja tak ketinggalan penjual makanan. Sekarang cara untuk mendapatkan makanan itu yang harus kupikirkan. Di kota besar mustahil kita mendapatkan makanan dengan cara gratis kalau tidak merupakan sebuah keajaiban. Dari manakah keajaiban itu akan datang? Ya, dari Tuhan, abis mau dari mana lagi? Dasar manusia, kalau lagi susah, kelaparan, ditimpa bencana, semua baru pada ingat pada Tuhan. Menyebut nama-Nya dengan khusyuk. Seolah-olah besok akan mati, tapi kalau sudah senang sedikit, boro-boro ingat. Ngasih sumbangan aja paling banter seribu, udah gitu minta didoakan masuk surga lagi. Murah, amir?


Pagi beranjak siang, aku berdiri di dekat penjual es dawet. Seorang pemuda bercelana jins, kaos oblong dan mengenakan topi caping. Memang enggak matching. Harusnya dia pakai topi pet, tapi sudahlah yang penting dia bisa diajak berbisnis atau tidak? Aku meliriknya dan dia melirikku. Aku membuang mukaberpikir dan menimbang-nimbang. Tadi aku sempat membaca tulisan di gerobak dorongnya: Es Dawet Ayu from Banjarnegara. Hebat! Orang Banjarnegara pakai from? Whatever-lah, berarti dia dari Jawa dan aku harus memanggilnya dengan sebutan mas, kalau perlu pakai Raden biar dia senang dan bisa diajak berbisnis.


Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku mendekati gerobak es dawet. Melempar senyum, senyum orang menahan lapar. Si Mas penjual es dawet balas tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Es dawet, Mas?" tawarnya ramah.


Aku lebih mendekat lagi ke arah Si Mas penjual es dawet.


"Mas, mau beli celana jins, enggak?" tanyaku sambil berbisik takut didengar cewek dan ibunya yang sedang menikmati es dawet, duduk di bangku panjang tidak jauh dari gerobak dagangan.


Si Mas penjual es dawet terpelongo, menatapku sambil tersenyum, tapi kaget. Ayo, senyum seperti apa itu? Ya, mirip-mirip kambing kesiram air. Kaget tuh, soalnya kambing mana ada yang suka mandi, kan?


"Celana jins?"


"Iya, Mas. 501 Original", ujarku penuh harap.


"Apa itu, nomer togel?"


"Si Mas ini, masih suka pasang nomor buntut, ya? Awas lho, ntar ketangkep masuk penjara," ujarku kesal. Kok, larinya ke togel, sih?

__ADS_1


"Jadi maksudnya sampeyan 501 itu apa?"


"Itu merek jins yang mau kujual sama si Mas."


"Kok, mereknya aneh?"


Ampun, dah. Masa sih, merek jins terkenal begitu dia enggak ngerti? Nanti kalau kusebutin dengan lengkap dibilang iklan terselubung? Ah, sudahlah sebutin aja siapa tahu dapat share dari produsen jins itu. Lumayan, kan?


"Levis 501, aneh kalau si Mas enggak tahu," seruku heran.


"Oooh, lepis?" si mas penjual es dawet tersenyum.


"Iya, Mas. Lepis legit," aku tersenyum senang. Paling tidak, ada harapan untuk mendapatkan uang dengan cara menjual celana jins yang ada di ranselku.


"Postur kita enggak beda jauhlah. Pasti pas buat si Mas."


"Ini hasil dari maling apa punya sendiri" selidiknya.


"Ya, punya sendirilah, Mas. Masak aku ada tampang maling?"


“Halah, itu yang nyolong duit negara, wajahnya bagus-bagus?"


Bener juga, ya? Pintar Si Mas ini. Opo ra pinter. Wong sambil nungguin pembeli es dawet, dipakai buat baca koran. Pastilah dia hapal wajah-wajah para koruptor itu. Ah! Kalau bayangin tampangnya para koruptor pas lagi laper-laper begini, mau rasanya nyedot mbun-mbunan-nya. Anggap aja lagi nyruput es kelapa muda.

__ADS_1


"Berapa duit ini mau dijual?"


“Nopek aja, Mas"


“Nopek itu berapa?"


Berapa, ya? Aku pernah dengar, tapi lupa berapa. Wah, gagal ceritanya kalau bisnis terlihat bego begini. Aku nyengir sambil garuk-garuk saku celana. Bakalan kosong melompong lagi ini perut! Tiba-tiba perutku berbunyi kriuk-kriuk, Si Mas penjual es dawet ikut mendengarnya. Dia melongo menatap perutku.


“Laper ya, Mas?" tanyanya lugu. Udah tahu bunyinya begitu masih nanya lagi.


"Iya, aku kehabisan duit. Mau beli nggak celana jins-nya?"


"Jual berapa, Mas?"


"Dua ratus."


“Ribu?"


"Iya, masa dua ratus perak?"


"Kalau beli baru duit segitu dapet dua, Mas."


"Iya, celana jins cap kuda terbang!" ujarku sengit. Mana perut lagi lapar, bawaannya mau marah aja. Grrhhh..!

__ADS_1


__ADS_2