MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
KAWAN BARU


__ADS_3

Kenia terlihat penasaran.


"Bete kenapa?" selidiknya karena tak kunjung mendapat jawabanku.


"Banyak masalah, Mbak," jawabku sekenanya.


Bukan perempuan biasa itu tertawa renyah. Barisan giginya yang rapi dan putih bersih nampak sangat menarik. Belum lagi alis matanya yang tebal serta hidungnya yang bangir. Mata coklat bening dan tulang pipi yang sempurna ditambah dengan belahan kecil di dagunya. Uh, sempurnalah sudah kecantikan wajahnya. Aku menaksir usianya tak jauh-jauh dari Kak Farah. Sekitar 22-23.


"Semua orang punya masalah. Hidup ini saja sudah masalah, tapi itu bukan alasan untuk kita menjadi murung. Betul, kan?" ujarnya terdengar bijak.


Pintar dia. Pujiku dalam hati.


“Mungkin betul," aku nyengir. Kelihatan bodoh tentu aja.


"Nah, kalau sudah tahu begitu kenapa bete, apa alasannya?"


“Diputusin sama pacar," jawabku jujur.


"Alasan kampungan!" ujarnya tersenyum sambil ******* puntung rokok di asbak.


Wah, beraninya dia menuduhku kampungan. Apa nggak takut dia kalau aku marah? Kutatap perempuan berwajah indo itu, bukannya dia menghindar malah balas menatapku. Uf! Sekarang aku bisa melihat jelas kecantikannya. Tidak seperti tadi cuma sekilas dan lebih banyak melihat dari samping. Kak Farah saja lewat sama dia. Selama ini kupikir Kak Farah, Mediana dan Sarah saja cewek yang paling cantik luar biasa. Ternyata ada yang lebih luar biasa lagi cantiknya. Memang betul di atas langit masih ada langit.


"Nama kamu siapa?" dia bertanya dengan suara yang lembut.


Senang hatiku tentu saja. Cewek luar biasa menanyakan namaku. Sebelum menyebut nama aku tersenyum dulu. Kesan pertama itu penting untuk seterusnya terserah dia.

__ADS_1


"Namaku, Bono."


Dia tertawa ketika mendengar siapa namaku.


"Bono? Personil Band Rock U2, ya? Band jadul!" ujarnya masih tertawa.


Permulaan yang bagus. Ternyata dia mengenal nama yang kusandang serupa dengan pentolan grup band legendaris asal Irlandia itu. Ah, dia memang bukan perempuan biasa. Aku semakin terpesona, tapi kenapa dia tidak balas memperkenalkan namanya?


Kukuruyuk ... kukuruyuk ... panggilan masuk terdengar. Kuambil ponsel dari saku celana yang berbunyi sekaligus bergetar. Untung saja kekuatan getarannya pelan, kalau sampai 7.6 skala richter? Bayangkan saja akibatnya, tapi ketika aku melihat nama Mama yang tertera di layar ponsel kekuatan getar melebihi 7.6 skala richter itu terasa mengguncangku juga.


"Ya, Ma?" suaraku takut-takut.


“Di mana kamu sekarang?" tanya mama.


"Di ini anu mana, Bono? Ngomong yang jelas!" suara mama terdengar lagi.


"Di luar," jawabku ragu mau bilang tempatnya di mana.


"Mama tau kamu di luar! Kenapa pergi nggak bilang sama Mama?!"


"Sebentar lagi Bono pulang," sahutku pelan.


"Mama tunggu!"


Telepon ditutup. Aku yakin mama pasti marah. Memang baru sekali ini aku keluar rumah diam-diam tanpa minta ijin. Aku memang jadi orang aneh sekarang.

__ADS_1


"Wah! Ternyata kamu anak Mama rupanya," cewek setara bidadari itu tersenyum mengejek.


Aku diam tak menanggapi.


"Memang cuma anak Mama yang selalu ditanyain begitu: kamu dimana, sama siapa, sedang berbuat apa?" tawa perempuan berwajah blasteran itu pecah, bahkan aku melihat tangannya memeluk perut saking gelinya, terkesan mengolok-olokku.


"Sorry, cuma becanda. Sana pulang!" ujarnya lagi.


Setelah mengejekku sebagai anak mama, cewek itu balik memuji. Katanya aku anak baik. Jarang sekali dia menemukan anak laki-laki yang masih patuh sama mamanya sekarang ini. Baru ditelepon saja sudah ketakutan mau pulang. Katanya lagi mamaku beruntung punya anak cowok yang cakep dan penurut. Sumpah, rasanya kupingku sudah selebar kuping gajah! Senangnya bukan main dipuji seperti itu.


Pembicaraan terus berlanjut dan cewek itu semakin membuka diri. Baru aku tau kalau namanya Kenia Dinar Ayu. Setelah lama menanti akhirnya dia perkenalkan juga siapa dirinya. Kenia berasal dari Bandung, kuliah di Medan, tinggalnya di apartemen.


Aku memang tidak salah menduga. Dia memang bukan perempuan biasa dan kukira bukan dari keluarga yang biasa-biasa juga.


"Boleh minta nomornya?" harapku.


"Nomor apa? Sepatu, celana, baju?" sahutnya kembali tertawa.


"Nomor teleponnya kalau boleh," ujarku lagi.


"Untuk apa?"


"Ya, sudah. Kalau nggak boleh," ujarku kecewa.


Mati akal juga kalau ketemu sama cewek begini. Aku cuma ingin bersahabat dengannya kalau dia mau. Kalau nggak pun, ya nggak apa-apa. Aku bisa cari teman yang lain. Dunia ini enggak selebar daun kelor, dunia ini lebar. Isinya nggak cuma Sarah, mama, Mediana dan Kak Farah. Ada juga bukan perempuan biasa, Kenia Dinar Ayu!! *

__ADS_1


__ADS_2