MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
HARI yang GABUT


__ADS_3

Sekarang hari minggu, enak mau ngapa-ngapain aja. Mau tidur seharian, pergi keluyuran, mau fesbukan atau game online. Wah, pokoknya tinggal pilih. Malah kalau libur sering kali aku jadi bingung sendiri mau pilih yang mana. Habis semuanya asyik, tapi kayaknya hari minggu ini aku mau ngelayap saja. Sudah lama juga nggak keluar rumah kecuali untuk urusan sekolah. Kalau di rumah aku selalu dihanyutkan oleh atmosfer dunia maya. Sehingga mama melabeliku sebagai robotnya Mark Zuckerberg, penggagas dan pendiri situs jejaring sosial Facebook yang kesohor itu. Kalau sudah berada di kamar aku memang selalu online dan jadi lupa sama dunia luar. Asyik sendiri membaca komen dari teman-teman di facebook, lalu ikut komen di dinding facebook mereka. Aku jadi suka ketawa-ketawa sendiri kalau lagi online, pokoknya lucu dan seru aja. Rasanya dunia ini cuma facebook. Akhirnya dunia nyata di luar sana jadi terlupakan. Bahkan aku tidak tahu kalau ada jalan di kota Medan yang semula dua arah sudah diubah jadi satu arah. Akibatnya aku kena tilang sama polantas, meskipun aku sempat protes kenapa nggak ada pengumuman dari pemerintah kota kalau aturan jalan sudah diubah. Pak polisi itu menerangkan kalau sudah ada pengumuman di koran-koran lokal sebelumnya. Aku cuma bisa ngomel dalam hati. Salah sendiri kenapa tidak membuat pengumuman di facebook, jadi mana aku tau? Malas ditilang, kusodorkan selembar dua puluh ribuan, tapi Pak Polisi itu malah melotot marah. Aku ya, jadi ciut nyali juga. Apa kurang banyak, ya? Duit dua puluh ribu itu kuganti jadi selembar lima puluh ribuan. Polisinya makin marah dan langsung menulis surat tilang. Ternyata masih ada Polantas yang nggak suka duit. Kirain udah nggak ada.


Hari minggu ini aku berniat keluar rumah sekadar menyegarkan otak untuk mengenal kembali seluk beluk kota Medan yang selama ini kurang kuperhatikan. Apa ada tempat nongkrong yang baru atau apa yang lagi trend di kalangan anak-anak remaja sebayaku. Pokoknya aku harus keluar mencari tahu apa saja perubahan yang sudah terjadi, tapi sekarang masih terlalu pagi, baru jam lima. Nanti dikira mama aku mau piknik, pagi buta begini sudah rapi-rapi mau pergi. Ya, udah. Menunggu agak siang sedikit mending aku online saja dulu. Siapa tau ada cewek baru yang ngajak berteman, lumayan nambah koleksi wajah-wajah cakep di facebook-ku. Pernah ada cewek, anak Bandung yang menarik perhatian, lalu aku memintanya jadi saudara, untungnya dia mau sehingga wajah cewek cantik itu selalu kudapati ada di deretan keluarga dunia mayaku yang berjubel itu. Saudara online! Ha-ha ....


"Bono?" mama muncul tiba-tiba di kamarku.


Sontak aku kaget dan menoleh. Mama geleng-geleng kepala melihatku. Ah, kenapa aku lupa mengunci pintu kamar, ya? Tadi setelah mandi dan berpakaian aku keluar kamar, pergi ke dapur membuat minuman. Kalau mengharapkan Bik Narti, jangan harap! Jam tujuh nanti baru semuanya terhidang di meja makan.


"Pagi-pagi begini kamu sudah online?" heran mama sambil mendekat ke arahku.


"Ya, Bono mau ngapain lagi, Ma?" tanyaku pura-pura bodoh.


"Sekarang masih jam enam pagi, kamu kan bisa lari pagi seperti Papa. Udara pagi begini masih segar dan sehat untuk paru-paru. Lari selama tiga puluh menit saja sudah cukup membuat tubuh kamu menjadi bugar."


Aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan mama, tapi mataku tetap terpaku ke layar komputer. Tanggung mau logout. Tadi ada komen menarik yang belum sempat kubaca semuanya, keburu mama muncul secara tiba-tiba di kamar.


"Kamu dengar Mama, kan, Bono?" suara mama lagi.


Uh! Beginilah kalau cuma aku sendirian saja di rumah jadi nggak ada lagi yang dimata-matai mama selain aku. Enak Kak Farah, dia jauh di Malaysia sana. Mau begadang semalaman online pun nggak ada yang menegurnya.


"Bono dengar, Ma," jawabku ragu. Tadi mama bilang apa saja, ya? Aku mikir sambil mengingat-ingat.


"Apa yang tadi Mama bilang?" tanya Mama penasaran.


"Pagi-pagi begini kamu sudah online?" jawabku meniru kata-kata mama yang masih kuingat.


Aku melirik mama, wajahnya merengut.


“Bukan yang itu maksud Mama."


"Jadi yang mana, Ma?"


"Lari pagi! Kamu harus olah raga biar sehat!"


"Bono sudah rapi begini? Besok-besok saja ya, Ma?" aku memohon.


Mama seperti tersadar dan meneliti sosokku dari kepala sampai ujung kaki. Lumayan ada alasan untuk tidak pergi lari pagi.


"Kamu mau piknik?" heran mama.


"Apa kalau pakai pakaian bagus harus piknik? Mama kurang gaul," komentarku menanggapi pertanyaan mama.


"Kamu itu yang kampungan, pagi-pagi sudah online" sembur mama nggak mau kalah.

__ADS_1


Diam-diam aku membuka facebook Kak Farah dan mengirimkan pesan ke messenger-nya.


Buset Kak, aku disuruh lari pagi sama Mama.


Mama yang sempat meleng dan tidak memperhatikan layar komputer membuat aku punya kesempatan untuk menuliskan keluhan itu ke messenger Kak Farah, kakak perempuanku yang sedang kuliah dan bermukim di Malaysia.


"Jadi kamu mau pergi ke mana, masih pagi buta sudah rapi begini?" tanya Mama heran.


"Mau keliling kota, udah lama Bono nggak keluar," aku beralasan.


"Makanya jangan fesbuk saja yang ditongkrongi!" mama menjawil kupingku dan beranjak pergi dari kamar.


"Ma?" panggilku.


Mama berhenti dan menoleh.


"Apa, minta duit? Kamu kan punya ATM?"


“Bukan soal duit. Mama tadi nyuruh Bono lari pagi seperti Papa, kan?' tanyaku memancing.


"Memang kenapa?"


"Mama sendiri nggak lari pagi?"


"Mama hari ini enggak enak badan!" tukas mama sambil bergegas meninggalkan kamarku.


Tiba-tiba aku melihat tanda merah di sudut kanan atas layar komputer, aku meng-klik ikon notifikasi itu dan ada pemberitahuan kalau Kak Farah sudah membalas pesan yang kukirim. Cepat ku-klik messenger dan membaca balasan dari Kak Farah.


Masih mending disuruh lari pagi, ketimbang disuruh kawin lari? Wkwkwkwk ....


Wadidaw! Kak Farah online juga pagi-pagi begini? Kalau sekarang di Medan jam lima pagi, di Kuala Lumpur sudah jam enam karena perbedaan waktunya cuma satu jam, tapi sama juga kan, jam enam itu masih pagi. Apa dia nggak ada kegiatan lain di sana, meskipun hari minggu nggak kuliah. Kok, malah enak-enakan online. Hh! Yang begini-begini mana pernah mama tahu. Dikiranya cuma aku saja yang jadi robot Mark Zuckerberg, ternyata Kak Farah juga ngikut!


Aku logout dan mematikan komputer, malas ngeladeni Kak Farah. Kalau dituruti, sampai siang nanti aku nggak akan bisa keluar rumah karena balas-balasan komentar terus sama kakak perempuanku itu. Dia ya enak, enggak ada yang memata-matai. Nah, kalau aku? Mama mau dikemanakan? Bisa-bisa dia seribu kali keluar masuk kamarku cuma untuk mengingatkan: Bono, jangan online terus. Bono, belajar biar kamu bisa pintar seperti Kak Farah.


Malas aku dicereweti terus seperti itu. Kak Farah dibanding-bandingkan dengan aku, ya jauh. Dia mewarisi kepintaran mama, kalau aku cuma dapat bakat hidung belangnya papa, karena dia kawin lagi dan menceraikan mama. Ha-ha-ha ... Manusiawi kan kalau laki-laki suka sama yang cantik-cantik dan bening? Oh ya, tapi aku nggak mata keranjang seratus persen. Buktinya aku cuma pacaran sama Sarah adiknya Bawon. Meskipun sekarang sudah putus aku tetap setia sama Sarah dan tak pernah berniat mencari penggantinya, karena berharap suatu saat nanti dia akan kembali.


Jam tujuh aku keluar kamar, di ruang keluarga bertemu sama mama dan langsung diajak sarapan bersama. Aku diseret mama ke ruang makan, di meja makan papa tiriku sudah menunggu.


"Pagi-pagi sudah rapi, mau ke mana?" tanya papa tiriku heran.


"Katanya dia mau keliling kota," jawab mama.


Aku duduk dan mengisi piring dengan nasi goreng, telur mata sapi, emping serta irisan timun dan tomat.

__ADS_1


“Minggu pagi begini keliling kota mau melihat apa?" komentar papa tiriku.


"Biarkan saja, Pa. Daripada dia nongkrongi facebook terus. Jadi orang aneh dia," balas mama berkomentar.


"Hari gini masih main facebook?" sindir papa tiriku.


Buset, dah! Pasti mainannya instagram ini. Papa tiriku yang narsis! Gumamku dalam hati. Lalu memandang mama yang sedang menekuni nasi goreng dihadapannya.


"Mama juga punya akun facebook, kan?" aku membela diri.


Mama lupa kalau sebenarnya facebook-lah yang mempertemukannya kembali dengan papa tiriku yang sekarang. Coba kalau enggak ada facebook, mana mungkin mama menikah dengan laki-laki yang dulu pernah dijodohkan dengannya itu. Abis yang satu di pulau Jawa, satunya lagi di Sumatera.


"Mama sekali-sekali buka facebook, nggak seperti kamu. Siang malam online terus. Masih mending dulu kamu suka keluar rumah dengan Bawon dan bergaul di dunia nyata," celoteh mama panjang lebar.


"Sekarang Bawon sibuklah dengan pacarnya," sahutku beralasan.


Memang sejak hubungan Bawon dan Mediana menjadi jelas dan mereka sepakat untuk saling membagi hati, waktu Bawon tersita hanya untuk kekasih hatinya itu. Kalau di sekolah mereka selalu ke kantin berdua, ke perpustakaan bersama. Kalau hari libur begini biasanya mereka pergi ke toko buku atau makan dan nonton di twenty one, berdua saja. Sering aku diajak ikut bergabung dengan mereka, tapi aku punya perasaan. Masa sih, orang pacaran diekorin?


"Kan nggak dua puluh empat jam Bawon pacaran dan nempel terus sama Mediana?" kilah mama.


"Ya, tapi nggak bisa seperti dulu juga, Ma. Kapan saja mau keluar sama Bawon bisa."


"Cari teman yang lain apa nggak ada, memang cuma Bawon saja teman kamu?"


Aku terdiam. Memang selama ini aku cuma akrabnya sama Bawon. Padahal banyak temanku yang lain, tapi memang nggak sama seperti Bawon. Dia sudah seperti saudara bagiku.


"Sudahlah, cari pacar saja. Kenapa Bawon temanmu itu punya pacar, kamu sendiri tidak?" papa tiriku bersuara.


"Mama yang melarang Bono pacaran," mama yang menyahut.


"Biarkan sajalah, Ma. Bono kan sudah 17 tahun?" ujar papa tiriku lagi.


Sip! Sekarang aku sudah punya pendukung. Tidak sia-sia rasanya ada papa tiri kalau begini.


"Sarah juga dilarang pacaran sama Mamanya," ujar mama menjelaskan.


"Siapa, Sarah?" tanya papa tiriku sambil menatap heran pada mama.


"Ya, mantan pacarnya Bono!" seru mama sambil menyuap nasi goreng.


Papa tiriku beralih menatapku. Sarapan paginya jadi terhenti.


"Kamu pernah pacaran juga rupanya?"

__ADS_1


"Tapi pacarannya diam-diam kayak maling!" sela mama cepat.


Sarapan pagi kali ini memang membuatku terpojok. Kisah masa lalu dengan Sarah diceritakan mama pada papa tiriku, bahkan tentang keengganan Sarah untuk bertunangan denganku pun dikatakan mama semuanya tanpa sensor. Di mata papa tiriku, aku ini seperti seorang lelaki cinta kelapa. Aku cinta, tapi ceweknya enggak apa-apa. Apes!


__ADS_2