
Huaaa..! Rasanya, Bulan, bintang dan matahari jatuh berhamburan ke dalam pelukan. Kisah Siti Nurbaya akan terulang kembali. Ah, tapi enggak juga. Beda, beda banget sama Siti. Kalau dia kan dikawin paksa, sedangkan aku dengan Sarah suka sama suka. nggak ada unsur pemaksaan. Lho, memangnya kami mau kawin?
"Terus Mama bilang apa?" tanyaku penasaran.
“Tante Puji tau kalau kamu pacaran sama Sarah. Kalau pacaran dia tidak setuju, katanya lebih baik kalian bertunangan saja. Mama ya, setuju-setuju saja, daripada pacaran yang komitmennya nggak jelas?"
Aku terdiam. Berpikir dan menimbang-nimbang dalam hati. Apa kata teman-teman sekolah kalau mereka sampai tau aku bertunangan sama Sarah? Masih sekolah juga udah mikir mau kawin? Betul, kan. Pertunangan itu langkah awal mempersiapkan pernikahan? Masa sih, kecil-kecil udah ngebet?
“Bagaimana, Bono?"
Suara mama membuyarkan lamunanku. Gagasan Tante Puji, yang mengusulkan pertunanganku dengan putrinya itu, kayak cerita sinetron! Penuh dengan adegan mulut mangap, mata melotot dan alis mata naik turun. Kalau aku bersikap seperti itu, pasti dilempar buku sama mama.
"Bagaimana apanya, Ma?" aku pura-pura bodoh.
“Jangan pura-pura bodohlah," geram mama.
"Ka-kalau, Bono ya nggak masalah, Ma".
“Kenapa jadi kayak Azis gagap gitu?" mama menyindirku.
"Gagap nggak gagap, Ma. Namanya juga mau dijodohin," aku berdalih.
“Lho, ini bukan mau dijodohin, kalian kan memang sudah pacaran? Maksud Tante Puji itu, Mama ngerti. Dia nggak mau anaknya pacaran yang tidak jelas juntrungannya."
"Iya, Ma."
"Iya, apa?" kejar mama.
"Ya, juntrungannya itu," sahutku asal-asalan.
"Besok Mama mau ketemu sama Tante Puji, kamu mau ikut?"
"Mama sajalah, ngapain Bono ngikut-ngikut?' aku menolak.
"Kenapa nggak mau ikut?"
__ADS_1
“Malu, sahutku jujur."
"Malau ketemu sama Tante Puji? Pacaran sama anaknya nggak malu?" sindir mama.
"Besok Bono mau ketemu Sarah dulu, Ma".
"Setiap hari ketemu apa nggak bosan?"
“Nggaklah, Ma. Mana ada ketemu setiap hari?" aku membela diri.
"Tadi aja buktinya, Tante Puji menelepon Mama, katanya kamu baru pulang dari rumah mereka?"
"Tadi iya, Ma. Kemarin kan nggak," aku berkilah.
Mama tersenyum kecut.
"Berkelit terus, deh!"
Perbincanganku dengan mama berakhir, keputusannya dia setuju kalau aku bertunangan dengan Sarah. Meski aku sendiri masih gamang mendengar kata tunangan itu, tapi tidak ada salahnya dicoba. Aku merasa keren aja. Jarang-jarang kan, anak sekarang masih sekolah udah tunangan? Baru gue aja kali. Hahayyy ...
***
"Tunangan?" Sarah menatapku dengan mimik wajah yang terlihat sinis.
"Iya, tunangan. Apa Mama kamu nggak ada bicara soal itu?”
"Nggak ada, belum kali. Siapa tahu nanti-nanti."
"Kalau Mamamu meminta kita tunangan, bagaimana?"
"Ih! enggak malu apa, kita kan masih sekolah?" Sarah mencibir.
"Kenapa mesti malu? Itu di kampung-kampung, belum selesai sekolah mereka banyak yang sudah dikawinkan," aku beralasan.
Sarah tertawa mengejek.
__ADS_1
"Iya, itu di kampung! Kita kan tinggal di kota?"
“Di kampung-kampung juga mereka sudah moderen, kok. Buktinya banyak yang punya facebooK twitter, instagram," ujarku membela diri.
"Oh, jadi ukuran moderen itu kalau udah punya akun tiktok? Norak, tau!" Sarah mencibir.
Yaaa ... siapa juga yang bilang tiktok?
"Itu kan artinya, mereka melek teknologi?' jawabku yakin.
Sarah ketawa makin kencang.
"Nggak, nggak banget!"
Aku bingung tidak tau lagi mau ngomong apa. Mungkin di mata Sarah aku sudah menjelma jadi seorang badut. Padahal sumpah mati, cakepan aku dibandingkan badut. Apalagi namaku Bono, sama persis dengan nama seorang personil grup band rock legendaris asal Irlandia, U2. Malah lebih cakep aku dibandingkan Bono U2, meskipun dia bule
"Terus kita mau bagaimana?" aku menyerah.
"Nggak taulah, bingung," Sarah terlihat kesal.
"Mama kamu tidak suka kalau kita pacaran," aku berusaha menjelaskan sekali lagi.
"Heran, Mama. Padahal kita pacaran nggak ngapa-ngapain, kok dilarang," Sarah ngomel sendiri.
“Mana dia tau kita nggak ngapa-ngapain? Orang tua memang bawaannya curiga melulu. Udah jamak!" aku menimpali.
Sarah menoleh dan menatapku.
"Terus kalau kita tunangan, apa bebas mau ke mana saja?"
"Ya, nggak juga," aku nyengir sendiri.
"Jadi apa bedanya sama pacaran?"
"Kalau bertunangan, kita melibatkan orangtua. Semua keluarga besar tau. Komitmennya lebih jelas."
__ADS_1
Tawa Sarah meledak. Sampai bahunya terguncang.
"Gilak ya, bahasanya? Komitmen ... komitmen ...”