
Berbekal surat rekomendasi dokter yang dipalsukan, aku merasa bebas keluyuran pada saat jam sekolah. Tentu saja aku tidak bodoh menggunakan seragam saat berkeliaran di tempat-tempat umum. Dari rumah pakai seragam, tapi di dalam tas aku sudah menyiapkan pakaian pengganti lalu bertukar pakaian di kamar mandi masjid tidak jauh dari rumah.
Ini hari ketiga aku menikmati kebebasan dari rutinitas sekolah. Hari pertama bolos sekolah, aku menghabiskan waktu di mal, main di time zone, makan di cafe, setelah itu nonton di twenty one.
Apa yang kudapatkan selama keluyuran adalah, hidup ini rumit dan berat. Semua orang punya masalah, setiap orang pernah mengalami kesusahan, tapi kalau kupikir-pikir, masalahku yang paling berat dan kesusahanku yang paling susah.
Ah, cinta memang bisa membuat kita bahagia seolah melambung di awan, tapi bisa juga membuat orang jadi gila dan berniat bunuh diri. Meski aku merasa tidak gila dan tak berniat bunuh diri, tapi tetap saja aku merasa hancur berkeping-keping. Karena itulah aku ingin melupakan rasa sakit hati dan kecewa dengan mencari suasana yang lain dari biasanya. Bolos sekolah lalu keluyuran. Nikmati saja hidup ini dan biarkan waktu yang akan menyembuhkan luka.
Hari ketiga ini aku berencana keluyuran di mal yang lain lagi,, tapi karena masih terlalu pagi, mal masih pada belum buka. Aku memutuskan untuk keliling kota saja dulu menunggu sampai pukul sepuluh, ketika pusat perbelanjaan mulai buka. Cuci mata memang tempatnya di mal. Orang bisa lupa waktu dibuatnya. Mungkin kalau tidak ada tujuan yang lain lagi, aku memutuskan untuk menghabiskan sisa ijin palsu selama sebulan hanya keluyuran di mal-mal saja.
Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit aku sudah berada di Sun Plaza . Suasananya masih terlihat sepi. Pengunjung belum terlalu ramai. Kesibukan yang jelas terlihat adalah pemilik toko dan pramuniaganya sedang memulai aktivitas. Ada yang sedang menata letak produk yang dijual dan ada yang lagi menyemprotkan cairan pembersih pada dinding kaca tokonya.
Aku menaruh hormat pada pramuniaga cantik yang sedang membersihkan display toko yang dijaganya. Bagiku cewek seperti itu telah memuliakan dirinya dengan bekerja. Dia memilih jalan yang benar untuk hidup tidak seperti cewek yang suka nongkrong di mal atau pub bahkan diskotek mencari om-om berkantong tebal. Mereka itu lintah darat dan pasangannya buaya darat. Klop!
Aku terus melangkah dan menyusuri koridor yang memisahkan deretan toko-toko yang saling berhadapan. Di ujung koridor, seorang perempuan yang berdiri di depan pintu tokonya menegurku.
"Cari apa, Mas?" sapanya ramah.
__ADS_1
"Cari pacarlah ..." jawabku menggoda sambil terus melangkah.
Cewek pramuniaga itu cuma tersenyum membalas ucapan dan sikapku yang seakan melecehkannya. Aku terus saja berjalan, tapi tiba-tiba ... Ah, Tuhan. Beginikah caraku menghormati seorang perempuan pekerja keras seperti dia? Aku berbalik dan kembali melangkah menghampiri perempuan pramuniaga yang masih berdiri di depan tokonya. Aku tidak lebih apa-apa dibandingkan dia. Justru dia lebih hebat daripada aku. Perempuan pramuniaga itu sudah bisa mencari uang untuk dirinya atau mungkin untuk membantu keluarganya. Sedangkan aku?
"Maaf, Mbak. Tadi aku cuma bercanda," ujarku ketika sudah berada di dekatnya.
Perempuan pramuniaga itu tersenyum melihatku.
"Tidak apa-apa."
Perlahan aku masuk ke dalam toko.
Aku celingak-celinguk. Di dalam toko yang tidak terlalu luas itu terdapat berbagai barang-barang elektronik. Ada televisi mobil, kamera digital, Ipod sampai desktop charger. Wah, Buat apa aku beli barang-barang seperti ini? Ya, untuk menebus rasa bersalah, aku harus membeli sesuatu dari toko ini sebagai bentuk permohonan maaf pada perempuan pramuniaga yang tadi mungkin saja telah kusinggung perasaannya dengan kata-kata bernada melecehkan.
"Cari apa, ya?" dia bertanya lagi. Tak ada kesan tersinggung di wajahnya.
Tiba-tiba aku melihat ke display dekat pintu masuk toko, ada deretan flashdisk yang tersusun rapi di balik kaca jernih yang diberi penerangan sangat bagus. Aku mendekat dan melihat-lihat. Perempuan pramuniaga itu ikut berdiri di dekatku.
__ADS_1
"Mau cari flashdisk, ya?" ujarnya bertanya masih dengan suara yang lembut.
"Ya, kasih satu, " awabku sambil menoleh padanya.
"Yang berapa giga?"
"Dua aja."
Perempuan pramuniaga itu bergegas mengambilkan flashdisk berwarna hitam dengan garis biru melengkung di batas penutupnya.
"Berapa, Mbak?"
"Seratus ribu."
Aku mengambil uang dari dalam dompet dan meletakkannya di meja kasir. Setelah menerima bungkusan plastik kecil berlogo tokonya, aku melangkah keluar dan tak lupa mengucapkan maaf sekali lagi pada perempuan pramuniaga itu.
"Maafkan saya ya, Mbak. Tadi itu cuma bercanda."
__ADS_1
"Tidak apa-apa," senyumnya mengembang lagi.
Rasa lega di dada menyeruak seketika, setidaknya aku telah dimaafkan. Aku pun beranjak meninggalkan toko sambil memasukkan bungkusan plastik berisi flashdisk ke dalam saku celana jins.