MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
BERKENALAN dengan ANAK PUNK


__ADS_3

Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, aku sudah meluncur di jalan. Suasananya memang tampak lengang. Toko-toko dan pusat perbelanjaan masih banyak yang tutup. Melintas di taman kota pun, aku tak menemukan apa-apa selain orang-orang yang bersiap pulang setelah berolah raga pagi. Biasanya tempat hangout anak-anak muda ya, di café apa yang berada di mal, café rumahan atau sekadar di tenda. Biasanya kalau udah malas nongkrong paling mereka pergi ke diskotek. Cuma itu saja kukira. Kalau yang suka main musik ya, nongkrongnya di studio yang bisa disewa per jam. Selebihnya aku nggak banyak tau, maklum anak rumahan. Sekarang masih pagi begini, siapa yang mau nongkrong? Tempat hangout-nya saja masih tutup dan orang-orang yang rajin nongkrong itu pun masih pada ngorok. Sia-sialah aku keluar hari ini. Lalu kuputuskan untuk pulang ke rumah. Biarlah malam nanti aku keluar lagi untuk mengintip geliat kehidupan malam beserta para penggiat nongkrongnya itu.


Menuju pulang ke rumah, lewat sedikit dari Universitas Panca Budi, hampir saja aku menabrak seseorang ketika dia mau menyeberang jalan. Aku berhenti dan menepi.


"Kenapa nyeberang nggak lihat kiri kanan?" tanyaku sambil memarkir sepeda motor di pinggir jalan.


"Kau yang jalan ngebut saja!" semburnya marah.


Wah! Sekilas tadi aku tidak menangkap sosoknya yang begitu rupa. Mengenakan kaos ketat, celana kuncup yang juga ketat membuat kakinya nyaris terlihat seperti lemper. Rambutnya jangan ditanya, aku saja hampir ketawa melihatnya. Di bagian samping cepak hingga menampakkan kulit kepala, tapi di bagian atas rambutnya panjang dan disisir berdiri seperti kipas. Setauku itu adalah gaya mohawk. Aksesorisnya jangan ditanya lagi. Ikat pinggang yang berduri-duri, kalung, anting, gelang tangan. Semuanya berpaku-paku. Apa dia dari komunitas punk? Sudah sampai ke kota inikah komunitas itu? Ah, dia pasti anak Medan. Dari gaya bahasanya tadi aku yakin kalau dia memang anak Medan. Ternyata aku memang tak mengikuti perubahan di dunia nyata. Komunitas anak-anak punk sudah ada juga di kotaku ini.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyaku.


"Kenapa kau ngebut tadi, dikejar setan, ya?!" dia balas bertanya. Ketus.


"Biasalah, mumpung sepi, enak dibawa ngebut," jawabku santai.


"Iya, tapi tengok-tengok oranglah. Kalau tadi aku kena tabrak? Apa kau mau tanggung jawab? Paling-paling kau lari!" sergahnya sengit. Masih dengan logat Medan yang kental.


"Namaku Bono, kamu siapa?" aku mengulurkan tangan.


"Aku Giring. Panggil saja aku Gir!" jawabnya tanpa membalas uluran tanganku.


Aku kembali menarik tanganku yang masih menggantung ke arahnya. Apa anak punk tidak suka berjabat tangan, ya? Atau mereka punya cara sendiri untuk bersalaman? Mungkin dengan cara memukul dan memutarkan tangan seperti gayanya Martin Lawrence? Ah, entahlah. Aku nggak ngerti, yang kutahu cuma facebook. Dunia nyata yang telah lama kutinggalkan ini, ternyata lebih komplit. Aku sudah banyak ketinggalan informasi.


"Suka nongkrong di mana?" tanyaku menyelidik.


"Di sekitar sinilah," jawabnya pendek.


Kuarahkan pandangan ke sekitar tempat itu. Sampai ke perempatan pasar Sei Sikambing, deretan ruko Tomang Elok. Ups! Ada sekelompok anak-anak punk bergerombol di pinggir perempatan itu.


"Itu teman-teman kamu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ya, kenapa?"


"Nggak, cuma nanya aja,” sahutku berlagak santai.


Anak punk yang mengaku bernama Giring itu melangkah menuju halte sambil mengeluarkan bungkus rokok dari saku celana jins ketatnya.


"Kau merokok?" tanyanya sambil menyulut sebatang rokok lalu mengembuskan asap yang mengepul dan pecah berhamburan di udara.


"Kadang-kadang, kalau aku lagi gabut," jawabku jujur.


"Ini ambil kalau mau," Giring meletakkan bungkus rokok di bangku halte.


Yup! Inilah saatnya untuk bergaul di dunia nyata. Kalau di facebook aku sering dikirimi bunga, coklat dan entah apa lagi, tapi semua itu cuma maya, nggak bisa disentuh apalagi dirasakan. Cepat aku memindahkan sepeda motor dari pinggir jalan dan memarkirnya di samping halte.


"Anak mana?" Giring bertanya ketika aku baru saja duduk di bangku halte.


"Aku tinggal di Gaperta. Kamu anak mana?" jawabku sekalian balas bertanya.


"Orang tuaku di Siantar. Kalau di Medan ini aku kost."


"Siantar? Kenal sama Bik Narti?" tanyaku senang.


“Bik Narti, siapa dia? Siantar-nya tinggal di mana?" Giring menoleh padaku sambil mengelus-elus rambut mohawk-nya.


Halah! Kenapa aku jadi ngelantur begini, ya? Segala macam Bik Narti kutanya sama anak punk. Ya, mana dia tau? Itulah akibat aku terlalu sering bergaul di dunia maya. Mau nanya dan komentar apa saja pasti nyambung dan sudah pasti asyik. Salah benar bisa dimaafkan. Dunia maya seperti di facebook memang serba permisif.


"Siapa itu Bik Narti?" tanya Giring penasaran.


"Ah, itu. Orang yang bantu-bantu di rumah," jawabku malu hati.


Pasti dikiranya aku anak idiot. Bertanya yang nggak-nggak dan ngawur. Segala Bik Narti ditanyain?

__ADS_1


Kulihat Giring tak bereaksi. Dia kembali mengepulkan asap rokok yang bertebaran seperti sapuan lukisan abstrak di udara.


"Kamu kost di mana?" tanyaku ingin tau.


Anak punk itu membuang puntung rokok dengan menjentiknya dan jatuh memantul di aspal jalan.


"Di Sunggal," awabnya tanpa menoleh.


"Kamu sekolah, kuliah atau kerja?" tanyaku lagi.


"Kau anak mana, bukan anak Medan, ya?!" Giring tak menjawab malah balik bertanya dengan nada ketus kepadaku.


"Aku anak Medan, kenapa memang?" jawabku sekenanya.


"Gaya bahasa kau macam bukan anak Medan."


Wadidaw! Segala gaya bahasa diributkan. Kalau mau pakai bahasa yang bagus, ya bahasa Melayu. Itu kan akar bahasa Indonesia? Ada apa gerangan dengan dirimu wahai sahabat? Sudah lama tiada kabar berita. Ha-ha-ha ....


"Sudahlah, aku pulang dulu."


Lantas aku berdiri dan beranjak mengambil sepeda motor yang diparkir di samping halte. Giring si anak punk diam tak bereaksi. Aku menstater sepeda motor.


"Aku pelukis!" seru Giring tiba-tiba.


Aku menoleh dan melihatnya.


"Pelukis? Ah, kamu seniman rupanya," aku tertawa kecil.


Sepeda motorku bergerak perlahan.


"Kapan-kapan aku ke sini lagi."

__ADS_1


"Hati-hati kau, jangan ngebut macam tadi!”


Aku cuma tertawa kecil mendengar ucapan Giring, lalu menggeber sepeda motor mengejar traffic light yang sebentar lagi akan menyala merah. Aku melihat angka hitungan mundur pada lampu pengatur lalu lintas sudah pada hitungan ke sepuluh. Sebelum lampu merah menyala, aku sudah berbelok ke jalan Kapten Muslim dan terus memacu laju sepeda motor dengan perasaan plong. Sekarang aku telah kembali ke dunia nyata. Pertemuan dan perkenalanku yang unik dengan Giring si anak punk yang unik, tapi apa adanya, jujur dan membumi. Membuatku merasa punya teman lagi di dunia nyata.


__ADS_2