MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
DRAMA


__ADS_3

Lalu dengan langkah terpincang yang sengaja kudramatisir supaya kelihatan sengsara menahan sakit, aku berjalan terseok-seok menuju tempat parkir. Di koridor sekolah aku berpapasan dengan Sri Kustinah.


"Kenapa kau, Bono?"


Aku berhenti melangkah.


"Tabrakan."


"Terus?" ujar Sri Kustinah bengong.


"Terus apanya?" aku juga bingung.


"Itu, maksudnya, sakit? Atau bagaimana, gitu?" ujar Sri gelagapan.


"Ya, kalau ditabrak enak, pasti banyak yang mau ditabrak. Ya, sakitlah! Tadi aku minta ijin nggak masuk sekolah."


"Bisa pulang sendiri?" tanya Sri khawatir.


"Kalau cuma pulang, aku masih bisa, tapi ada yang aku nggak bisa."


"Apa itu?" Sri Kustinah semakin heran melihatku yang tersenyum penuh makna.


"Kalau ada ulangan bantu aku, ya?"


Sri mengerutkan wajahnya.


“Maksudnya, nyontek?"


"Iyalah, aku kan nggak masuk sekolah. Coba bayangkan kalau tertinggal pelajaran. Mana bisa aku mengerjakan soal-soal kalau ada ulangan?"


"Memang berapa lama kau dikasih ijin tidak masuk sekolah?"


“Sebulan mungkin," jawabku yakin.


"Ya, sudah. Nanti aku bantu," Sri berbaik hati juga akhirnya.


Sip! Aku mengucapkan terima-kasih pada Sri sebelum kembali melangkah tersaruk-saruk persis tentara Amerika yang kakinya tertembak tentara Vietkong. Sekarang tinggal pergi ke dokter dan minta surat ijin istirahat sebulan. Itu pun kalau bisa. Kalau enggak, kan banyak jalan menuju Roma?

__ADS_1


***


Sore hari sebelum mama pulang kantor aku bergegas keluar mau ke tempat praktek dokter. Bik Narti sejak pagi hari tadi mengkhawatirkan keadaanku yang pulang lebih awal dari sekolah dalam keadaan luka dan jalan terpincang-pincang. Dia mengantarkan sampai ke pintu gerbang.


Sebetulnya dari semula Bik Narti sudah menyarankan agar aku ke rumah sakit saja dan tak perlu menunggu praktek dokter yang biasanya mulai buka pada sore hari, tapi aku lebih suka ke tempat praktek dokter saja, pelayanannya lebih spesial meskipun agak mahal. Namun yang lebih penting dari itu, aku berharap bisa mendapatkan secarik kertas rekomendasi dari sang dokter untuk beristirahat sebulan. Aku kan berani bayar mahal?


"Kalau tidak bisa naik sepeda motor pakai taksi online saja, Bono," Bik Narti menyarankan.


"Bisa, Bik, nggak perlu khawatir," aku meluncur keluar menuju pintu gerbang.


Wah, ternyata aktingku meyakinkan juga. Meskipun luka lecet di tangan dan siku terasa sakit serta lutut yang sedikit memar dan rasanya berdenyut nyeri, tapi aku masih merasa baik-baik saja. Tidak seperti yang terlihat oleh Pak Marudut, Sri, juga Bik Narti, kalau aku nampak begitu menderita di mata mereka, sampai-sampai jalan pun tersaruk-saruk dan terpincang-pincang.


***


Di tempat praktek dokter aku diperiksa, disuntik lalu diberikan resep. Ketika dokter berkaca mata minus itu menyarankan untuk istirahat, aku mulai pasang akting dengan wajah memelas.


"Saya perlu surat rekomendasi dari dokter, ijin tidak masuk sekolah," suaraku terdengar pelan.


"Ya, saya tahu. Ini saya rekomendasikan supaya kamu istirahat selama dua hari," dokter berkata sambil menulis di kertas surat yang berlogo tempat praktek dokternya.


Ha?! Cuma dua hari? Sebentar amat! Lebih lama ijin dari Pak Marudut?


Dokter berhenti menulis dan memandangku heran.


“Sebulan?


"Iya, dok. Sampai memar di lutut saya betul-betul sembuh," kali ini aku nyengir. Karena bagaimanapun dokter pasti tahu maksudku.


"Saya sudah resepkan salep untuk mengobati memar di lutut kamu. Dua hari saja sudah cukup untuk istirahat," sambung dokter sambil menandatangani surat rekomendasi yang ditulisnya.


"Nggak boleh nambah, dok?" tawarku lagi.


"Ya, terserah sekolahmu saja. Kalau mereka mau memberi ijin sampai sebulan," jawab dokter tegas.


Aku meninggalkan ruang praktek dokter dengan hati mangkel. Bahkan saking mangkelnya jalanku pun tidak terpincang-pincang lagi seperti tadi ketika pertama kali masuk ke ruang praktek dokter. Rasa sakit di lututku jadi hilang meskipun belum menebus obat di apotik.


Selesai mengambil obat di apotik aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi pergi ke percetakan pinggir jalan. Kata teman-temanku yang suka bolos, di tempat seperti itu bisa menukangi surat rekomendasi dari dokter. Keluar uang tentu saja. Mana ada yang gratis di dunia ini. Sulit dipercaya, mau bohong saja harus pakai biaya.

__ADS_1


"Wah, kalau tulisan tangan begini mana bisa di scan, Dik? Bisa ketahuan," ujar pekerja percetakan pinggir jalan itu.


"Iya juga ya, Bang? Mana tulisannya cakar ayam lagi?" komentarku.


"Sudahlah, kita bikin yang baru saja, bagaimana?"


"Memang bisa, Bang?" tanyaku penasaran.


"Di sini apa yang tidak bisa, Dik? Semua bisa kita palsukan."


"Nama dokternya?" tanyaku memastikan.


"Terserah, mau pakai nama dokter yang ini atau dokter Boyke juga bisa."


Kampret! Pakai surat rekomendasi dari dokter Boyke, memangnya aku mau cuti hamil apa? Kalau mau bohong ya kira-kira juga, bang! Aku menggerutu dalam hati.


"Sudahlah, pakai nama dokter yang ini saja," aku menentukan pilihan.


"Beres, tunggu tiga puluh menit!" petugas percetakan pinggir jalan itu bergegas ke mejanya.


"Berapa dulu bayarnya, Bang?"


”Cepek, Dik. Biasalah ...”


”Cepek itu berapa, seratus perak? aku memastikan.


"Seratus ribu maksudnya, kalau mau nambah ya, nggak apa-apa," pekerja percetakan itu tertawa cempreng.


"Bikin ijinnya sebulan, ya?" perintahku.


“Sebulan?"


"Iya, sebulan."


“Nggak teralu lama? Memangnya kau sakit apa?" tanya pekerja percetakan itu heran.


"Sudahlah, Bang. Aku kasih 150 ribu, bikin ijin untuk sebulan. Tanda tangan dokternya harus mirip!"

__ADS_1


Mendengar 150 ribu, pekerja percetakan pinggir jalan itu bergegas menuju meja komputernya yang terletak di sudut, dalam ruangan 4x5 meter. Ah, memang duit punya pengaruh luar biasa. Hitam bisa jadi putih dan putih jadi hitam. Itu semua gara-gara duit! *


__ADS_2