MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
JUAL CELANA


__ADS_3

Akhirnya sepotong celana jins-ku terjual dengan harga 50 ribu ditambah segelas es dawet. Itu pun setelah tawar menawar yang cukup alot. Dasar pedagang, itung-itungannya mateng banget! nggak apa-apalah, paling tidak aku punya duit buat makan. Lumayan kalau sekali makan kena sepuluh ribu, berarti hasil dari penjualan celana bisa buat lima kali makan.


Selesai mengisi perut, aku malah kebingungan nggak tahu mau pergi ke mana. Sekarang aku tak punya tempat untuk pulang. Seandainya benar anak terlantar dipelihara oleh negara, berarti aku bisa numpang tidur di rumah dinas walikota atau gubernur. Soalnya rumah dinas mereka dibangun dengan memakai duit rakyat, tapi mana mungkin? Full house dong rumah dinas para pejabat itu, soalnya yang terlantar nggak bisa dihitung dengan jari harus pakai kalkulator. Pilihan terakhirku cuma masjid. Namanya juga manusia, aku sama saja dengan yang lain. Kalau lagi susah rajiiinnn banget ke masjid. Kalau udah senang dikit aja, lupa deh. Paling ingatnya ke mal.


Siang beranjak petang, aku masih menyusuri jalan Gatot Subroto dan akhirnya berhenti di bawah jembatan sky croos Plaza Medan Fair. Di bawahnya ada bangku beton yang berfungsi sebagai halte. Aku duduk di situ menghabiskan waktu sambil menunggu malam. Berpikir tentang masa depan, sekolah yang kutinggalkan, tentang mama, Kak Farah dan saudara angkatku, Mediana. Keluargaku cuma mereka bertiga. Bagaimana aku bisa hidup tanpa mereka? Ya, tapi untuk kembali ke rumah aku merasa malu hati. Gengsi dong, udah minggat kok, pulang?


Karena terganggu oleh suara hingar-bingar dan bau asap kendaraan serta udara yang gerah, aku beranjak menuju eskalator sky croos dan masuk ke Plaza Medan Fair. Bukannya mau belanja, tapi cuma ngadem. Lagipula mau belanja apa kalau duit di saku cuma 40 ribu, sisa dari jual celana jins. Emang sih, kalau lagi berada di mal, ketauan mana yang punya duit, mana yang kere. Kalau yang banyak duit jalannya gagah, masuk ke toko, pegang sana-sini, pilih-pilih, angkat barang bayar di kasir. Kalau yang nggak punya duit, boro-boro masuk toko keluar toko, baru disenyumin sama pramunaiga aja udah mlipir. Paling kalau mau lihat-lihat beraninya dari luar toko memandangi display sampai ngences. Begitu disapa sama pramuniaga-nya, buru-buru ngibrit tanpa pamit. Nama-nya juga windows shopping alias jendela belanja. It means jendela yang belanja bukan kita. Itu mbah google translate yang ngomong Bukan aku. Hahahaha ...


"Bono?!" seru Bawon dan Mediana hampir bersamaan.


Di depan Hot Plate Station, aku bertemu dengan Bawon dan Mediana. Mereka baru saja keluar dari tempat makan itu. Apalagi kalau bukan kencan? Perutku mulai latah bernyanyi lagu melankolis, lapaaarrr ... Heleh! ini lambung, padahal sekarang baru jam empat sore. Tadi siang kan, sudah makan?

__ADS_1


Bawon memegang pundakku, kirain mau ngajak masuk ke Hot Plate Station. Nggak taunya cuma nanya kabar, ke mana saja aku beberapa hari belakangan ini. Mediana terdiam sambil memandangiku. Aku nyengir aja, enggak tau mau bilang apa. Kalau ngeluh nanti dikira cengeng, mau bilang baik-baik saja, mana mungkin aku baik-baik, mau makan saja harus jual celana dulu?


"Selama ini kau tidur di mana, Bon?" tanya Bawon prihatin.


"Di tempat teman," ujarku santai seolah semuanya baik-baik saja. Padahal nanti malam aku terpaksa nyari masjid terdekat untuk numpang tidur.


"Pulanglah, Bono," Mediana bersuara juga akhirnya.


“Tante sudah mencarimu ke mana-mana," ujar Mediana lagi.


Omaigot! Ternyata mama mencari-cariku juga? Senangnya hatiku, hilang panas demamku. Hehehehe ... kok malah nyanyi iklan, sih? Mana iklan jadul lagi? Aku merasa senang karena mengetahui kalau mama merasa kehilanganku. Sebenarnya mana ada sih, orang tua yang benci sama anaknya? Macan aja sayang banget sama putra-putrinya. Apalagi manusia?

__ADS_1


"Atau katakan saja kau tinggal di mana, biar nanti aku bilang sama Tante. Pasti dia akan menjemputmu," ujar Mediana meyakinkanku.


"Aku belum mau pulang," jawabku sok tegar. Padahal sumpah pocong, aku memang sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini.


Bawon dan Mediana menatapku heran. Aku cuma senyum-senyum. Sok santai.


"Sudahlah, aku mau jalan dulu."


"Kau mau ke mana?" tanya Bawon.


"Kemana saja kaki melangkah," sahutku tanpa menoleh.

__ADS_1


Aku meninggalkan Bawon dan Mediana dengan langkah ragu. Berharap kalau mereka memanggilku sekali lagi, menawarkan jasa untuk membawaku kembali. Toh, Mediana pulangnya ke rumah yang sama denganku, tapi sampai aku menapaki eskalator dan naik ke lantai tiga, mereka tidak juga memanggilku. Apes, tidak mungkin aku yang menawarkan diri minta dibawa pulang. Memangnya acara Take Me Out? Hh! Terbayang kalau nanti malam aku akan tidur di emperan masjid. Semoga saja tidak turun hujan. Aku terus berjalan tak ingin menoleh ke belakang lagi. Sejak awal aku sudah mengambil keputusan dengan berani, pokoknya tekad sudah bulat. Minggat dari rumah. Apa yang terjadi harus dihadapi, jadi jangan cengeng!


__ADS_2