MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
SORIANO, LELAKI PEMABUK


__ADS_3

Apartemen lelaki gemuk yang bernama Soriano itu memang terlihat tidak rapi, tapi semua perabotannya bagus-bagus dan mahal. Interiornya juga menarik, ada bar mini berbentuk meja setengah lingkaran dilengkapi dengan tiga buah kursi tinggi tanpa sandaran di sudut ruang tamunya. Hh! Memang dasar tukang mabuk, pantas saja kalau dia mempunyai bar pribadi di rumahnya. Meskipun aku tidak suka minuman keras, tapi aku suka dengan botol-botolnya yang unik dan cantik.


"Itu kamarmu dan anggap saja seperti di tempat Kenia, buat nyaman dirimu, Ok?" Soriano masuk ke kamarnya.


Aku melangkah menuju bar mini dan melihat-lihat aneka bentuk botol berwarna-warni yang terpajang di rak minuman. Chivas Regall, Vodka, Bolls, Martini, Martell dan entah apalagi yang aku tidak pernah tahu jenis dan merek minuman keras berharga mahal itu. Ah, Soriano gendut! Punya duit, kok beli minuman seperti ini? Aku geleng-geleng kepala sendiri.


"Mau minum kau?" Soriano muncul tiba-tiba. Sepertinya dia habis mandi dan sudah berganti pakaian.


Aku menoleh. Soriano masuk ke dalam bar mini sambil memilih-milih minuman di rak.


"Mau minum apa?" Soriano bertanya tanpa menoleh dan masih sibuk memilih minuman.


"Aku nggak minum, Bang."


Soriano tertawa.


"Bodoh! Jadi laki-laki tidak minum alkohol? Mau jadi apa kau?"


"Kalau minum memang jadi apa, Bang?" tanyaku penasaran.


Soriano berbalik menghadapku sambil memegang sebotol Chivas Regall.


"Kalau mabuk, kita seolah terbang melayang, jauh di awan."


"Paling juga sempoyongan," komentarku.

__ADS_1


Malam itu kami ngobrol berdua di bar mini. Soriano banyak becerita tentang Kenia yang telah meruntuhkan hatinya, Soriano jatuh hati saat pertama kali mengenal Kenia sebagai tetangga barunya di apartemen ini. Sejak saat itu Soriano selalu memata-matai Kenia. Di koridor apartemen, di lobi atau di cafe, mal dan hampir di setiap sudut apartemen yang didatangi Kenia, selalu diintai oleh Soriano. Cinta itu memang gila, aku memaklumi sikap Soriano sampai pada batas mengintai Kenia, bukan ketika dia menggoda Kenia dengan pandangan nakal seperti kemarin itu. Aku jadi teringat ketika tadi pertama kali masuk ke ruangan ini, aku melihat sebuah lukisan berukuran besar tergantung di dinding dengan bingkai berukir warna emas. Lukisan itu adalah lukisan potret Soriano bersama seorang perempuan dan seorang anak kecil.


"Perempuan dalam lukisan itu pasti istri, Abang," ujarku memancing obrolan.


Soriano terdiam. Melirik dinding di samping bar mini. Lelaki gemuk itu menghisap rokok cerutu dan mengepulkan asapnya dengan sangat perlahan.


"Cantik istri Abang," pujiku.


"Kau mau sama dia?" ujar Soriano santai.


Gila! Dasar pemabuk, istrinya sendiri pun di tawarkan ke orang. Ada-ada saja.


"Dia tidak marah kalau melihat Abang minum sampai mabuk begini?"


Siapa yang betah punya suami pemabuk? Gumamku dalam hati.


"Di tempat Kenia, kau tidur sekamar sama dia?"


What?! Aku terkejut bukan main mendengar ucapan Soriano yang sudah teler karena menenggak Chivas Regall. Edan, sampai sejauh itu kecurigaan Soriano pada kami. Memangnya Kenia itu perempuan jahat, apa?


"Kok, Abang bicara seperti itu?"


"Kau tahu nggak, Kenia itu istri simpanan pengusaha dari Malaysia?" Soriano mengembuskan asap cerutunya ke wajahku.


Sekali lagi aku terkejut mendengar ucapan Soriano, tapi kali ini keterkejutanku bukan main-main rasanya. Kenia seorang istri simpanan, betulkah itu? Kupandangi wajah Soriano yang memerah karena pengaruh minuman beralkohol yang ditenggaknya.

__ADS_1


"Makanya aku heran kenapa dia berani mengajak kau menginap di apartemennya. Apa kau ini selingkuhan, Kenia?"


"Sumpah, Bang. Aku temannya, dia menolongku memberikan tumpangan untuk beberapa hari sebelum aku mendapatkan tempat tinggal."


"Sebentar, kau di sini saja," Soriano berdiri dan melangkah dengan sempoyongan.


Lelaki gemuk itu berjalan meninggalkan bar mini menuju ke ruang tamu lalu terdengar suara pintu dibuka. Tidak tahu dia mau pergi kemana. Aku hanya duduk terdiam di bangku tinggi tanpa sandaran menghadap ke meja bar. Sepeninggal Soriano, mataku memandang ke seluruh ruangan. Asing, aku merasa sangat asing di tempat ini. Terbayang wajah mama di pelupuk mataku.


Beberapa saat kemudian ada suara pintu dibuka dari luar. Aku mendengar saruk-saruk langkah dan batuknya Soriano. Aku menunggu apa yang akan terjadi setelah ini. Pergi ke mana tadi dia? Hh! Entahlah, bingung aku.


Soriano muncul di hadapanku dengan tawa yang menggelegar, hingga perutnya yang buncit berlemak bergoyang-goyang. Dia mendekat ke arahku dengan jalan yang sempoyongan. Lelaki gemuk itu masih tertawa. Gelak-gelak. Apa yang membuat dia tertawa aku pun tak tahu. Mungkin kesambet jin penunggu apartemen atau memang kalau orang sudah mabuk pasti tertawa seperti ini? I dont know ...


"Kau tahu apa yang terjadi di sana? Di balik dinding ini?" Soriano buka suara setelah dia menyelesaikan tawanya yang menggelegar.


Aku cuma menggelengkan kepala.


"Kenia sedang bercumbu dengan suaminya!" ujar Soriano dengan mimik wajah yang mengguratkan kecemburuan.


Aneh, kok dia tau? Kupandangi wajah Soriano. Dia tertawa lagi seolah mengerti arti pandanganku. Lelaki gemuk itu mengambil tempat duduk di sebelahku sambil meraih gelas minumannya yang terletak di meja bar.


"Tadi aku mengetuk pintu apartemennya dan yang membukakan pintu bukan Kenia, tapi seorang lelaki separuh baya, berjenggot seperti kambing. Rambutnya putih kelabu. Kau tau laki-laki itu cuma mengenakan handuk. Sialan! Cemburu aku dibuatnya," ujar Soriano menahan geram.


"Laki-laki itu siapa, Bang?" tanyaku heran.


"Dasar bodoh. Ya, itu dia suaminya Kenia. Pengusaha dari Malaysia!"

__ADS_1


__ADS_2