
Aku masuk sekolah juga akhirnya setelah bolos seminggu dengan menggunakan rekomendasi palsu. Pak Marudut Tampubolon sang wali kelas sempat heran juga melihatku di dalam kelas. Dia bertanya kenapa dokter menganjurkan istirahat sebulan penuh, tapi aku sudah muncul di sekolah padahal baru seminggu beristirahat. Otak bebalku mulai mencari alasan yang tepat untuk menjawab. Kubilang saja dokternya salah mendiagnosa. Setelah diperiksa ulang ternyata tidak ada keretakan pada tulang lututku, jadi surat rekomendasi istirahat sebulan itu pun batal demi hukum. Memang kalau untuk berkelit, otak bebalku ini pintarnya bukan main. Pak Marudut Tampubolon pun manggut-manggut mendengar penjelasanku. Entah dia percaya atau tidak, terserah saja.
Di ruang kelas pagi itu aku tak melihat Mediana dan Bawon. Kemana mereka ya, kenapa bisa kompak nggak masuk? Aku menatap bangku kosong yang biasa diduduki Bawon dan Mediana. Aku nggak yakin kalau Mediana bolos sekolah, entah kalau Bawon. Meski sekali-sekali, tapi anak itu memang suka bolos juga. Apa dia yang merayu Mediana ikut bolos?
"Kenapa, heran melihat Mediana dan Bawon nggak masuk sekolah?" Sri yang duduk sebangku denganku buka suara.
"Kau tau ke mana mereka?" tanyaku penasaran.
”Bawon menemani Mediana pergi ke KNIA," sahut Sri .
”KNIA? Ngapain?" aku tambah penasaran.
"Percuma saja kau jadi saudara angkat Mediana, tapi tidak tahu apa-apa tentang dia. Ibunya Mediana kan mau pindah ke Batam," Sri menerangkan.
"Batam? Mau apa ibunya pindah ke sana?" Aku bertanya-tanya dalam hati.
"Mediana nggak ikut?" aku penasaran.
"Sebentar lagi kita kan mau ujian akhir. Mediana tetap tinggal di Medan. Oh ya, aku dengar-dengar dia akan tinggal di rumah kau, ya?"
Wah, selama ini aku terlalu asyik dengan diri sendiri sehingga nggak tau perkembangan yang terjadi, tapi untunglah Sri Kustinah, sahabat dekat Mediana banyak tahu. Dia bercerita kalau ibunya Mediana dipercaya oleh majikannya untuk mengelola cabang toko Cake & Bakery yang baru buka di Batam. Mungkin saja dia melihat ibu Mediana yang selama ini bekerja di salah satu toko kue miliknya, sudah pantas untuk mendapat promosi. Hebat! Aku turut bahagia mendengarnya.
"Jadi selama ini kau jarang di rumah?" tanya Sri setelah dia bercerita panjang lebar tentang kepindahan ibu Mediana ke Batam.
"Iya, setiap hari aku keluyuran terus. Pergi pagi pulang malam."
__ADS_1
"Katanya kau ini anak Mama?" sindir Sri.
"Kata siapa?"
"Ya, teman-teman kita di sekolah. Sekarang kamu sudah jadi anak nakal rupanya," Sri menyindirku.
"Ya, senakal-nakalnya aku, tapi nggak pernah makan duit rakyat!" ujarku membela diri.
"Apa hubungannya?" Sri menatapku bingung.
"Kenakalanku itu biasa, masih bisa dimaafkan. Kalau pejabat yang nakal nilep duit rakyat dan berfoya-foya dengan keluarga serta kroni-kroninya, itu yang tidak bisa dimaafkan kecuali dengan hukuman gantung!" seruku berapi-api.
"Malas aku ngomongin pejabat. Nanti kena pasal pencemaran nama baik," Sri terlihat sungkan dan takut.
"Hebat kau, Bono. Pintar juga kalau ngomong, nggak nyangka otak bebal seperti kau ngerti juga soal pejabat!" Sri mencibir.
"Ya, memang otakku rada bebal, tapi hati nuraniku masih tokcer! Buat apa pintar seperti kamu tapi punya cita-cita jadi koruptor?" balasku mengejek.
"Enak saja kau menuduhku seperti itu!" Sri merengut kesal.
”Buktinya kau punya cita-cita mau jadi pegawai negeri, kan?"
"Ngarang! Mana ada aku bilang seperti itu?!" Sri tambah kesal.
Aku tertawa. Memang soal cita-cita Sri itu cuma karanganku saja. Setauku dia kepingin jadi pramugari. Nggak tau juga, pramugari pesawat terbang apa pramugari kereta api malam jurusan Medan Rantau Prapat. Ha-ha-ha ....
__ADS_1
"Aku tau cita-citamu," ujarku santai sambil melirik Sri yang duduk di sebelah.
"Jadi apa?" Sri menoleh.
"Jadi pramugari kereta api eksekutif Sri Bilah, jurusan Medan-Rantau Prapat!" sambungku cepat.
”Bagudung kau, Bono! Sri menendang kakiku di bawah meja.
”Bagudung itu koruptor yang suka mengerat duit rakyat," jawabku santai saja.
Sri merengut. Aku masih senyum-senyum.
"Apa yang kalian bicarakan dari tadi, Bono, Sri?" Pak Marudut Tampubolon menegur kami.
"Pelajarannya susah, Pak," jawabku berbohong.
"Makanya kalau tidak mengerti tanya sama Bapak, jangan kalian yang kasak-kusuk di situ," Pak Marudut berjalan ke meja kami.
"Apa yang mau ditanyakan, di bagian mana pelajaran Bapak yang sulit?" Pak Marudut bertanya padaku.
Aku cuma nyengir. Apa yang mau ditanyakan pun aku tak tahu.
”Sri , Pak," aku menyikut Sri.
Terpaksa aku buang badan dengan mengkambing-hitamkan Sri . Apa boleh buat. Dia kan lebih pintar daripada aku, pergunakanlah kepintarannya itu untuk bertanya. Tiba-tiba kakiku terasa sakit seperti ada yang menekan. Uh! Rupanya di bawah meja Sri menginjak kakiku dengan sekuat tenaga.
__ADS_1