MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
BUKAN PEREMPUAN BIASA


__ADS_3

Pukul tujuh malam aku sengaja menyelinap keluar rumah tanpa minta ijin pada Mama. Malas aku ditanya macam-macam kalau bilang mau pergi. Mama pasti cerewet, soalnya sekarang bukan malam libur. Aku mengendap-ngendap mengeluarkan sepeda motor dari garasi sambil berharap tidak tertangkap basah.


Ketika sudah berada di luar rumah, aku menjalankan sepeda motor dengan perlahan kemudian berhenti sebentar di ujung jalan, membeli sebungkus rokok di sebuah mini market. Setelah itu kembali memacu sepeda motor tanpa tujuan pasti. Suasana kota terasa ramai dan aku meliuk-liuk di jalanan, mencari celah di antara kendaraan lain. Hanyut dalam keramaian malam itu.


Capek dan bingung mutar-mutar tak tentu arah akhirnya aku sampai di kawasan ringroad. Banyak tempat makan di kawasan ini. Lalu kuputuskan memasuki sebuah gerai makan dan memesan mie hijau. Sambil menunggu pesanan datang, pikiranku melayang jauh. Wajah Sarah melintas di pelupuk mata. Entah kenapa semuanya jadi terasa jauh. Rumah, Mama, Mediana, Bawon dan Sarah. Aku seperti berada di tempat asing, terbuang dan merasa sendirian.


Aku mengambil rokok dari saku celana yang tadi sempat kubeli di mini market dekat rumah. Setelah membuka bungkus rokok baru aku sadar kalau tak punya korek api. Meski tak ada di saku, tapi aku masih saja berusaha mencari-cari siapa tahu ada. Walaupun aku bukan perokok, tapi sering juga membawa pemantik api. Ah, kali ini pasti tertinggal di kamar. Aku menggerutu sendiri dan kembali meletakkan bungkus rokok di atas meja.


"Perlu korek?" seorang perempuan yang duduk di dekat mejaku menawarkan.


Sejenak aku terpana melihatnya karena tak menyadari sejak kapan sosok perempuan berwajah blasteran itu berada di dekatku. Korek api gas yang diulurkannya kuterima kemudian mengambil rokok dan menyulutnya. Ketika menyulut rokok, korek gas itu mengeluarkan suara getar dan dengungan panjang. Aku menebak-nebak ini pasti bukan pemantik api sembarangan. Sebelum mengembalikannya aku sempat melirik tulisan Dupont di badan mancis itu. Pantesan! Pemantik api mahal. Aku tertawa bodoh dalam hati.


"Terima kasih," ujarku sambil mengangguk.

__ADS_1


Perempuan muda itu cuma tersenyum tipis. Dia meletakkan pemantik api di mejanya. Di situ kulihat ada sebungkus Dunhill Light, ponsel i-Phone11 dan kunci mobil bergambar kuda dengan tulisan Porche di atasnya. Ketika cewek itu menyibakkan rambutnya yang lurus sebahu, aroma orange blossom menyeruak dan membelai lembut penciumanku. Ah, dia pasti bukan perempuan biasa. Aku menduga-duga.


Belum habis separuh batang mengisap rokok, mie hijau pesananku sudah datang.


"Mari, Mbak?" ujarku berbasa-basi.


"Silakan," sahutnya sambil tersenyum.


Selesai makan, aku dan cewek itu masih duduk di meja kami masing-masing. Dia menyulut rokok dan mengembuskan asapnya pelan. Aku cuma bingung saja. Memegang bungkus rokok dan menimbang-nimbangnya di tanganku.


"Mau pakai korek lagi?" dia menoleh padaku.


"Iya," aku tersenyum canggung.

__ADS_1


Setelah menggunakan korek gasnya, aku langsung meletakkannya sendiri ke meja cewek itu dan kembali duduk ke tempatku semula. Kulihat dia masih santai mengisap rokok dan mengembuskan asapnya pelan-pelan sambil mainin ponselnya. Tiba-tiba aku terbatuk dan dadaku terasa sesak. Perih bukan main rasanya. Buru-buru aku membuang rokok yang ada di tangan dan menggilasnya di lantai menggunakan tapak sepatu. Saking paniknya hingga aku tak tau lagi harus ke mana membuang puntung rokok itu, padahal asbak ada di mejaku.


Terdengar suara tertawa agak pelan. Suara tertawa si cewek berwajah indo di sebelah mejaku.


"Nggak biasa merokok, ya?"


Aku jadi mati gaya ditanya seperti itu. Meski merasa malu yang luar biasa, terpaksa kujawab juga pertanyaannya. Mana mungkin lagi mau membantah, buktinya barusan tadi aku sudah batuk-batuk tersedak asap rokok?


"Merokok kalau lagi bete aja," aku beralasan.


"Oh, berarti sekarang lagi bete, ya?"


Untuk pertanyaannya yang ini aku tak mau menjawabnya. Itu cuma pertanyaan basa-basi kukira. Cewek yang tiba-tiba saja kuberi gelar bukan perempuan biasa itu, masih terus menatapku. Seakan-akan tengah menunggu jawaban pertanyaannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2