
Tiba-tiba aku teringat Kenia. Bukankah dia tinggal di apartemen? Mungkin saja dia mau menerimaku tinggal di apartemennya buat sementara, sebelum aku mendapatkan tempat tinggal sendiri. Aku yakin Kenia mau berbaik hati membantu. Dengan langkah pasti aku keluar dari pool bus. Mencari taksi bodong tanpa argometer, tapi main tawar.
Hampir satu jam baru aku sampai di depan apartemen Kenia. Jalanan yang macet memang membuat jarak semakin terasa panjang, tapi aku tak perlu takut membayar lebih, karena taksi yang kutumpangi tidak menggunakan argometer. Jadi mau macet dua hari dua malam juga itu risiko supir taksi, siapa suruh enggak pakai meteran? Aku turun dengan tubuh yang terasa penat dan luluh-lantak, melangkah memasuki areal apartemen. tapi petugas keamanan menahanku di pintu masuk.
"Mau ke mana, Dik?" tegur petugas keamanan ramah.
"Ke tempat teman."
"Sudah ada janji?"
"Belum, Pak."
"Siapa namanya dan tinggal di lantai berapa?"
”Namanya Kenia, tapi saya lupa dia tinggal di lantai berapa."
"Tunggu sebentar," petugas keamanan itu masuk ke dalam posnya.
Susah betul mau ke tempat Kenia, seperti mau menjumpai presiden saja. Aku bersungut-sungut dalam hati. Tanpa rasa malu, aku duduk di emperan pos keamanan. Capek rasanya menunggu. Apalagi seharian ini aku terlunta-lunta hingga tubuhku terasa lemas dan mengantuk. Terbayang betapa enaknya bila saat ini berada di atas tempat tidur sambil mendengarkan lagu.
"Nama lengkapnya siapa, Dik?" kepala petugas keamanan melongok dari dalam pos.
"Nama saya?" tanyaku tak bersemangat.
"Nama teman kamu itu?"
"Kenia Dinar Ayu."
"Kalau nama kamu?" tanya petugas keamanan itu lagi.
"Nama saya, Bono."
"Tunggu sebentar," petugas keamanan itu nampak sibuk di dalam posnya.
Baru terasa betapa tidak enaknya bila dalam hidup ini kita tak punya siapa-siapa. Terasing dan sendiri. Aku teringat rumah dan terbayang wajah mama, papa tiriku, Mediana dan Bik Narti silih berganti bermain di benakku.
"Baru datang dari jauh, ya?" tiba-tiba saja petugas keamanan itu sudah berada di dekatku.
Aku menoleh dan mengangkat wajah.
"Tidak terlalu jauh, Pak."
"Dari Medan ini juga maksudnya?" tanya petugas keamanan itu menyelidik.
"Iya, Pak. Saya dari Medan. Bapak orang Medan juga, ya?" tanyaku berbasa-basi. Daripada nggak ada bahan untuk ngomong?
Petugas keamanan itu tak menjawab. Mungkin dia tidak suka dengan pertanyaanku.
"Jangan duduk di emperan seperti itu, tidak enak dilihat orang. Tunggu saja di dalam pos. Sebentar lagi temanmu itu turun."
Bergegas aku berdiri. Senang mendengar kalau Kenia mau datang menemuiku. Ah, dia memang teman sejati. Ternyata selain cantik, Kenia juga berhati baik. Berbahagialah lelaki yang kelak bisa merebut hatinya. Tak lama menunggu, Kenia pun muncul di pos keamanan apartemen.
__ADS_1
"Apa kabar, Bono? Kenapa tidak menelepon kalau mau datang?"
Keramahan Kenia membuat hatiku semakin tenang. Malam telah turun ketika Kenia datang menjemputku saat itu.
"Kamu dari mana, kok bawa-bawa ransel?" tanya Kenia heran ketika kami baru saja melangkah meninggalkan pos keamanan.
"Aku diusir dari rumah."
"Diusir?!" Kenia nampak terkejut.
”Mau numpang di tempatmu beberapa hari ini, boleh?"
"Kenapa kamu diusir?" selidik Kenia.
"Karena aku nakal," jawabku terus terang.
Kami naik lift menuju ke lantai tujuh. Sambil jalan aku menceritakan semuanya pada Kenia dan pembicaraan kami terhenti ketika sudah berada di depan pintu apartemen Kenia.
"Masuklah," Kenia membukakan pintu untukku.
”Hallo, cantik! Ada tamu malam ini rupanya?" seorang lelaki datang menghampiri, aku tidak tahu dari mana datangnya dia. Begitu tiba-tiba.
"Dia temanku, Om! Minggat dari rumah, ujar" Kenia santai.
"Oh, ya? Berarti kamu tempat penampungan orang minggat, dong?" lelaki gemuk itu mengejek Kenia.
Aku tak bereaksi meskipun dipandangi oleh lelaki gemuk itu. Hh! Kayak aku ini maling saja. Siapa ya, dia?
"Om, bagaimana? Tidak diajak masuk?"
"Kalau tukang mabuk dilarang masuk!" ujar Kenia sambil menutup pintu.
Apartemen Kenia seperti hotel saja layaknya. Interiornya bagus dan perabotannya juga mewah. Aku kagum pada tempat tinggal Kenia. Nyaman sekali, tapi perasaanku terusik dengan lelaki gemuk yang gayanya memuakkan itu.
"Siapa lelaki yang di luar tadi?" tanyaku penasaran.
"Itu yang pernah kuceritakan sama kamu, pemabuk yang suka godain aku. Namanya Soriano. Ingat, enggak?" Kenia tersenyum.
Aku mengangguk. Ya, aku pernah dengar cerita tentang pemabuk itu.
"Untung saja aku tidak pergi, kamu bisa terbiar di luar sana. Kenapa tadi tidak menelepon aku?"
”Handphone kutinggal di rumah."
Kenia tersenyum. Dia berjalan melintasi ruang tamu.
"Ayo sini!"
Aku berjalan menghampiri Kenia.
"Ini kamar kamu," Kenia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Aku mengikutinya.
__ADS_1
”Ini lemari pakaian, itu di sana kamar mandi. Semua peralatan mandi ada di dalam.
"Terima kasih, Kenia," ujarku terharu.
"Sekarang kamu mandi, setelah itu kita turun cari makanan. Di bawah ada restoran, cafe juga ada. Sekalian kita nongkrong. Ayo cepatlah mandi," Kenia beranjak keluar kamar.
Luar biasa Kenia. Orang yang sudah kenal lama saja belum tentu sebaik dia mau menerimaku menumpang di tempatnya. Seumur hidup aku akan selalu mengingat kebaikan ini. Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar kamar dan mendapati Kenia sedang melihat televisi di ruang tengah. Melihatku keluar dari kamar, Kenia buru-buru mematikan televisi yang dilengkapi dengan perangkat home theater.
"Sekarang kita makan malam. Aku juga sudah lapar," Kenia berdiri dari duduknya.
Kami turun ke lantai dasar. Suasana lingkungan apartemen ini memang sengaja didesain all in one. Para penghuni tak perlu jauh-jauh meninggalkan apartemennya untuk keperluan apa pun. Semua ada di dalam satu komplek. Restoran, cafe, bank, supermarket, salon dan ada juga pusat kebugaran.
Malam ini Kenia yang memilihkan menu untukku. Katanya aku pasti suka, karena menu itu adalah makanan favoritnya. Aku setuju saja apa pun yang dipilihkan Kenia. Tak ada salahnya menyenangkan hati perempuan baik ini.
"Kamu pasti suka," Kenia tersenyum manis.
Ketika pesanan datang aku cuma melongo. Namanya keren, spaghetti bolognaise, makanan Italia, tapi menurutku bentuknya lebih mirip Mie Aceh.
"Apa rencana kamu selanjutnya, Bono?"
"Belum tau."
"Kalau tidak sekolah kamu mau jadi apa?"
Aku memandang wajah Kenia. Terbayang Kak Farah yang sedang kuliah di Malaysia. Kenia memang sepantaran usianya dengan kakak perempuanku itu.
"Aku mau cari kerja saja, Sekolah bisa belakangan, nanti setelah aku bisa cari duit sendiri."
Kenia tertawa.
"Mau kerja apa? Sarjana saja banyak yang nganggur. Apalagi kamu belum selesai SMU."
"Aku bisa narik becak motor," ujarku yakin.
”Nggak kebayang aja kalau kamu narik becak," Kenia senyum-senyum.
"Kenapa, narik becak juga halal, kan?"
"Memang halal, tapi apa kamu nggak malu sama teman-temanmu atau malah ketemu Mama kamu di jalan? Jauh-jauh lari dari rumah kok, cuma jadi penarik becak?" Kenia tertawa geli.
Aku terdiam mendengar ucapan Kenia. Betul juga. Kalau sama mama aku enggak malu bahkan bangga bisa menunjukkan padanya bahwa aku bisa cari duit sendiri. Bagaimana kalau sampai dilihat Bawon dan Mediana, apalagi sama Sarah? Mereka pasti mengatakan kalau aku ini seperti tikus mati di lumbung padi. Bagai anak ayam kehilangan induk. Mau ditaruh mana wajahku yang ganteng ini?
“Yakin kamu, mau jadi penarik becak motor?" tanya Kenia lagi.
Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala
"Yaaa ... sebenarnya yakin enggak yakin juga," sahutku ragu.
Kenia tertawa gelak-gelak.
“Makanya kalau ngomong jangan asal nyeplos, dodol!”
__ADS_1
Kenia tertawa sambil menepuk tanganku.*