
Aku pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Kalau malam-malam sebelumnya keluyuran sampai jam dua belas malam, sekarang aku sudah sampai di rumah pukul sebelas. Tadi setelah nongkrong di Starbuck, Kenia mengajakku makan di Merdeka Walk, tempat kami bertemu beberapa minggu yang laku. Enak memang di MW, banyak gerai makan di situ. Jadi kalau anak nggak dianggap seperti aku, tidak makan di rumah juga nggak masalah. Banyak tempat makan di luar, asalkan ada duit.
"Tadi Tante menanyakan kamu", ujar Mediana ketika aku berpapasan dengannya di ruang tengah.
Sepertinya Mediana sengaja menunggu. Padahal aku masuk ke rumah dengan jalan mengendap-endap supaya tidak ada orang di rumah yang tau.
"Sekarang Mama belum tidur?" tanyaku pada Mediana.
”Nggak tau, tapi Tante sudah masuk ke kamar sejak tadi," sahut Mediana pelan.
Suasana rumah memang sudah sepi. Aku masuk ke kamar, tapi Mediana mengikuti. Dia berdiri di luar seolah memintaku untuk tidak menutupkan pintu.
"Ada apa Mediana?" tanyaku heran.
Kita harus bicara, pelan suara Mediana.
"Tentang apa?"
"Kau."
"Aku?"
__ADS_1
"Ya."
Aku terdiam. Mediana juga.
"Masuklah," ajakku.
Mediana masuk ke kamar dan duduk di kursi dekat meja belajar, sedangkan aku memilih duduk di sisi pembaringan. Pintu kamar sengaja kubiarkan terbuka lebar.
"Bicaralah, ada apa?" ujarku memecah keheningan.
"Aku kasihan melihat Tante. Dia sangat terpukul dengan sikapmu. Kenapa kau bisa seperti itu pada orang sebaik Tante?" Mediana menatapku.
”Bukannya terbalik, kau yang sudah tidak peduli lagi pada semua orang di rumah ini?"
Aku diam. Mendengarkan Mediana yang sudah berani menyalahkanku. Bahkan dia terang-terangan menuduh penyebab dari semua perubahan sikapku karena Sarah. Katanya lagi aku adalah laki-laki pecundang, tak berani menerima kenyataan. Cuma karena masalah putus sama pacar saja, orang tua dimusuhi, sekolah malas-malasan dan jadi suka keluyuran malam. Hh! Kamu itu apecundang, Bono! Itulah kata-kata Mediana yang sangat menohok.
Dalam hati aku membenarkan apa yang dikatakan Mediana. Percuma saja membantah, karena memang begitulah kenyataannya. Meski sekarang aku sudah bisa menepis sedikit bayang-bayang Sarah dari benakku, tapi tetap saja di mata Mediana aku cuma seorang pecundang. Laki-laki yang kalah perang. Terserahlah apa pun kata orang. Bukan mereka yang merasakan, tapi aku. Siapa sih, yang bisa tidak kecewa dan terluka kalau putus hubungan dengan seseorang yang dikasihinya? Aku berani menjawabnya, tidak ada seorang pun!
"Kalau kau diputuskan Bawon bagaimana, apa masih bisa tegar dan tidak jadi pecundang seperti aku?"
Mediana terdiam sejenak.
__ADS_1
"Cinta pada kekasih itu bukan segala-galanya, Bono."
Aku tertawa sinis.
"Oh, ya?"
Mediana menatap mataku. Dalam-dalam.
“Aku ini anak orang miskin. tugasku hanya belajar supaya bisa pintar dan mendapatkan kerja yang bagus, agar kelak aku bisa membantu adik-adik dan mengurus Ibuku kalau dia sudah jompo dan tidak bisa lagi bekerja. Kau kan tahu biaya kebutuhan hidup dan sekolahku semua ditanggung oleh Mamamu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan orang sebaik Tante. Dia ingin aku belajar sungguh-sungguh dan itu akan kulakukan. Kalau pun ditinggal dan diputusin Bawon, aku tidak akan menjadi bodoh dengan menghancurkan masa depanku meratapi hal itu. Bukankah dulu kau yang memintaku untuk menerima Bawon sebagai pacarku? Waktu itu aku tidak punya pilihan lain selain menerima permintaanmu agar aku bersedia menjadi pacarnya Bawon, karena aku merasa berhutang budi pada Mamamu, itu saja."
Kali ini aku yang terdiam. Mendengar kata-kata Mediana yang lugas, aku seperti terlempar pada masa lalu. Ketika Bawon memintaku untuk merayu Mediana agar mau dipacari olehnya. Itu persyaratan yang diajukan oleh Bawon, agar aku bisa pacaran dengan Sarah, adiknya yang semata wayang. Kami menyebutnya sebagai program barter!
"Kalau kau tidak mencintai Bawon dan merasa terpaksa karena permintaanku, tinggalkan saja dia," ujarku pelan. Merasa bersalah pada Mediana.
Mediana menggeleng.
“Tidak, aku sudah sayang padanya. Dia cowok baik dan mengerti keadaanku."
"Aku tidak mau kau terpaksa karena aku," ujarku memastikan.
Mediana cuma menggeleng. Dia tersenyum menatapku.
__ADS_1