
Sebetulnya aku masih punya beberapa flashdisk yang belum terpakai, tapi sudahlah daripada membeli kamera digital atau televisi mobil? Belum tentu uang di rekeningku cukup untuk membelinya. Flashdisk ini harganya cukup terjangkau olehku. Suatu saat nanti pasti ada gunanya juga.
Seharian aku keluyuran di Sun Plaza, keluar masuk toko hanya untuk cuci mata. Ketika perut terasa lapar aku masuk ke cafe, saat tenggorokan terasa haus, aku nongkrong lagi di cafe. Enak memang keluyuran di mal. Serba lengkap dan semuanya berada di satu tempat. Mau pijat refleksi atau karaokean pun bisa asal punya duit. Pantas kalau orang-orang suka lupa waktu ketika berada di pusat perbelanjaan. Banyak godaan soalnya.
Meskipun begitu, aku harus tetap pulang ketika jam sekolah usai. Itu kulakukan supaya Bik Narti tidak melaporkanku. Bik Narti itu loyal sekali sama mama. Dia memang orang yang bertanggung-jawab dan amanah pada tugas yang diembankan padanya. Aku pernah mencoba menyuap Bik Narti ketika dulu pernah telat pulang sekolah sampai dua jam. Dia dengan tegas menolak duit yang kutawarkan dan memberikan laporan sejujurnya ketika ditanyai sama mama, jam berapa aku pulang sekolah hari itu. Akibatnya aku kena hukuman dan mama memotong uang saku selama sebulan.
Ah, seandainya saja semua pejabat negara seperti Bik Narti, jujur dan anti korupsi. KPK enggak perlu lagi. Bubarkan aja udah. Ngapain coba?
***
Hari minggu pagi aku malas keluar kamar. Cuma mau menghindar dari mama supaya tidak diajak sarapan bersama., Biarlah mama ditemani oleh papa tiriku saja. Rasanya aku ingin sendiri menjalani hari-hari dan tak memerlukan orang lain yang selama ini dekat denganku termasuk Mediana dan Bawon. Hanya Sarah yang masih kuijinkan dekat denganku, tapi kalau itu pun tak mungkin, biarkan aku memilih sendiri cara untuk melupakannya.
Aku berencana menjumpai Giring si anak punk. Kenapa dia bisa bertahan hidup padahal jauh dari orang tuanya. Bagiku meskipun penampilan Giring seperti itu, tapi dia pantas menjadi tempat rujukan. Bagaimana menjadi mandiri dan tahan banting menghadapi persoalan hidup yang berat ketika mengalami putus cinta. Giring si anak punk pasti punya kiat-kiat khusus untuk itu.
Hampir dua jam aku duduk di halte depan Universitas Panca Budi, menunggu munculnya sosok Giring. Sesekali aku berdiri dan mengintai ke arah perempatan lampu merah, tapi tak satu pun sosok anak punk yang kelihatan. Kulirik jam di pergelangan tangan, masih pukul sembilan pagi. Mungkin saja tadi malam mereka pada begadang dan sekarang tinggal ngantuknya. Terkapar seperti pejuang revolusi ditembak serdadu Nippon!
Satu dua kendaraan melintas di jalan. Aku kembali duduk di bangku halte. Merenung dan melambungkan khayal ke langit lepas. Menemui Sarah Kamila Putri yang menantiku dengan senyum manisnya. Sempurnalah seorang lelaki bila bersamamu, wahai perempuan bergaun langit, bermahkota purnama dan bermata kejora. Aku ingin menjengukmu sebentar saja, mengabarkan cinta yang tak tertahankan rasanya di jiwa.
"Woi! Ngapain kau di sini?" tiba-tiba Giring muncul di dekatku.
"Aku ke sini memang sengaja mau jumpai kau," ujarku tanpa basa-basi lagi.
Giring menyulut rokok sebentar, kemudian mematikan korek gas di tangannya lalu menatapku dengan serius. Aku melihat asap keluar dari hidungnya. Hh! Persis seperti naga di buku dongeng. Mulut berkobar api sedangkan hidungnya berasap. Kalau dipikir-pikir apa ya untungnya merokok? Sudah duit habis, gaya kita pun seperti naga.
"Ada apa kau nyari aku?" tanya Giring heran.
"Aku mau tahu bagaimana rasanya tinggal jauh dari orang tua, susah nggak cari duit? Terus bagaimana kalau kau diputuskan sama pacar?"
Giring terdiam. Aku yakin jawabannya pasti memuaskan dan bisa kujadikan contoh hidup.
"Itu tadi pertanyaan?" Giring melirikku sekilas.
"Ya pertanyaanlah, apalagi?" sahutku cepat.
Giring kembali terdiam. Ah, dia pasti sedang mengumpulkan kata-kata bijak untuk dijadikan petuah. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Biasanya anak-anak yang suka berada di jalanan cara berpikirnya lebih dewasa karena ditempa oleh kerasnya kehidupan. Mereka sangat realistis menghadapi hidup, tidak muluk-muluk dan berhati baja.
"Hidup jauh dari orang tua itu berat. Aku sering juga rindu sama mereka. Pertanyaan kau yang kedua apa tadi?"
"Cari duit! Susah enggak nyari duit?" selaku cepat.
__ADS_1
"Susah."
"Pertanyaan ketiga. Kamu pernah diputuskan sama cewek nggak?"
"Karena aku diputuskan pacarku di kampung, makanya aku lari ke Medan ini. Biar aku bisa melupakan dia."
"Memang bisa lupa?" tanyaku penasaran.
"Ingat terus sampai sekarang," jawab Giring tak berdaya.
Oalah! Giring ... apa yang mau kujadikan contoh dari anak ini? Kalau dipikir-pikir lebih tegar aku dibandingkan dia. Meski diputuskan sama Sarah, tapi aku masih ingat pulang dan tidak sampai melarikan diri dari rumah kemudian hidup di jalan, memenuhi tubuh dengan tatto dan paku-paku serta segala macam aksesoris yang berduri-berduri.
"Banyak orang nggak tau, kalau patah hati itu sakit!" Giring bergumam pelan dan sepertinya tidak ditujukan padaku, lebih kepada dirinya sendiri.
"Memang," sahutku menanggapi.
Giring menoleh padaku.
"Kau juga sedang patah hati?"
”Bukan patah hati lagi, tapi remuk!" jawabku jujur.
"Masih lumayan kalau cuma remuk, kalau aku pakai redam. Remuk redam!" balas Giring tak mau kalah.
Giring mengangguk. Aku tertawa.
"Kita ini memang laki-laki bodoh, ya?"
"Mungkin," Giring menjentikkan puntung rokoknya ke jalan.
Kukuruyuk ... kukuruyuk ... nada panggil berbunyi. Aku mengambil ponsel dari saku celana. Nama mama tertera di layar. Gawat, kalau sampai mama menyuruhku pulang, apa kata Giring? Pasti dia tertawa mengejekku.
"Hallo ..." aku menyahut tanpa menyebut mama. Malu kalau sampai didengar sama Giring yang pasti ikut nguping.
"Pulang ke rumah, Bono!" suara mama di seberang sana.
"Ada apa, Ma?" tanyaku khawatir.
Ups! Keceplosan, aku melirik Giring. Kulihat dia mengambil rokok yang baru dan menyulutnya. Untunglah dia tak bereaksi mendengar aku menyebut sepatah kata keramat mama.
__ADS_1
"Pulang saja dulu, ada yang penting mau Mama bicarakan."
"Ya, sebentar lagi," sahutku.
"Sekarang juga, Bono," terdengar lembut suaranya, tapi aku yakin mama pasti sedang marah.
Aku menutup telepon. Giring menoleh padaku sambil tertawa.
"Dipanggil pulang sama Mama?"
Aku nyengir. Sialan, dia dengar juga rupanya.
"Iya, ada soal penting," jawabku malu.
"Bilang saja kau nggak dikasih keluyuran," Giring mengejekku.
Aku tak menanggapi dan berjalan menuju sepeda motor yang kuparkir di dekat halte.
"Kapan-kapan aku ke sini lagi," ujarku sambil menstater sepeda motor.
Giring tak menjawab. Dia berdiri dan beranjak meninggalkan halte sambil mengangkat tangannya padaku tanpa menoleh. Hh! Gaya yang aneh. Seperti aktor Holywood gayanya. Cool!
***
Sesampainya di rumah dan ketika masuk ke halaman, aku melihat banyak sepeda motor yang diparkir. Wah, ada apa ini? Apa mama mengundang orang untuk makan siang? Kuperhatikan satu-satu, tapi kok ... aku sepertinya mengenali beberapa sepeda motor yang parkir di halaman. Ups! Salah satunya sepeda motor Bawon. Tidak salah, ini pasti rombongan teman-teman sekelas, tapi mau ngapain mereka ke rumahku hari libur begini? Apa nggak punya tujuan lain buat nongkrong?
Masih dengan hati yang penasaran aku melangkah masuk ke dalam rumah. Ruang tamu penuh. Di antara teman-temanku yang duduk di situ, aku melihat mama dan papa tiriku ada juga di situ. Melihat wajah mama yang murung hatiku jadi kebat-kebit juga. Ada apa, ya? Semua teman-teman memandang aneh padaku termasuk Bawon dan Mediana yang duduk di dekat mama.
"Teman-temanmu datang membesuk. Mereka bilang kamu dapat ijin istirahat sebulan karena kecelakaan lalu lintas," ujar mama tenang. Setenang semilir angin pegunungan Brastagi.
Alamak! Matilah aku. Kalau tau begini lebih bagus nggak usah pulang saja tadi. Kenapa aku bisa lupa soal kecelakaan itu? Memang sudah hukum Tuhan barangkali, bahwa cepat atau lambat sebuah kebohongan itu pasti terbongkar juga.
"Tapi Mama bilang kamu sehat-sehat saja, malah bisa keluyuran."
"Bono memang kecelakaan, Tante. Waktu itu saya lihat dia datang ke sekolah. Tangan, siku dan kaki Bono luka-luka," ujar Sri tiba-tiba.
Mama meneliti siku dan tanganku dengan tatapan yang tajam. Memang masih ada bekas-bekas luka lecet di tangan.
"Kenapa kamu menghindar dari Mama dan menutup-nutupi kecelakaan itu, Bono?" tanya mama masih tetap dengan suara tenang.
__ADS_1
Aku diam saja dan masih tetap dalam posisi berdiri di tengah kerumunan teman-teman sekelasku yang duduk berdesakan, bahkan banyak yang cuma lesehan di lantai. Ruang tamu lumayan luas, tapi kursinya yang terbatas. Bayangkan saja teman sekelas tumplek-blek di ruang tamu. Apa enggak full house?
"Dokter mana yang memberi rekomendasi untuk istirahat sebulan dengan luka-luka ringan seperti itu?" tanya mama penasaran.