MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
KENIA DINAR AYU


__ADS_3

Karena memang belum makan malam dan perutku juga terasa lapar, maka meluncurlah aku ke kawasan Merdeka Walk. Tempat makan yang berada di alun-alun kota Medan ini memang menawarkan aneka menu pilihan dan atmosfer yang berbeda. Aku masuk ke salah satu gerai dan memesan tomyam. Sambil menunggu pesanan datang aku menebarkan pandangan melihat ke sekeliling yang memang terkesan romantis. Pengunjung tidak terlalu ramai dan aku leluasa memperhatikan orang-orang yang duduk di depan gerai, pada meja kursi yang tertata rapi.. Entahlah, sejak hubunganku dengan Sarah putus dan aku memilih mengucilkan diri dari keluarga dan teman-teman, aku jadi suka memperhatikan orang-orang di sekitarku. Pun ketika sedang keluyuran di terminal bis antar provinsi, pasar, mal dan sekarang di gerai makan ini. Aku sungguh-sungguh menikmati kebiasaan baruku. Ternyata memperhatikan orang-orang membuatku jadi kaya di dalam hati. Banyak pelajaran yang kudapatkan dari mereka yang kuperhatikan itu. Hidup ini pada dasarnya sama pada setiap orang, cuma cara memperlakukan kehidupan itu yang berbeda.


"Hai, kamu Bono, kan?" suara lembut seorang perempuan mengejutkanku.


Aku menoleh dan mengangkat sedikit kepala untuk melihat sosok perempuan yang berdiri di samping tempat dudukku. Dia tersenyum.


"Kamu memang Bono, si anak Mama!" dia berseru girang lalu mengambil tempat duduk di depanku.


"Masih ingat siapa aku?" perempuan itu menatap penuh bola mataku.


"Kenia? Eh, Mbak Kenia?" aku terpana. Ternyata dia perempuan berwajah indo yang berjumpa denganku di gerai ini beberapa waktu yang lalu.


"Panggil saja Kenia, tidak perlu pakai embel-embel Mbak, kesannya kok, aku lebih tua dari kamu? Usiaku baru 20 tahun. Masih kinyis-kinyis!" Kenia tersenyum menggoda.


"Aku 17 tahun," ujarku tak mau kalah.


”Halah, beda 3 tahun juga. Kalau kita pacaran pun masih pantas!" ujar Kenia lepas tanpa beban.


Berdesir juga hatiku mendengar guarauan Kenia. Perempuan secantik dia memang gampang sekali meruntuhkan hati para lelaki. Apalagi yang sedang terombang-ambing seperti aku sekarang. Laki-laki memang lebih gampang membuka hati dibandingkan perempuan. Aku yakin sekali kalau di tempat ini, Kenia lebih menonjol ketimbang cewek-cewek pengunjung gerai yang lain. Sosoknya yang semampai, berkulit putih bersih dan berwajah indo memang enak untuk dipandang. Aku sempat menangkap basah beberapa orang lelaki di meja yang berdekatan dengan kami. Mencuri pandang melirik Kenia. Padahal mereka juga sedang bersama dengan pacarnya masing-masing. Ah, laki-laki di mana pun sama saja. Nggak boleh lihat rumput tetangga lebih hijau, langsung deh gelap mata.


"Suka nongkrong di sini ya, Mbak?"

__ADS_1


Kenia merengut membuat alis matanya yang lebat hampir bertaut. Meskipun begitu wajahnya masih tetap cantik malah lebih menarik. Memang dasarnya cakep, dalam situasi apa pun, ya tetap saja bagus.


”Just call me Kenia, Ok?"


”I-Iya, Mbak ... iya, Ken ... " jawabku ragu-ragu.


"Ken, apa? Ken Dedes?" selanya cepat.


Hh! Bingung aku. Katanya disuruh panggil nama saja, sekarang kenapa dia keberatan? Orang cantik memang suka tinggi hati. Aku membuang pandangan, menghindari tatapan Kenia.


"Aku nggak suka kalau orang memanggil namaku sepotong-sepotong," ujarnya bernada protes.


"Aku nggak masalah kalau orang memanggilku, Bon," ujarku coba memancing reaksinya.


"Sudahlah, lupakan saja," Kenia mengalah.


Seorang pelayan mendatangi meja kami.


"Mbak, pindah ke meja ini?"


"Ya, saya pindah ke sini."

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk dan beranjak pergi.


"Lho, tadi kamu di meja mana?" tanyaku heran.


"Itu di sudut. Ketika melihat kamu datang, aku jadi merasa punya teman. Sekalian aja pindah meja," Kenia tersenyum.


”Kok, masih mengenalku, padahal kita cuma bertemu sekali?" heran juga aku. Apa daya ingat Kenia yang kuat atau wajahku yang sulit untuk dilupakan. Hahayyy ...


"Kamu juga kenapa masih mengenalku?" Kenia balik bertanya.


Aku nyengir. Bukan daya ingatku yang kuat, tapi wajah Kenia memang sulit untuk dilupakan.


"Karena tampang bulemu itu," jawabku jujur.


Kenia tersenyum senang.


"Jadi terpesona nih, ceritanya?" goda Kenia.


Wah, gawat. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu, aku jadi kelabakan juga dibuatnya. Bohong kalau aku tidak terpesona, tapi kalau aku jujur, bisa besar kepala dia.


"Kamu juga terpesona kan, sama aku?" balasku tak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2