
Aku tertawa senang karena berhasil membalas Giring. Kenia menstater mobil dan aku bergegas membuka pintu kemudian masuk ke dalam mobil.
Aku membuka jendela mobil dan melambaikan tangan pada Giring.
"Oh iya, bro. Bukan porse, tapi porsche!" aku meralat ucapan Giring soal merek mobil Kenia yang disebutnya tadi.
"Suka-sukakulah, bagudung!" teriak Giring kesal.
Aku menutupkan jendela. Di dalam mobil, aku dan Kenia mentertawakan Giring.
"Temanmu itu aneh!" ujar Kenia di sisa-sisa ketawanya.
"Cara berpakaian dan penampilannya?" aku menoleh pada Kenia.
”Bukan itu saja, tapi juga kata-katanya. Kayak nggak punya tata krama,"
"Meski begitu hatinya baik," ujarku membela Giring.
"Baik apanya?"
"Meskipun hidup di jalanan, tapi dia tidak pernah mengganggu orang lain, cari duit juga dengan cara halal."
"Jadi pelukis? Pelukis Tattoo?" cibir Kenia.
"Dia tidak merampok atau jual narkoba. Jadi Pelukis tattoo nggak dilarang, kan?"
Kenia diam tak menanggapi. Dia serius memandang jalan dan menyetir dengan hati-hati. Aku juga diam. Pikiranku melayang ke rumah. Teringat mama, Bik Narti, Bawon, Mediana dan Sarah. Ah, aku sudah membuang diri jauh dari mereka. Tiba-tiba Kenia membuka kaca jendela mobil lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Aku coba mematikan AC mobil, tapi Kenia mencegahnya.
"Biarkan saja."
__ADS_1
Aku urung mematikan AC dan menyandarkan tubuh di sandaran jok mobil yang empuk. Asap rokok Kenia menyaput wajahku. Aroma Dunhill Lights merasuk ke indera penciumanku. Merokok itu berbahaya dan mematikan, tapi kalau sudah kecanduan, susah untuk berhenti.
"Boleh aku minta sebatang?"
"Ambil saja," ujar Kenia tanpa menoleh.
***
Kami sampai di apartemen pukul tujuh malam. Kenia menyuruhku mandi dan setelah itu berencana turun ke bawah untuk makan malam di restoran. Ketika selesai mandi, berpakaian rapi dan keluar kamar, aku mendapatkan Kenia sedang menerima telepon. Melihatku datang, dia memberi isyarat dengan tangan agar aku kembali masuk ke kamar. Meski merasa aneh, aku menurut saja. Perlahan aku berbalik dan masuk ke kamar. Tak sampai lima menit, terdengar pintu kamar diketuk dan suara Kenia memanggilku. Aku membuka pintu.
Wajah Kenia terlihat lain. Seperti ada yang dikhawatirkannya.
"Bono, maaf. Malam ini kamu nggak bisa menginap di sini."
"Oke, nggak apa-apa. Aku bisa nginap di rumah teman."
Kenia memandangi wajahku. Seoalah dia ingin berkata sesuatu, tapi dibatalkannya. Aku bergegas mengambil ransel dan keluar kamar tanpa bersuara. Kenia mengikuti. Ketika sampai di pintu apartemen, Kenia memberikan uang dan aku menolaknya.
Aku memang tidak punya uang sepeser pun, kemarin habis buat bayar taksi menuju apartemen Kenia dan kartu ATM sengaja kutinggal di rumah. Biar mama tahu kalau aku bisa hidup tanpa uang pemberiannya. tapi sekarang aku mendapatkan kenyataan hidup yang luar biasa menakutkan. Sendirian di luar tanpa tempat tinggal dan uang!
"Ambillah, Bono. Kamu pasti memerlukannya," ujar Kenia masih memaksaku untuk menerima uang pemberiannya.
"Tidak, terima-kasih.”
Aku melangkah pergi menyusuri koridor apartemen, tidak tahu mau menginap di mana malam ini. Aku memang tidak punya teman kecuali di Facebook. Apakah aku harus mengetuk pintu rumah Bawon sahabat karibku itu? Bagaimana dengan adiknya, Sarah? Uh! Aku tak mau lagi bertemu dengan perempuan yang telah meninggalkanku itu.
"Nanti aku menghubungi kamu, Bono!" teriak Kenia dari pintu apartemennya.
Aku sudah tak peduli lagi pada ucapan Kenia. Sekarang dia asing bagiku, Kenia sama saja dengan teman-temanku di dunia maya. Penuh dengan misteri. Tak bisa ditebak siapa mereka sesungguhnya. Aku terus menyusuri koridor menuju pintu lift. Di pintu lift aku berpapasan dengan seorang lelaki gemuk yang baru saja naik dari lantai bawah. Dia si lelaki pemabuk, Soriano!
__ADS_1
"Eh, mau ke mana kau bawa-bawa ransel?"
'Nggak tau," jawabku asal-asalan.
"Kau diusir Kenia, ya?"
Aku malas menanggapi dan melangkah menuju pintu lift, tapi lelaki gemuk itu menarik lenganku. Pintu lift kembali tertutup.
"Sudahlah, kau pasti butuh tempat menginap. Ayo, ke tempatku. Come on!"
Aku mengikut saja seperti kerbau dicucuk hidung. Lagi pula aku memang tidak punya tujuan mau ke mana, jadi tawaran si lelaki pemabuk masih menguntungkan buatku, setidaknya untuk malam ini.
"Kita bicara soal Kenia," ujar Soriano sambil melangkah menyusuri koridor apartemen.
Aku diam saja.
“Ayolah, jangan sungkan. Kita sekarang bersahabat, Ok?" Soriano nampak bersemangat.
"Terima kasih," jawabku singkat.
Banyak yang akan kutanyakan padamu, tidak keberatan, kan? Soriano tersenyum. Pipinya yang bulat tembem semakin terlihat seperti bakpao.
"Soal apa, Om?" tanyaku heran.
"Ah, jangan panggil, Om. Panggil saja, Bro. Ok?"
"Ba-baik, Bro .... "
"Nah, begitukan asyik!"
__ADS_1
Kami sampai di depan apartemen Soriano. Lelaki gemuk itu mengambil kunci dan membuka pintu. Dia bersiul-siul tak jelas, entah lagu apa. Sepertinya dia senang bisa mengajakku. Dikiranya aku banyak tahu soal Kenia.