MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
SURAT PANGGILAN dari SEKOLAH


__ADS_3

Sampai di kantor guru, aku langsung menuju ke meja Bu Oca. Kulihat beliau sedang memeriksa tumpukan buku-buku di atas mejanya.


”Ibu memanggil saya? tanyaku pelan.


Bu Oca mengangkat wajahnya dan memandangku.


Silakan duduk.


Aku duduk di depan Bu Oca.


Kamu memang kreatif! ujar Bu Oca sambil menunjukkan sebuah buku padaku.


Alamak! Itu kan buku bahasa Inggrisku?


Tapi terlalu kreatif sehingga membuat Ibu jadi marah!


Maksudnya, Bu? tanyaku tak mengerti.


Saya menyuruh kamu dan teman-temanmu mengalihbahasakan lagu anak Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Cuma kamu yang menulis seperti ini. Kamu mengerti tidak apa maksudnya alihbahasa?


Aku diam dan menunduk.


Apa ini, pok a me a me dan ini be lay long cope you cope you? lanjut Bu Oca dengan suara bernada geram.


Kalau kamu tidak bisa lebih baik dikosongkan saja, itu lebih Ibu hargai daripada kamu menulis seperti ini. Itu namanya kamu mempermainkan saya, Bono!


Saya tidak bermaksud mempermainkan, Ibu.


Jadi kenapa kamu cuma menuliskan kata-kata dalam bahasa Inggris yang bunyinya mirip-mirip dengan bahasa Indonesia?

__ADS_1


Aku cuma diam. Mau beralasan apalagi. coba?


Kamu tunggu di sini, saya mau bicara dengan Kepala Sekolah! ujar Bu Oca sambil berdiri dan bergegas pergi.


Ternyata doaku minta keajaiban supaya bisa keluar dari kelas untuk menghindari hukuman dari Pak Alimin, terkabul sudah, tapi ini bukan keajaiban, melainkan lepas dari mulut harimau nyasar ke mulut kuda nil. Hancur juga, Pakcik! Pastilah aku kena hukuman berat.


Hampir lima belas menit aku menunggu, barulah Bu Oca muncul lagi dan mengajakku ke ruangan kepala sekolah. Tubuhku mendadak lemas. Apa bisa aku minta penangguhan dengan alasan sakit supaya tidak bertemu kepala sekolah? Seperti para koruptor itu kenapa bisa menghindar dan pergi berobat ke luar negeri? Mimpilah kalau aku bisa mendapat keringanan seperti itu. Kalau bikin kesalahan kecil pasti langsung kena hukuman. Coba kalau kesalahannya besar dan dilakukan oleh orang-orang besar, banyak alasan yang bisa meringankan mereka. Dasar kutukupret! Hehehe ... tapi apa hubungannya alihbahasa dengan korupsi, ya? Nggak ada, ***!


Bono, kamu saya hukum tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Besok orang tua kamu harus menemui saya. Ini suratnya, ujar Bapak Kepala Sekolah berwibawa. Apalagi dia pakai baju safari. Makin tambah angker di mataku, seperti pejabat tinggi saja layaknya.


Mau tidak mau, aku harus mau. Surat itu kuterima dengan berat hati. Bahasa sastranya ya, hidup segan mati tak mau, bagai jatuh tertimpa kelapa. Nasib kaulah, Bono. Kenapa cari penyakit?


Ingat, Bono. Surat itu harus kamu sampaikan pada orang tuamu jangan sama pembantu. Saya tidak mau diwakilkan. Orang tua kamu sendiri yang harus datang menjumpai saya. Terserah siapa saja, Papa atau Mama kamu. tegas Bapak Kepala Sekolah.


Iya, Pak, ujarku. Jangan khawatir, surat ini akan saya kirimkan pakai kilat khusus! Oh, ya. Kalimat yang terakhir itu cuma kuucapkan dalam hati saja, mamen!


Pulang sekolah setelah berganti pakaian, aku memberikan surat dari Kepala Sekolah pada Bik Narti. Biarlah dia saja yang memberikannya pada mama. Kalau untuk urusan menyampaikan surat bolehlah diwakilkan, yang enggak boleh itu datang ke sekolah. Harus mama atau papa. Begitu kan kata Bapak Kepala Sekolah.


Surat apa ini, Bono? tanya Bik Narti heran.


Dari Bapak Kepala Sekolah untuk Mama.


Bik Narti bengong. Melihat surat di tangannya dan memandangku bergantian.


Sudahlah, Bik. Ini biayanya, kilat khusus! aku menggenggamkan selembar lima puluh ribuan ke tangan Bik Narti.


Aku bergegas keluar. Bik Narti mengikutiku sampai ke halaman.


Bono, nanti Bibik harus bilang apa sama Ibu?

__ADS_1


Katakan saja ada surat dari sekolah Bono. Terus surat itu Bibik berikan sama Mama. Cukup begitu saja, tugas Bibik selesai.


Sekarang kau mau ke mana? Bik Narti memandangku dengan curiga.


Mau cari angin, Bik! ujarku sambil menstater sepeda motor.


Cari angin apa mau melarikan diri? sindir Bik Narti.


Memangnya, Bono koruptor, Bik? protesku kesal.


Ini pasti surat teguran dari sekolah, kan? Bik Narti mengacungkan surat di tangannya.


Nanti juga Bibik bakalan tahulah, aku menjalankan sepeda motor meninggalkan halaman rumah.


Mau ke mana, Bono?


Aku menghentikan sepeda motor.


Keluar bentar, Bik. Ikut?


Oalah, Bono gendeng! seru Bik Narti.


Aku tertawa dan kembali menjalankan motor.


"Kamu belum makan siang, Bono," teriak Bik Narti.


Gampanglah, Bik. Bono bisa makan di warung."


Urusan menyampaikan surat dari Kepala Sekolah sudah beres. Tenang sedikit hatiku. Soal bagaimana reaksi mama, itu urusan nanti. Kalau aku nggak ada di rumah, dia mau marah sama siapa? Paling-paling Bik Narti yang jadi sasaran. Maafkan aku ya, Bik. Kan udah dikasih goban? *

__ADS_1


__ADS_2