
Setelah ibunya Mediana pindah ke Batam, praktis anak angkat mamaku itu tidak punya tempat tinggal lagi. Selama ini dia hanya mendapatkan biaya sekolah dari mama dan masih tetap tinggal bersama ibu kandungnya, tapi sekarang setelah ibunya pindah, mama menariknya ke rumah kami. Mediana menempati kamar Kak Farah yang sudah lama kosong karena kakak perempuanku itu kuliah di Malaysia. Aku berharap kehadiran Mediana bisa mengobati rasa rindu mama pada Kak Farah yang berada jauh di negeri seberang. Atau setidaknya mama punya teman di rumah selain Bik Narti. Kalau aku jangan diharap, aku kan anak laki-laki yang lebih sering berada di luar ketimbang di rumah.
Sejak Mediana tinggal di rumah, mama semakin tak mempedulikanku lagi, malah dia merasa seolah mendapatkan ganti. Mama jadi lebih akrab dengan Mediana dibandingkan denganku. Sekarang mama tidak mau tau, apa aku ada di rumah atau tidak. Mau sekolah apa tidak, sudah makan apa belum atau aku mau ngapain pun mama sudah tidak peduli. Semuanya terserah padaku dan mama tak mau ikut campur lagi. Mama diam seribu bahasa kalau sudah menyangkut urusanku. Untungnya dia masih tetap mengisi rekeningku setiap bulan. Mungkin cuma itulah bentuk kasih sayangnya yang masih tersisa.
Aku menyadari kalau Mediana menjadi rikuh dan kikuk menghadapi situasi di rumah. Dia merasa serba salah bila bertemu atau berpapasan denganku. Kasihan juga Mediana, dia terjebak di antara permusuhanku dengan mama. Padahal tidak sedikit pun aku merasa dia telah merebut perhatian dan kasih sayang mama. Aku dibenci karena memang sudah sangat mengecewakan hati perempuan yang telah melahirkanku itu. Sekarang hatiku jadi sekeras batu. Biarlah mama membenciku, aku tak peduli lagi sekarang. Bik Narti yang selalu mencoba membujuk agar aku mau berubah menjadi anak baik seperti dulu, rajin sekolah dan tak pernah keluyuran malam.
"Bono, malam nanti hari ulang tahun Papamu," ujar Bik Narti ketika berpapasan denganku di dapur.
"Oh ya, Papa tiriku itu mau ulang tahun?" tanyaku tak bersemangat.
"Nyonya minta sama Bibik untuk menyampaikannya padamu, supaya nanti malam jangan keluar dan tetaplah di rumah. Makan malam bersama keluarga dan teman-teman Papamu," Bik Narti menerangkan.
"Kenapa tidak Mama sendiri yang mengatakannya, Bik?" Kok, pakai perantara? protesku.
"Kau tidak sayang lagi pada Mamamu, Bono?" Bik Narti menatapku kesal.
__ADS_1
"Sayang, Bik. Kalau tidak sayang, Bono sudah minggat dari rumah ini," jawabku enteng.
Tiba-tiba Mediana muncul di dapur.
"Bik, kata Tante nanti malam acara potong tumpengnya di halaman belakang. Jadi konsepnya seperti pesta taman."
"Berarti kita harus menyiapkan tempatnya sebelum orang dari katering datang?" ujar Bik Narti tanggap.
"Iya, Bik. Kita harus siap-siap," Mediana terlihat sibuk.
"Beres, Bik. Pasti dibantu, tapi setelah itu Bono mau pergi. Sudah janji sama teman," aku berbohong. Malas saja hadir di acara ulang tahun papa tiriku itu. Bukan aku tak menerima dia sebagai pengganti ayahku, tapi aku malas bertemu mama.
"Sebaiknya kau tidak keluar rumah malam nanti," tiba-tiba Mediana bersuara.
Bik Narti cepat-cepat pergi meninggalkanku dengan Mediana. Agaknya dia ingin memberi ruang pada kami untuk bicara berdua saja.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Setiap malam kau keluar. Apa salahnya sekali ini berdiam diri di rumah, menghadiri acara syukuran hari ulang tahun Papamu," Mediana mengingatkanku.
Aku tak balas menjawab atau menanggapi Mediana. Apa yang kulakukan adalah mulai menata halaman belakang rumah untuk pesta malam nanti. Beberapa kali kami pernah mengadakan acara pesta taman di halaman belakang. Jadi aku tau apa yang harus dipersiapkan dan Mediana ikut membantu.
"Bik, apa acara nanti malam pakai barbekyu", tanyaku pada Bik Narti yang sedang menata meja panjang dengan taplak bermotif Burberry warna merah marun bergaris pinggir putih.
"Kalau pakai acara barbekyu, biar Bono siapkan grill-nya,” sambungku lagi.
"Cuma tumpengan saja. Makanannya dipesan dari katering," sahut Bik Narti.
Tanpa bertanya lagi, aku mendirikan payung taman untuk memayungi meja tempat meletakkan peralatan makan dan minuman. Sedangkan Mediana kulihat sedang menata kursi-kursi bersama Bik Narti.
Selesai menata tempat pesta ulang tahun di halaman belakang, aku bergegas mandi. Hampir pukul empat sore dan aku harus bergegas pergi dari rumah sebelum mama dan papa tiriku pulang dari kantor.
__ADS_1
***