
Perbincanganku dengan Sarah tidak berarti apa-apa. Bukannya dia senang mau dijodohkan, malah ketawa-ketawa mengejek. Diam-diam aku berpikir kalau hubungan ini akan segera berakhir kalau saja Sarah menolak pertunangan. Hh! Benar-benar seperti kisah di sinetron. Apa karena Tante Puji keseringan nonton sinetron kali, ya? Kalau tidak, dari mana dia dapat ide soal pertunangan ini?
"Pikirkanlah sekali lagi, kita dilarang pacaran sama Mama kamu," aku berusaha membujuk Sarah.
"Aku juga nggak mau kalau kita tunangan. Malu aja kalau sampai teman-teman pada tau."
Aku memandang Sarah dengan tatapan heran.
"Kenapa memang kalau teman-teman tau?"
"Kita masih muda, belum selesai sekolah. Mau tunangan kayak orang ngebet mau kawin aja!"
Aku menarik napas berat. Keputusan harus diambil sekarang juga meski sepahit apa pun itu. Paling tidak aku sudah punya sikap. Begitukan seharusnya jadi cowok? Tegas, men! Jangan plintat-plintut.
"Ya, sudah. Kalau begitu kita back street aja," aku mengusulkan.
Sarah menatapku tajam.
"Maksudnya?"
"Kita pacaran sembunyi-sembunyi, diam-diam, jangan sampai Mamamu tau."
"Bisa gitu, macarin anak orang di belakang Nyokapnya? Nggak gentle, banget!" Sarah menampik usulku.
"Nggak ada jalan lain lagi, kan? Atau kita bubar aja," aku kehabisan akal.
Sarah nampak terkejut mendengar ucapanku. Wajahnya menjadi murung. Ada mendung berarak di kedua bola matanya yang bening. Ah, dia memang cantik. Aku suka sekali melihat wajahnya yang teduh. Sakit rasanya harus mengakhiri kebersamaan dengan Sarah, tapi aku juga tidak akan berani menghadapi Tante Puji, yang dengan tegas melarang Sarah pacaran. Kalau aku membangkang, itu sama saja mengundang kemarahan di hatinya. Kalau sudah marah pasti datang benci. Kalau sudah benci, aku pasti dilarang datang.
"Semudah itukah?" suara Sarah terdengar bergetar.
__ADS_1
"Kita tidak punya pilihan lain, kan?"
"Kita pacaran aja, nggak perlu tunangan."
"Aku nggak berani. Takut sama Mama kamu," sahutku pelan.
"Ya, sudahlah. Kalau begitu kita putus."
Sarah bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Entah kenapa aku tak berusaha mencegahnya. Kubiarkan saja dia pergi membawa perasaan kesal, marah, mungkin juga sedih. Ada mendung yang bergayut di mata. Mendung yang tiba-tiba saja datangnya dan menutupi kami dengan kegelapan. Ah, biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka. Walau bagaimanapun, rasa sayangku padanya tak akan pernah bertukar menjadi benci. Tak akan ...
***
Di sekolah Bawon sibuk menanyai tentang putusnya hubunganku dengan adik perempuannya itu. Dia tak percaya kalau aku memang sudah tidak ada hubungan lagi dengan Sarah. Katanya kami terlalu emosional memutuskan hubungan hanya karena masalah pertunangan. Masih ada cara lain untuk tidak bermusuhan seperti itu.
"Yang musuhan siapa, Won?" tanyaku heran.
"Ka-kalau ... kalian putus apa itu bukan musuhan namanya?" ujar Beben tergagap.
"Nggaklah, aku dan Sarah tidak bermusuhan, masih tetap berteman seperti biasa. Cuma memang kami tidak lagi pacaran. Itu saja."
"Kalian kan bisa pacaran secara diam-diam, tidak perlu tunangan-lah. Lagian mana ada orang tunangan jaman sekarang, kuno!" Bawon masih mencoba membujukku.
"Aku juga mintanya begitu, tapi Sarah yang nggak mau. Kalau pacaran back street itu nggak gentleman!"
Bawon terdiam. Aku memperhatikannya.
"Terus aku dan Mediana bagaimana?" gumam Bawon pelan.
Aku tertawa. Gelak-gelak.
__ADS_1
"Begok! Kalian ya, tetap aja jalan. Apa hubungannya dengan kami?"
“Bukankah dulu kita melakukan barter? Kau naksir adikku dan aku minta Mediana jadi pacarku," ujar Bawon bodoh.
“Sekarang kau masih pacarnya Mediana, kan?"
"Masih."
“Ya, sudah. Apa yang dipersoalkan?"
Bawon menoleh. Menatapku seperti orang bodoh.
"Kau bagaimana?"
"Ya, nggak apa-apa. Meskipun bubar dengan Sarah, aku tidak serta-merta meminta kau harus putus juga dengan saudara angkatku itu. Nggaklah, aku bukan seperti bawang merah yang mau menang sendiri dan menyengsarakan bawang putih," ujarku kembali dengan nada bercanda.
"Kau serius tanya Bawon memastikan.
“Bukan serius lagi, tapi dua rius!"
Bawon terlihat sedikit lebih tenang ketika melihat reaksiku yang santai dan tidak menunjukkan rasa permusuhan dengan dia dan adiknya. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, kok. Masak aku harus marah-marah dan menyalahkan semua orang karena hubunganku putus dengan Sarah? Gila aja kalau aku melakukan hal seperti itu.
“Percayalah padaku,” ujarku meyakinkan Bawon.
Bawon menepuk pelan pundakku.
"Terima kasih, Bono."
"Ah, tidak ada yang perlu diterima-kasihi," ujarku tersenyum.
__ADS_1
Terbayang lagi wajah Sarah di pelupuk mataku. Ada rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak dalam hati. Ah, kekasih. Kenapa ada tinggal-meninggalkan di antara kita. Taukah kau, aku merasa kehilanganmu?
Tiba-tiba aku tersentak bangun, ternyata tadi cuma bermimpi ketemu sama Mama, Tante Puji, Sarah dan Bawon. Mimpi yang kurang lebih sama dengan kejadian nyata yang pernah kualami. Membicarakan soal pertunangan, cinta yang harus putus. Membuat kepala jadi pusing tujuh keliling, lalu hati berkecamuk seakan dunia mau kiamat. Aku kembali memejamkan mata, ngantuk sekali rasanya.