
Terdengar suara seperti dengungan lebah. Suara itu adalah suara tawa yang tertahan dari teman-teman sekelas yang berkumpul di ruang tamu. Aku juga sempat melihat Bawon dan Mediana berusaha menahan tawa dan senyumnya, sehingga wajah mereka kelihatan seperti orang sedang menahan angin supaya tidak bablas menjadi kentut.
Merasa malu karena dipermalukan oleh mama di depan teman-teman sekelas, aku beranjak meninggalkan ruang tamu, menuju ruang tengah lalu melewati ruang makan langsung ke dapur. Di dapur aku mengambil air jeruk dari kulkas. Tenggorokan rasanya kering dan dahaga. Di sudut dapur dekat pintu kulihat Bik Narti berdiri menghadap keluar. Setelah menuangkan air jeruk ke dalam gelas, aku menghampiri Bik Narti.
”Bik Narti ngapain? tanyaku heran.
Bik Narti menoleh dan kulihat matanya berkaca-kaca.
"Bibik kenapa?"
"Tadi Bibik ditegur sama Nyonya."
"Ditegur? Dimarahi maksud Bibik?" tanyaku penasaran.
Lalu Bik Narti bercerita kalau mama marah karena Bik Narti merahasiakan keadaanku yang mengalami kecelakaan. Meskipun Bik Narti beralasan kalau dia melakukan hal itu supaya mama tidak panik. Lagi pula itu cuma kecelakaan ringan dan luka-lukanya tidak serius, tapi mama tak mau menerima alasan yang disampaikan oleh Bik Narti.
"Jadi Mama bilang apa sama Bibik?" aku menyelidik. Kasihan juga melihat Bik Narti.
"Sudahlah, Nak Bono," Bik Narti beranjak dari pintu dapur.
Hh! Kesal hati jadinya. Masalah kok nggak habis-habis? Perlahan aku melangkah keluar sambil membawa gelas berisi air jeruk, berjalan menuju taman samping. Di situ aku duduk dengan perasaan geram dan marah. Semua ini gara-gara Sarah!
Kenapa dia yang harus disalahkan? Kamu sendiri yang salah, Bono. Apa Sarah harus suka dan sayang sama kamu? Pikiranmu sempit, jiwamu cupit! Cuma gara-gara diputusin sama dia, kau merusak diri sendiri. Keluyuran, berbohong, bolos sekolah. Mau jadi apa kau, jadi hantu? Suara hatiku bergema silih berganti. Perang batin antara menyalahkan dan membenarkan. Setan juga ikut campur berbisik-bisik di batok kepalaku. Sudahlah, Bono. Bunuh diri saja, Bunuh diri saja. He ... he ... he ...
"Bono?" suara Mediana mengejutkanku.
Aku diam saja, tak menoleh sedikit pun.
__ADS_1
"Kita harus bicara sekarang," ada satu suara lain terdengar.
Uf! Yang satunya lagi suara Bawon? Aku menoleh ke belakang. Mediana dan Bawon sudah berada di dekatku.
"Kami datang karena khawatir dengan keadaanmu. Pak Marudut bilang kau mengalami kecelakaan lalu lintas. Sri juga memastikan kalau hal itu benar karena dia sendiri bertemu denganmu saat itu," ujar Bawon hati-hati.
"Tapi Sri bilang kamu tidak apa-apa, cuma luka-luka ringan. Jadi kami sengaja datang pas hari libur begini, biar semuanya bisa ikut membesukmu. Sebetulnya kami juga heran, kenapa cuma luka ringan saja, kok dikasih ijin istirahat sebulan?" ujar Mediana menimpali.
"Sudahlah, soal ijin itu tidak perlu dipersoalkan lagi," Bawon menyela.
"Surat rekomendasi dokter itu kupalsukan," ujarku terus terang.
Beben dan Mediana nampak terkejut. Ah, biar saja. Supaya mereka tahu kalau Bono sudah jadi anak nakal sekarang.
Mediana duduk di sebelahku. Di bangku taman samping rumah. Sedangkan Bawon masih berdiri di dekatku.
"Supaya bisa bolos," sahutku enteng sambil mereguk air jeruk dari gelas yang cuma kupegang saja sedari tadi.
"Ujian akhir tinggal tiga bulan lagi, Bono," suara Bawon terdengar prihatin.
Sampai Bawon dan Mediana beranjak dari taman samping dan semua teman-temanku yang lain permisi pulang, aku masih tetap duduk membisu di bangku taman.
***
Sejak peristiwa kemarin mama tak mau lagi menegurku. Dia seolah menyerah dan lepas tangan. Mungkin inilah puncak kemarahannya. Mama diam dan membisu seperti batu. Aku juga tak mau ambil pusing soal kemarahan mama. Biarkan saja asalkan dia tidak menyetop uang saku ke rekeningku, itu sudah cukup. Sekarang aku hanya butuh uang dan tak perlu segala omong-kosong yang bernama kasih sayang dan perhatian. Uang yang penting!
Pada waktu makan malam, mama pun tidak memanggilku untuk makan bersama seperti biasanya. Aku juga tak mau mempersoalkan sikap mama. Selagi mama dan papa tiriku makan malam, diam-diam aku menyelinap keluar setelah memberi tahu Bik Narti supaya dia meletakkan kunci pintu gerbang di dekat kotak pos, agar memudahkanku masuk ke rumah bila pulang larut malam. Semula Bik Narti menolak permintaanku, tapi aku mengancam akan pulang pagi bila dia tidak mau menaruh kunci pintu gerbang di dekat kotak pos. Akhirnya Bik Narti mengalah meskipun dengan berat hati. Mungkin dipikirnya biarlah aku pulang larut malam daripada pulang pagi?
__ADS_1
"Tapi kau janji sama Bibik, jangan mabuk-mabukan di luar."
"Iya, Bik. Jangan takut."
"Jangan ikut-ikutan balapan liar," sambung Bik Narti lagi.
“Kok, Bibik tahu segala macam balapan liar? tanyaku heran.
“Bibik kan suka liat beritanya di televisi. Apalagi anak-anak Geng Motor, mereka itu jahat!"
Aku memandangi Bik Narti dengan perasaan geli.
"Apa Bono ada tampang pembalap liar dan jadi anggota Geng Motor, Bik?" tanyaku penasaran.
"Ya, siapa tahu. Tampang kan bisa saja, kelihatannya baik, tapi ternyata hatinya jahat."
Aku tertawa.
"Si Bibik bisa aja, ah! Kalau Bono ketahuan ikut balapan liar dan jadi anggota Geng Motor, nggak usah dikasih pintu. Biar Bono tidur di luar,” ujarku berusaha meyakinkan perempuan paruh baya yang sudah lama ikut keluarga kami, bahkan dia juga yang merawatku ketika masih kecil.
Bik Narti mencibir.
“Potonganmu mau tidur di luar. Kalau sudah jadi anak brandalan, kau pasti melawan. Bibik enggak ngasih kunci, pasti pintunya kau congkel."
"Bono tidak akan sejahat itu, Bik." aku tersenyum geli.
Aku menyudahi pembicaraan dengan Bik Narti. Lalu mengambil sepeda motor di garasi kemudian mengendap-endap mendorong sepeda motor keluar halaman. Setelah agak jauh dari rumah, baru aku menghidupkan mesin sepeda motor agar tidak terdengar oleh mama. *
__ADS_1