
Aku jadi teringat sama film-nya Kevin Costner, Water World. Di mana ketika daratan tenggelam dan berganti menjadi lautan. Semua orang hidup di atas air, mereka membuat rumah terapung dari bekas kapal-kapal tua atau rongsokan peninggalan dunia moderen yang telah hilang. Setunas tanaman dan segumpal tanah menjadi barang mewah dan mahal di dunia atas air itu.
"Ah, ngeri!" desisku ketakutan sendiri.
"Heh, kita harus menulis sekarang!" Sri menyikut lenganku.
Akhirnya kami sepakat berbagi tugas. Aku yang menulis isi pidato dalam bahasa Indonesia, sedangkan Sri mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Inggris. Selagi asyik berpikir—merangkai kata untuk isi pidato, pandanganku menerawang dan singgah ke bangku depan, di barisan tengah. Di sana Mediana dan Bawon duduk berdua. Sesekali mereka bicara dan Bawon menulis. Aku menduga pastilah Bawon jadi juru tulis. Meskipun dia lumayan bisa bahasa Inggris, tapi untuk merangkai kata dan menuliskannya sebagai pidato, Bawon pasti kalah sama Mediana.
Aku masih terus memandangi mereka. Tiba-tiba Mediana menoleh ke belakang tepat ke arahku, di meja ke tiga dari depan sebelah kanan. Pandangan kami bertemu tepat di bola mata. Aku melihat tatapan Mediana seperti menaruh iba padaku. Pelan aku mengalihkan pandangan dan mulai menulis di buku: Perubahan iklim yang membunuh kehidupan di bumi.
***
Ketika jam istirahat sekolah aku berbaur dengan teman-teman yang lain menyerbu kantin untuk sejenak melepas penat setelah berjam-jam konsentrasi mengerjakan tugas dan menyerap pelajaran. Aku cuma memesan teh botol dengan es lalu membawanya ke belakang kantin. Di situ ada sebatang pohon mangga yang lumayan besar berdaun lebat dan rimbun. Di bawah pohon mangga itu ada bangku kayu panjang, tempat seperti ini cukup membuatku merasa tenang. Suasananya sejuk dan nyaman meskipun hiruk pikuk dari dalam kantin masih terdengar jelas seperti suara lebah bergemuruh, tapi hal itu tidak mengurangi rasa nyamanku berada di tempat ini.
Di tengah keramaian aku merasa sendiri. Aku kehilangan Bawon, Mediana dan Sarah. Meskipun aku tau kalau di hati mereka, aku masih mendapat tempat. Mereka tidak meninggalkanku, tapi aku yang menjauh dari mereka. Bawon dan Mediana sudah membagi waktu bersama, aku tak boleh lagi mengganggunya. Sedangkan Sarah, aku yakin dia masih memikirkanku, walaupun dia tak mau lagi menjadi pacarku.
"Bono ...”
Tiba-tiba Mediana sudah berdiri di dekatku.
"Boleh aku duduk di sini?"
"Duduklah. Mana Bawon?" aku mereguk sedikit teh botol dari gelas yang berisi potongan es batu.
"Ada di kantin. Aku bilang mau bicara berdua saja sama kamu," Mediana duduk di sebelahku.
“Kok, tahu aku di sini?"
"Aku selalu memperhatikanmu, Bono."
Aku tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terima kasih."
Beberapa saat kemudian kami cuma terdiam. Membisu seribu kata. Aku tak tahu harus berkata apa dan Mediana pun nampaknya susah untuk merangkai kata. Apa yang tersirat di hati ada kalanya memang susah untuk diucapkan, apalagi yang menyangkut perasaan.
"Kenapa kau menjauh dari kami?" suara Mediana terdengar juga akhirnya.
Aku diam saja sambil memutar-mutar gelas di tangan. Angin berembus dan menerbangkan helaian daun mangga kering. Satu-dua jatuh tepat di pangkuan Mediana. Dia mengambil daun kering itu dan menggenggamnya.
"Aku merusak persahabatan kalian, ya?" gumam Mediana pelan.
Sumpah demi Tuhan, sedikit pun aku tak merasa kalau Mediana sudah merusak persahabatanku dengan Bawon. Aku senang mereka bisa bahagia. Merajut hari-hari bersama dan bersepakat menyongsong masa depan berdua.
"Bodoh sekali aku kalau menganggapmu telah merusak persahabatanku dengan Bawon. Kamu anak angkat Mamaku dan itu artinya kita bersaudara. Aku sayang sama kamu, sama seperti aku menyayangi Kak Farah."
Pelan Mediana menyentuh lenganku.
"Maaf, Bono. Apakah kau jadi seperti ini karena Sarah?"
“Seperti apa, apakah aku terlihat aneh sekarang?"
"Aku tidak jadi pemurung, Mediana. Di kelas aku suka menggoda Sri," aku berkilah.
"Aku melihat raut wajahmu mengatakan lain," tukas Mediana.
Intuisi perempuan memang kuat sekali. Seberapa hebat pun aku berusaha menutupi kusut masainya hati, dengan mudah Mediana membacanya dari raut wajahku. Seperti membaca lembaran buku yang terbuka. Huh! Cinta Sarah memang betul-betul telah membunuhku.
Sekarang aku lebih suka hidup di dunia maya, menjalani pertemanan di facebook. Hanya sebatas berbalas kata. Semuanya semu dan maya, tapi aku merasa betah di sana. Aku bisa mengkondisikan diriku menjadi apa dan siapa. Mungkin dunia maya telah membelah kepribadianku menjadi dua.
Tak ada yang peduli dan tak ada yang mau tahu. Pergaulan di dunia maya itu antara ada dan tiada. Meskipun orang-orang terdekatku ada juga di situ. Mama, Kak Farah, Bawon, Mediana dan Sarah, tapi mereka bukanlah penggila dunia maya. Cuma aku sendiri yang melarikan diri dan bersembunyi di facebook. Sebuah dunia tanpa batas.
"Sore ini aku dan Bawon mau ke toko buku. Kau ikut, ya?" suara Mediana terdengar lagi.
__ADS_1
Batu es mencair. Kusapu titik air yang mengembun di badan gelas. Titik-titik air itu luruh dan menghilang. Seperti kehidupan yang setiap detik berganti, bisa saja hilang dan sirna dalam sekejap kemudian terlupakan.
"Lain kali saja," sahutku pelan.
"Sudah sering aku mendengar kata lain kali," Mediana menatapku.
Mediana betul. Untuk menolak setiap ajakan mereka pergi atau kumpul bersama, selalu saja dengan alasan yang sama aku menolaknya. Lebih tepat seperti tanpa alasan, dan hanya mengatakan lain kali. Lain kali yang aku nggak pernah tahu kapan bisa terjadi. Sebenarnya, aku punya alasan atas penolakanku itu, tapi tak mungkin kuucapkan. Buat apa?
"Jangan kaupikir kebersamaanku dengan Bawon bisa merampas persahabatan kita, persaudaraan kita. Kalau malam minggu kau mau datang ke rumah, aku dan Bawon tidak keberatan. Kita bisa kumpul dan cerita-cerita. Tak ada masalah kukira," Mediana menatapku dalam-dalam.
"Ya, nanti, kapan-kapan aku datang," sahutku tanpa melihat Mediana.
"Kapan-kapan itu, kapan? Aku tau kau selalu menghindar dari kami," ujar Mediana menuduh.
Kali ini aku mengangkat wajah dan menatap mata Mediana.
"Aku belum tahu kapan."
“Terserahlah," Mediana kehabisan akal.
"Hidup itu kan pilihan," gumamku pelan.
Mediana menantang mataku.
"Makanya berpikir dulu, sebelum mengambil keputusan. Mau pilih bahagia atau menderita?"
"Semua orang pasti memilih bahagia," sahutku pelan.
"Kembalilah pada Sarah," Mediana menatap mataku.
“Bagaimana caranya untuk kembali?” tanyaku bodoh.
__ADS_1
"Kau laki-laki, Bono. Kau tentu tahu caranya," sahut Mediana tanpa memandangku.
Aku tak bersuara lagi. Bel tanda masuk berbunyi. Mediana bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. Kubiarkan Mediana menjauh, hingga dia menghilang di balik kantin, baru aku beranjak meninggalkan bangku kayu panjang di bawah pohon mangga. Hatiku masih saja terasa kosong dan hampa. Bagaimana caranya supaya Sarah kembali padaku? *