MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
ISTRI SIMPANAN


__ADS_3

Aku tercenung. Kenia memang bukan perempuan biasa, dia mampu menyimpan rahasianya dengan begitu rapi. Selama ini aku hanya mengira kalau dia anak Bandung yang kuliah di Medan. Sedikit pun aku tidak menyangka kalau Kenia sudah menikah apalagi jadi istri simpanan pengusaha dari negara jiran. Tidak tahu apakah aku harus bersedih dan kecewa atau marah mengetahui kenyataan ini. Tapi apa alasannya aku marah pada Kenia? Apakah aku sudah jatuh hati pada perempuan berwajah indo itu? Rasa suka itu memang racun bagi hatiku yang limbung.


"Aku seperti gila dibuatnya!" dengus Soriano.


Aku menatap Soriano. Aneh, kok dia yang jadi gila?


Kau tahu, aku jatuh hati pada Kenia, bahkan aku bersedia berhenti mabuk-mabukan seandainya dia mau jadi istriku. Aku mau melakukan apa saja, asal dia mau hidup bersamaku, Soriano memukul-mukul meja bar. Dia menangis.


Cinta memang luar biasa dan jatuh hati itu bisa lebih luar biasa pengaruhnya. Aku bahkan setuju kalau seorang panglima perang bisa takluk di pelukan wanita. Apalagi cuma seorang pemabuk seperti Soriano? Mati kutu, deh!


"Kalau kau enak, pernah tidur bersamanya," gumam Soriano parau.


"Iya, dia tidur di kamar sebelah, aku tidur di kamar satunya lagi," selaku cepat. Enak saja dia menuduhku yang tidak-tidak.


“Whatever, kau lebih beruntung dibanding aku," Soriano melangkah sempoyongan.


"Sudah malam, tidurlah. Hasta manana”


Gila, dia pakai bahasa Spanyol. Aku geleng-geleng kepala, ini pengaruh minuman barangkali. Apa Chivas Regall itu buatan Spanyol, ya? Aku terus memandangi Soriano yang sempoyongan. Dia memang betul-betul tidur, tapi tidak di kamarnya. Soriano cuma sampai di depan pintu, lelaki gemuk itu menggelosor dan mendengkur seperti sapi kena sembelih. Tiba-tiba perutku terasa lapar berat. Oh ya, aku memang belum makan. Tadi rencananya Kenia mau mengajak makan setelah selesai mandi, tapi makan malamnya nggak jadi. Aku malah disuruh pergi tanpa alasan.


Perlahan aku bangkit dan berjalan menuju dapur. Membuka kulkas, mencari-mencari makanan yang bisa kujadikan pengganjal perut malam ini. Bukankah tidur dengan perut kosong bisa mendatangkan mimpi buruk?


Braaak!!! Aku menjatuhkan sebuah tupperware berisi makanan beku. Kampret! Kalau ketauan Soriano, malu juga. Hh! Aku tidak jadi mengambil apa pun dari kulkas. Biarlah tidur dengan perut lapar malam ini. Mau mimpi buruk, mimpilah.

__ADS_1


Tiba-tiba aku mendengar Soriano bersuara, tapi tidak jelas apa yang diucapkannya, semoga saja dia cuma mimpi. Mimpi buruk bukan karena kelaparan, tapi disebabkan rasa cemburunya pada suami Kenia.


Tiba-tiba dia berteriak dengan keras.


"Pergi, kau! Pergi ..."


Aku kalang-kabut. Apakah dia mengusirku?


"Setan! Jangan ambil, jangaaan!" teriak lelaki gemuk itu lagi.


Indigo juga rupanys Soriano. Kok, sepertinya dia tau kelakuanku di dapur dan melarangku mengambil makanan? Huh, cuma gara-gara makanan beku begini saja aku diteriaki setan. Bergegas aku menuju ruang tengah dan mendekat ke arah Soriano yang menggelosor di depan pintu kamarnya.


"Aku nggak jadi ambil makanan, Bang!" balasku berteriak kesal.


***


Pagi hari Soriano masuk ke kamar dan membangunkanku. Dia sudah rapi memakai kemeja dan dasi, tidak kucel seperti pemabuk kayak malam tadi. Aku hanya cuci muka dan langsung keluar kamar dengan membawa ransel. Di ruang tengah aku bertemu Soriano.


"Aku tidak biasa sarapan di rumah, ini duit kalau kau mau sarapan di luar".


Aku menggeleng dan menolak pemberian Soriano. Meski perutku masih terasa keroncongan karena tidak makan tadi malam. Bahkan pagi ini aku juga ragu apakah perut yang sejengkal ini bisa terisi makanan atau tidak. Aku tak peduli lagi, mungkin beberapa langkah lagi aku akan menjadi gelandangan.


"Kau bawa ransel, mau ke mana?" tanya Soriano heran.

__ADS_1


"Pulang," jawabku sekenanya.


"Kata Kenia kau minggat dari rumah?" tatapan mata Soriano terlihat seperti menyelidik.


Buset! Biar pun dia pemabuk tapi daya ingatnya kuat juga. Aku diam saja dan tak menjawab pertanyaan lelaki gemuk itu. Soriano masih memandangku dengan perasaan curiga. Ah, paling juga dia menduga kalau aku adalah selingkuhan Kenia atau apalah. Terserah saja. Aku bergegas keluar.


"Terima kasih tumpangannya, Bang", ujarku sambil membuka pintu.


"Kau tidak mau berjumpa Kenia lagi?" kejar Soriano.


Aku menggeleng.


"Untuk apa?" tanyaku heran.


"Kalu begitu biar aku saja yang menggantikan tempatmu," Soriano tertawa.


"Ambil saja," ujarku santai.


"Kau serius?" teriak Soriano senang.


"Dua rius, Bang. Ambil aja!" jawabku kesal. Begok kok, dipelihara.


Aku berjalan menyusuri koridor apartemen menuju pintu lift. Masih terdengar suara Soriano mengucapkan ribuan terima kasih atas kesediaanku memberikan tempat untuknya. Dasar Soriano geblek! Memangnya aku punya tempat di hati Kenia? Atau kalau pun aku punya tempat, apa semudah itu bisa diberikan pada Soriano? Hh! Perempuan memang bisa bikin lelaki jadi gila. Semoga saja aku tidak, biarlah Soriano saja yang menjadi gila.

__ADS_1


Di luar apartemen pagi masih sepi, kendaraan belum terlalu banyak di jalan. Udaranya meski tidak bisa dikatakan bersih, tapi masih lumayan segar ketimbang siang nanti, karena asap knalpot kendaraan mobil dan motor akan memenuhi jalanan. Aku berdiri di trotoar. Melihat kiri-kanan, tak tahu arah tujuan. Mau kemana sekarang?


__ADS_2