MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
PULANG


__ADS_3

Di mobil aku baru sadar dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa mama dan Mediana bisa menemukanku? Apakah mama pakai jasa paranormal? Setauku, mama paling tidak percaya dengan hal-hal klenik semacam itu. Dulu mama pernah bilang, kalau paranormal itu memang benar-benar hebat, apakah dia tahu kapan akan mati? Betul juga pikirku. Kalau paranormal itu tahu kapan matinya, dia bakal berhenti bakar menyan.


"Mama tau dari mana kalau Bono ada di sini?" tanyaku penasaran.


"Mediana yang kasih tau," sahut mama sambil tersenyum.


Lho?! Aku menoleh ke jok belakang, memandangi Mediana dengan perasaan takut. Jangan-jangan ... jangan-jangan ... Mediana paranormal, punya ilmu sihir? Saudara angkatku itu cuma senyum-senyum saja. Aku makin tambah takut. Kalau disihir jadi kodok apa nggak mampus? Masuk ke restoran Chinese aku bisa jadi kodok rawit!


"Kemarin ketika kita bertemu di Plaza Medan Fair, aku dan Bawon sengaja mengikutimu sampai ke masjid itu. Hampir-hampir kami kehilangan jejak, tapi bukan Bawon namanya kalau tidak bisa menemukanmu," ujar Mediana menerangkan panjang lebar.


Heleh, dipuji-puji deh si Bawon. Untung juga mereka punya ide untuk membuntutiku, kalau tidak bagaimana caranya aku pulang ke rumah tanpa rasa malu? Kalau dijemput sama mama lain soalnya. Bukan aku yang mau pulang ke rumah, tapi mama yang nyuruh.


"Berterima-kasihlah pada Bawon dan Mediana, kalau bukan mereka yang memberi tau di mana keberadaanmu, mungkin Mama tidak akan pernah menemukanmu dan Mama yakin kamu akan jadi gelandangan," ujar mama sambil terus konsentrasi menyetir.


Iya, bagaimana nggak jadi gelandangan. Aku tidak punya tempat tinggal, nggak ada pekerjaan, mau makan saja harus jual celana dulu. Kalau celanaku habis, terus mau nutupin hardware-ku pakai apa? Pakai karung beras atau kardus, itu sama saja dengan gelandangan, kan?


"Selama lari dari rumah kamu makan apa, Bono? Mama menemukan kartu ATM ada di meja kamar," ujar mama tiba-tiba.


Aku tidak berani mengatakan pada mama kalau pernah menumpang tidur di apartemen Kenia dan menumpang tidur di apartemen Soriano si Lelaki Pemabuk.


"Kenapa diam?" mama menoleh padaku.


Aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaan mama.


"Bono buka usaha, Ma."


Mama menoleh lagi, seolah tak percaya. Dia bolak-balik menoleh antara aku dan jalan raya di depannya. Mama tidak ingin konsentrasinya menyetir jadi terganggu, tapi kata-kataku barusan pasti membuatnya terkejut hebat. Bono buka usaha? Mewarisi bakat papanya kalau begitu? Mungkin kira-kira seperti itulah suara hati mama.

__ADS_1


“Buka usaha?" tanya mama penasaran.


"Usaha jual beli,” sahutku enteng saja.


"Dapat modal dari mana?" kejar mama.


"Bono bawa dari rumah."


Mama kaget dan menoleh. Alis matanya hampir bertaut.


"Bawa modal dari rumah?"


"Iya, bawa dari rumah," sahutku menahan geli.


Wajah mama terlihat penasaran.


"Jual celana, beli nasi," jawabku enteng.


Mama tertawa mendengar ucapanku.


"Itu bukan usaha namanya, tapi kere!" sembur mama kesal.


Mediana juga tertawa. Aku menoleh, melihat Mediana yang duduk di jok belakang.


"Bawon mana, kok nggak ikut?"


"Kenapa nanyain Bawon, bukan nanya Sarah, adiknya, Bawon?" sindir mama.

__ADS_1


Aku merengut. Sengaja dibuat-buat geram.


"Sarah itu sudah jadi masa lalu, Ma."


Mama tertawa seoalah tak percaya pada pengakuanku.


"Oh, ya?"


“Ya, iyalah. Masak ya, iya dong?”


"Nggak niat lari dari rumah lagi?" kejar mama.


"Tergantung, Ma".


"Tergantung apa?" mama penasaran.


“Sarah mau balik dengan Bono apa tidak," sahutku asal-asalan.


Mama melotot.


“Jadi, kamu berniat melarikan diri lagi?!"


Aku tertawa senang bisa ngerjai mama sampai matanya melotot dan mulutnya mangap seperti akting pemain sinetron.


"Nggaklah, Ma. Minggat dari rumah, apa mau jadi gelandangan?"


Aku mendengar Mediana juga ikut tertawa di jok belakang. Mama menepuk bahuku. Aku tersenyum lepas. Hilang sudah beban berat dalam hidupku. Sekarang tak ada lagi yang perlu ditangisi. Sarah adalah masa lalu, biarkan dia tetap berada dalam kenangan. Biarlah waktu yang akan mengobati luka. Tiba-tiba wajah Kenia melintas di pelupuk mata. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang. Perempuan itu memang perkasa karena mampu memporak-porandakan hati seorang lelaki, tapi aku tak akan pernah takut untuk patah hati. Aku hanya takut kalau kalian mematahkan kakiku. Itu saja! Karena aku enggak mau dipasangi kaki kuda sebagai penggantinya. Nehi!

__ADS_1


Oh, ya. Kalian tau siapa nama asli Sarah? namanya adalah Serenity, tapi waktu kecil dia sering sakit-sakitan. Makanya nama Serenity diganti jadi Sarah. Ha-ha-ha ....*


__ADS_2