MELOMPAT LEBIH TINGGI

MELOMPAT LEBIH TINGGI
PESONA KENIA


__ADS_3

Ini pagi pertama aku terbangun dan berada di sebuah kamar yang masih asing bagiku. Salah satu kamar di apartemen Kenia. Aku melirik jam digital di nakas, di samping spring bed. Jam sepuluh lebih lima menit. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan merapikan bed cover kemudian bergegas ke kamar mandi. Air yang mengucur dari shower mengguyur tubuhku membuat badan terasa segar dan rasa mengantuk yang masih tersisa sirna dalam sekejap.


Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar kamar. Di ruang tengah Kenia sedang menonton televisi. Melihatku datang dia tersenyum.


"Ngantuk berat, ya?"


"Kenapa nggak membangunkan aku?"


"Memangnya kamu mau ke mana?"


"Nggak ke mana-mana, tapi ya, aku harus tahu dirilah. Sudah numpang kok kesiangan, malah tuan rumahnya yang bangun duluan," ujarku tak enak hati.


"Santai aja, Bono. Ayo, kubuatkan sarapan," Kenia beranjak menuju dapur.


Aku mengikutinya. Di dapur Kenia membuatkan dua cangkir cinnamon black coffee.


"Mau roti bakar atau sereal?"


"Roti saja enggak usah dibakar," sahutku.


Kenia memberikan secangkir cinnamon black coffee padaku.


"Mau pakai selai apa, stroberi, kacang atau mentega?" Kenia menoleh padaku.


"Apa saja, terserah," jawabku sambil mereguk sedikit kopi hitam beraroma kayu manis yang masih terasa panas.


Diam-diam aku memperhatikan kesibukan Kenia mengolesi roti dengan selai stroberi. Terbayang lagi wajah Kak Farah di benakku. Dia juga hidup sendirian di sana. Tentulah kakak perempuanku itu mengerjakan apa-apa sendiri.


"Kamu tidak takut hidup sendirian, Kenia?" tanyaku tiba-tiba.


Kenia menoleh padaku dan tersenyum.


"Takut apa?"


"Banyak orang jahat di dunia ini."


Kenia tertawa.

__ADS_1


"Kamu kenapa tidak takut lari dari rumah?" Kenia menyelesaikan pekerjaannya mengolesi roti dengan selai stroberi.


"Apa karena kamu pikir aku perempuan dan kamu laki-laki?" Kenia meletakkan piring berisi tiga tangkup roti di atas meja dapur.


"Kenapa aku diijinkan menumpang di tempatmu, padahal kita belum lama kenal. Bagaimana kalau aku orang jahat?" aku mengambil tempat duduk di depan Kenia.


Kenia menatap mataku dalam-dalam.


"Sejak pertama bertemu, aku tahu kamu anak baik. Aku percaya sama kamu, Bono. Pernahkan aku bilang kalau naluriku selalu betul?"


Kureguk lagi black coffee.


"Entahlah, aku tidak ingat lagi."


"Jadi apa yang masih kamu ingat di saat kita bertemu pertama kali, di gerai makan kawasan ringroad itu?" Kenia memperhatikan wajahku.


"Kamu meminjamkan korek gas untukku".


"Hanya itu, pembicaraan kita tidak ada yang kamu ingat?" kejar Kenia penasaran.


Kenia tertawa pelan. Dia senang karena masih ada kata-katanya yang kuingat.


"Ya, karena usia kita cuma terpaut tiga tahun."


"Kamu juga pernah bilang kita masih pantas kalau pacaran," sambungku.


Kali ini Kenia tertawa agak keras.


"Lupakan saja soal itu, aku cuma bercanda."


"Bagaimana kalau aku menganggapnya serius?"


”Nggak lucu, Bono. Sudahlah lupakan saja," Kenia bangkit dari duduknya.


"Oh ya, nanti siang aku mau ke kampus."


"Terus aku bagaimana?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Tinggal saja di sini. Kalau kamu mau keluar bawa kunci, nanti aku kasih duplikatnya."


Kenia beranjak pergi meninggalkan dapur.


***


Ini hari kedua aku berada di apartemen Kenia, tapi meskipun dengan waktu yang sesingkat itu, aku sudah sangat terpesona dengan sosok Kenia. Pribadi yang mandiri, baik hati, ramah dan hangat. Selama ini perempuan yang begitu kukagumi adalah mama, Kak Farah dan Mediana. Sekarang Kenia masuk di dalamnya. Pantaslah kalau laki-laki rela berkorban nyawa untuk perempuan seperti mereka. Tiba-tiba terbayang wajah mama. Jauh di ceruk hati, aku merindukannya. Rindu sekali ...


"Kenapa melamun?" Kenia datang dan mengambil tempat duduk di sebelahku.


Aku bergeser sedikit.


"Lagi nonton televisi," sahutku sambil menatap layar televisi plasma dengan perangkat home theater.


"Jangan bohong, tadi kulihat pandanganmu menerawang?" Kenia tersenyum.


Aku diam saja. Kenia seperti mama. Intuisinya tajam.


"Oh ya, daripada bengong, kita jalan, yuk?" Kenia menawarkan.


”Ke mana?"


"Sudah lama aku mau beli lukisan. Dinding ruangan ini perlu sentuhan seni. Di mana ya, galeri yang bagus di Medan ini?"


Aku jadi teringat Giring, temanku si anak punk. Dia kan ngakunya seorang pelukis? Bagus kalau begitu, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Sekalian ngasih dia job, pasti anak itu senang.


"Sama temanku saja, dia seorang pelukis."


”Oke, kita ke tempat teman kamu saja kalau begitu."


Kenia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar.


"Sebentar ya, aku ganti baju dulu."


Hampir 30 menit menunggu barulah Kenia muncul di ruang tengah. Perempuan memang sangat memperhatikan penampilan. Jangankan mau jalan jauh, ke warung saja mesti pakai dandan dulu. Minimal pakai bedak dan parfum.


"Ayo, kita jalan," ujar Kenia sambil melangkah.

__ADS_1


__ADS_2