
Di sebuah kota metropolitan ada gadis bernama Amira. Dia adalah seorang gadis pekerja di kota itu. Dia bekerja sebagai seorang pegawai restoran. Dia dijodohkan dengan seseorang yang derajatnya jauh lebih tinggi dari dia. Nama pria itu adalah Raffael. Seorang CEO perusahaan yg merupakan seorang keturunan bangsawan.
Dia diminta menikahi pria tersebut karena ayahnya dulu asisten pribadi tuan Mahendra (ayah Raffael). Karena keluarga amira adalah orang kelas menengah( menurut para tetangga), iya pun dipaksa ayahnya untuk menikahi keturunan bangsawan tersebut agar statusnya di masyarakat tidak dipandang rendah.
"Kamu harus nikah sama dia, Mir! Kamu mau kalau ayah terus diejek tetangga?" Ucap ayah Amira.
"Aku nggak mau Yah! Kenapa aku harus nikah sama orang yang aku aja nggak kenal?" Ucapnya menolak.
"Dia baik, Amira! Ayah jamin itu! Kamu cuman perlu nurut sama dia" tegas ayahnya. Akhirnya, Amira pun menuruti permintaan ayahnya. Ia menemui pria tersebut terlebih dahulu.
*****
Raffael adalah seorang CEO perusahaan besar yang bernama AMars. Dia pria yang sangat angkuh akan kekuasaannya. Tapi entah kenapa, di balik sifatnya yang seperti itu, dia banyak digemari Wanita bahkan Pria sekalipun. Orang-orang yang ada di depannya harus tunduk, jika mereka tau Tuan Raffael sedang lewat. Banyak orang yang ingin bertemu dengannya. Tetapi, ia sama sekali tidak peduli akan hal itu.
*****
Di pagi harinya amira sudah sampai di depan kantor Raffael iya disambut oleh sekretarisnya yaitu Sekretaris Affandi.
"Selamat pagi nona! selamat datang di AMars Production, Mari saya antar!" Ucapnya.
Selamat pagi, kayaknya kamu udah tahu tujuan saya ya?" Tanyanya.
"Tentu saja nona, tuan Mahendra sudah memberi tahu saya kalau anda akan datang!!" Jawabnya dengan bahasa formal.
'hmm, kayaknya mudah akrab!'
"Nama kamu siapa?" Tanya Amira.
"Perkenalkan,saya Sekretaris Affandi, selaku pendamping dan pengganti CEO perusahaan saat CEO tidak ada dan Asisten pribadi Tuan Raffael!" jawabnya panjang.
"Saya Amira. kamu pasti tahu kan?" ucapnya.
'ya pasti lah nona, saya udah nunggu setengah jam gara-gara nona! yakali nggak tahu!' Affandi menggerutu.
Merekapun menuju lift yag disediakan khusus untuk menuju ruangan CEO. Setelah ada di dalam lift, tidak disangka orang yang Amira pikir adalah orang yang mudah akrab ternyata tak seramai itu.
"Affandi apa ruangan Raffael ada di lantai paling atas!? Lama banget sampainya!!" Gumamnya.
"Kalau udah tahu kenapa nona malah tanya saya?" Jawabnya ketus.
'Ternyata kutub juga nih orang,' Kesalnya.
Sesampainya di lantai paling atas, mata Amira disambut dengan seorang Staff yg menunduk sopan kearah mereka, namun Affandi tidak menggubris sama sekali.
"Silahkan, nona!" Affandi membukakan pintu.
"Baiklah, terimakasih Sekretaris Affandi !!" Memasuki ruangan CEO.
'Aku nggak akan dicuekin juga kan kayak tadi?'
"Permisi, apa saya boleh masuk!?" Tanyanya.
"Masuk aja!!" Jawabnya ketus.
"Ada urusan apa samapi Lo mau temuin gue dulu !?" Tanyanya kesal.
"Saya ingin mengenal tuan!! Dan saya juga ingin tuan mengenalku agar kita nggak menyesal, " Jawab Amira.
"Cih, nggak perlu!" Jawabnya kasar.
'Apa? dasar cowok sombong! nggak tahu sopan santun!'
"Jangan ngatain saya." Tiba-tiba menyahut seolah tahu apa yang dipikirkan Amira.
"Apa? maaf, saya enggak merasa ngatain anda ya!"
'Kayaknya dia lihat muka gue yang lagi kesel deh!' Gumamnya kesal.
__ADS_1
"Denger ya! Gue nggak akan suka sama Lo! Gue udah punya pacar yang lebih segalanya dari Elo!" Ucapnya.
"Terus kenapa Lo malah terima, Goblok!!" Tanyanya heran dan kesal. Dia sudah tidak memiliki kesabaran lagi.
"Ya terserah Gue lah! Gue yang mutusin kenapa Elo yang sewot?" Tegasnya.
"Masalahnya ini juga menyangkut Gue, ngerti nggak sih Lo??" Ucapnya memperjelas pertanyaannya tadi.
"Jangan banyak omong, atau terima akibatnya!" Jawabnya penuh ancaman.
'Dih, Lo pikir Gue takut?' Gumam Amira kesal.
"Kenapa? Lo mau buat gue menderita? coba aja ,silahkan!" Matanya yang tajam, lekat menatap Raffael.
"Dih, PD banget Lo! Lo tuh udah beruntung dapetin Gue!" Makian itu seolah hanya batu kerikil yang membuat Amira malah semakin menjadi-jadi.
"Heh, nggak Sudi Gue dapet keberuntungan kayak gitu!" Remehnya.
'Sial! kenapa dia malah makin berani sih?' Raffael.
"Udah?" Tanyahya dingin.
"Ya, Orang rendah nggak bakalan mau bis sini kan?" Jawabnya.
"Keluar sana!" Hanya menjawab dengan suara dinginnya yang menakutkan.
Sementara itu, Affandi yang berada diluar dan mendengar semuanya pun berpikir
'Kalo kata tuan besar sih, nona Amira bukan orang biasa!' Affandi.
"Okey, Permisi!" Lalu Amirapun pergi dengan membawa perasaan bangga karena bisa membuat CEO terkemuka itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Nona, udah selesai?" Tanyanya pada Amira.
"Jangan banyak tanya, atau terima akibatnya!" Jawabnya menirukan gaya Raffael.
Affandi yang mendengar itupun tidak berkutik, pasalnya tidak ada yang pernah menggunakan kata-kata Raffael untuk mengejeknya.
"Oh, baiklah! apa perlu saya antar?" Tanyanya sekali lagi.
"Nggak usah, mata Gue nggak buta! masih bisa lihat jalan kok Gue!" jawabnya sambil berjalan kearah lift.
"Baik! semoga hari anda menyenangkan!" Ucapnya sopan.
'Tadi dingin, habis dari ruangan itu banyak nanya, dia punya kepribadian ganda apa gimana?'
Setelah itu, Sekretaris Affandi pun masuk ke dalam ruangan Raffael. Dia hendak memberitahu identitas Amira namun dihentikan oleh Raffael.
"Udah! Gimana sama Alenta?" Tanyanya.
"Alenta kasih pesan tuan!" Memberikan HP Raffael ke tangannya. Isi pesannya itu.
"Sayang, Maaf ya, aku ada janji sama temen-temen!" Lalu pesan itu dibalas.
"Kenapa nggak kesini dulu sih?" Melihat pesan yang dikirimkan Alenta membuat Raffael semakin marah setelah kejadian tadi.
*****
Sementara itu, di kediaman Mahendra. Tuan Mahendra sedang bicara dengan Tuan Wirawan, yang tak lain adalah ayah Amira.
"Tuan besar mau tentuin Tanggal nikahnya?" Tanya Tuan Wirawan.
"Secepatnya, Wan! Aku udah nggak bisa ngatur Raffael lagi!" Ujar Mahendra.
"Ya, semoga aja Amira bisa merubah sikapnya!" Sambungnya.
"Pasti, Wan! Anak kamu pasti bisa ngendaliin Raffael! dia nggak mudah tunduk sama orang sembarangan!" Ujarnya.
__ADS_1
"Terus, keturunan Bangsawan itu gimana?" Tanya Mahendra.
"Garis keturunan itu benar, Ndra! Dia keturunan ke seratusnya! dan kakek buyut punya permintaan buat nikahin dia sama sesama bangsawan!" Jelasnya.
"Orang-orang udah tau?" Tanya Mahendra.
"Belum, Ndra! Amira pasti juga bingung sama ini!" Ucapnya.
"Hmm, udahlah! tentuin tanggalnya aja!" Ucapnya.
*****
Sedangkan, di taman rumah, disana ada kedua adik perempuan Raffael yaitu Sania dan Bianca.
"Menurut kamu calon kakak ipar gimana? apa sekelas kak Alenta ya?" Tanya Sania pada adiknya.
"Kayaknya enggak deh kak! lihat aja pak Wirawan! dia aja asisten pribadinya Ayah!" Jawabnya.
"Bener juga kamu Bi! Terus kenapa kak Raffael dijodohin sama dia?" Tanya Sania heran.
"Mungkin dia beda dari kak Alenta kali, kan tahu sendiri ayah gimana! maunya yang 'sederhana' " Jawab Bianca.
"Aku yakin kak Alenta paling cocok sama kakak! Nggak kayak anaknya pak Wirawan!" Remehnya Sania.
"Hhh mm, Gimana kalo nanti kita kerjain dia?" Ujar Bianca dengan muka licik yang terpasang.
"Apa kita tanya Ayah aja ya soal dia?" Tanya Sania.
"Ya, kita mungkin tahu kelemahannya!" Ucapnya. Lalu, Meraka pun, pergi menemui Ayah mereka.
Di ruang tamu, Ruan Wirawan ternyata masih berada di sana. mereka sudah menentukan tanggal pernikahan yang tepat.
"Jadi, Minggu depan nih?" tanya wirawan.
"Ya, habis ini kasih tahu mereka!" Jawab Mahendra.
Lalu, terdengar suara gadis dari arah pintu.
"Ayah??" Sania dan Bianca bicara secara bersamaan.
"Kenapa Sayang?" tanya Mahendra pada kedua anaknya.
"Ayah! kita mau tanya soal kakak ipar!" tanya Sania pada Ayahnya.
"Okey! sini duduk!" meminta mereka duduk.
"Okey, ayah kasih tahu ya!" ucapnya sembari tersenyum kepada kedua gadis tersebut.
Mahendra menceritakan apa yang ia tahu tetang gadis itu kepata kedua Putrinya. Tapi nampaknya, ia hanya menceritakan tentang kelebihan gadis tersebut. Hal tersebut malah membuat Sania dan Bianca kesal.
"Hehh, Ayah apa dia punya hal,, yang ditakutin gitu?" Akhirnya Sania menanyakan apa yang ingin ia tanyakan.
"Ehehe, sebenernya susah sih cari tau nya! Ayah aja nggak tahu!" Jawab Mahendra.
"Iya! Aku rasa dia jarang ketakutan!" Sahut Wirawan.
'apa? ayah nggak tahu? hmm, kayak apa sih orangnya???' Sania dan Bianca menggerang kesal memikirkannya.
*****
Amira sudah pulang ke rumah dan beranjak ke tempat tidurnya. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Ia ingin sekali membuatnya sangat kesal dan tidan melanjutkan perjodohan ini.
"Hih! kenapa Gue sih yang dijodohin sama dia?" tanya nya sembari membaringkan diri di kasur.
"Huh, andai aja dia sedikit lebih baik! mungkin gue nggak akan sekesel ini kali ya" Ujarnya.
'Ayah bilang gue harus bersikap baik biar dia nggak nyakitin gue! apa bener ya?' batinnya.
__ADS_1
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari mengenai tuan Raffael di media sosial. Saat ia melihat, entah kenapa dia terkesima dengan wajah tampan yang dimiliki Tuan Raffael.
Namun, saat tersadar, dia menepuk-nepuk wajahnya dengan keras. "Sadar Mir! Sadar!"