
Sore hari tiba! para penghuni rumah sudah selesai dengan urusannya, dan pulang ke rumah istana mereka.
Ruang keluarga.
itulah tempat Amira berada saat ini! ia sedang menonton drama kesukaannya ditemani Laila disana.
"Laila!? bukankah kamu bilang mereka sudah pulang!?". tanya Amira.
"Sudah nona!!". jawab Laila yang berdiri di dekat Amira.
"lalu kenapa rumah ini terlihat sama saja?! seperti kuburan!!". tanyanya sambil fokus lada layar tv.
"biasanya mereka menyelesaikan pekerjaan mereka di kamar masing-masing nona! jadi selama sore di hari minggu, yang terlihat hanya para pelayan!!". jelas Laila.
"itu kerutinan mereka atau bagaimana!?". tanya Amira lahi-lagi.
"eungh tidak nona! tidak semestinya begitu!!". jawab Laila.
*hueh!! kenapa sih disini sangat membosankan!! aku sendirian di rumah yang sangat besar, dan tidak ada yang menarik disini!!". gerutu Amira dalm hati.
----------------
Di kamar Sania
Ia terlihat seperti sedang mencari sesuatu yang hilang dari benaknya. apakah itu?? kenapa dia sangat fokus mencarinya!?.
"haish!! dimana aku meletakkan ponselku!!". gerutunya sambil membolak-balikkan semua barang di kamarnya.
"apa aku minta Bianca untuk menghubunginya saja ya??". tanyanya.
"heuh baikalah! itu keputusan terbaik!!". sambungnya sambil menuju kamar Bianca.
sesampainya disana,
"Bianca!! Bi!! Bianca~~??". teriaknya didepan pintu yang masih tertutup.
"kenapa tidak ada jawaban?? aku masuk saja kali ya?!". tanyanya pada diri sendiri.
"ceklek. Bi~!? bisakah kamu membantuku??".
ujarnya.
keheningan terjadi beberapa saat. ia melihat sekeliling ruangan, dan tidak menemukan keberadaan adiknya.
"Bi!? kamu dimana!? aku perlu bantuanmu!!". teriaknya.
*haish! apa yang sedang terjadi ini?? dimana Bianca?? apa dia belum pulang?? bukankah Ayah dan kak Raffa tidak memperbolehkan kita pulang malam??". tanyanya beruntun kepada diri sendiri.
"ahh!! mungkin saja dia di kamar mandi kan!? baiklah! ayo masuk!". ucapnya sembari melangkah memasuki kamar mandi.
"hhah?? kemana perginya anak ini?? dia benar-benar belum pulang??". ujarnya dengan wajah khawatir.
----------------
Ruang kerja.
Ayah dan Raffael sedang mengurus beberapa berkas, didampingi oleh sekretaris Affandi.
"Raffael!! kamu belum menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan ini!!". ujar Ayah.
"Ayah!! kenapa ayah selalu memintaku menandatanganinya!!! Kan Ayah juga bisa menggantikanku!!". Gerutunya pada Ayah.
"hhehe!! tapi kan, kamu sudah ada disini! jadi, sepertinya ayah tidak perlu tanda tangan'!". Ucap Ayah.
tok tok toktoktoktotktok.
suara pintu diketuk berulangkali.
"saya permisi dulu tuan!!". Izin Affandi.
"hmm cepatlah!!". pinta Ayah.
Affandi menuju pintu ruagan, dan segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Terlihat Sania yang panik dan terengah-engah.
"hhah~hahh. sek-eh. sekretaris eghh Affandi, apa kakak masih didalam!?". tanya Sania dengan nafas terengah-engah.
"iya, kenapa?? apa ada masalah nona??". tanya Affandi tetap sopan namun.......dingin.
"aku mohon izinkan aku masuk Affandi!!". pintanya dengan wajah melas.
"sebentar nona!!". Affandi lalu masuk dan menghampiri kedua tuannya.
"tuan!! nona Sania ingin bicara dengan anda!! bolehkah dia masuk kedalam!?". tanya Affandi dengan sopan.
"bawa dia masuk!". ucap Raffael tanpa ragu.
----------------
Drama kesukaan Amira telah selesai. kini ia mulai memainkan laptop yang ia bawa. ia terlihat mendesain beberapa model baju yang terlihat sangat berkelas.
__ADS_1
"waah! desain baju nona sangat bagus!°∆°!!". ujar Laila memuji Amira.
"hhehehe kamu ini bisa saja La!!". Amira.
"aku sungguh-sungguh nona!! jika tuan nelihat ini, kamu bisa menjadi pengganti nona Alenta nanti!!wkwkw!". jelas Laila.
"hmm memangnya, Alenta kekasih Raffael itu, seorang designer?". tanya Amira.
"iya nona!! tapi, dia sering melanggar peraturan perusahaan. jadi banyak karyawan yabg tidak menyukainya!!". ucap Laila panjang lebar.
"bagaimana kamu tau?? bukankah kamu hanya mengurus masalah di cabang berusahaan??". tanya Amira.
":') aku sering ditugaskan tuan muda untuk menjaga ketertiban kantor nona! jadi aku tau!!". ucap Laila.
"heuh orang itu tau juga soal ketertiban!?". remehnya.
Mendengar hal itu, Laila hanya bisa menggelengkan kepala, dan tersenyum pada Amira.
"kamu tidak tau ya nona??". tanya Laila pada Amira.
"tidak tau soal apa!?". tanya Amira yang tidak mengerti maksudnya.
"nona tau? tuan muda itu, orang yang sangat baik hati,ceria, dan dermawan. namun, itu dulu!!".
Setelah mengatakan itu, Laila terlihat sedih dan murung.
----------------
"baiklah tuan muda!!".
Affandi kembali menghadap Sania.
"Mari nona!!". ujarnya pada Sania.
Sania segera berlari kearah Ayah dan kakaknya itu.
"kakak! Ayah!! apa kalian melihat Bianca!?". tanyanya pada dua laki-laki itu.
"tidak!! memangnya dia dimana!?". tanya Raffael pada Sania.
"aku belum melihatnya sore ini kak!! aku sudah ke kamarnya! tapi dia tidak ada!!". jawabnya beruntun.
Affandi tidak berani memasuki ruangan itu lagi. dia berada di luar ruangan dan melihat map kuning berisi kontak kerjasama dengan beberapa Brand Ambassador produknya.
"tenanglah!! nanti Ayah akan menanyakannya pada pak Amdan! jadi kamu tidak perlu cemas ya!!". ucap Ayah seraya menenangkan Sania.
Affandi bergegas masuk dan menghadap Raffael.
"ada apa tuan muda!?". tanya Affandi.
"panggilkan pak Amdan kemari!!". latahnya tegas.
"Baik tuan muda!!". Affandi segera keluar dan menghubungi pak Amdan intuk segera ke ruang kerja Raffael.
pak Amdan tiba
ia langsung saja diminta masuk oleh Affandi. dengan perasaan campur aduk, takut,dan penasaran,ia memasuki ruangan itu.
"masuklah pak!!". Ayah.
"baik tuan!!". Pak Amdan segera menghadap.
"ada apa tuan memanggil saya!?". tanyanya.
"kamu tau kemana Bianca pergi!?". tanya Raffael.
"nona Bianca bilang, akan pergi ke pusat perbelanjaan kota bersama temannya tuan!!". jawab Pak Amdan.
"pusat perbelanjaan kota!? jam segini belum pulang!?". tanya Ayah pada Pak Amdan.
"e-ehh iya tuan!!". Pak Amdan.
"haish! ini sudah masuk waktu surut!!". Raffael.
----------------
"Memangnya apa yang terjadi La!?". tanya Amira.
"heuh!! satu tahun lalu, nyonya meninggal nona!! jadi, tuan Raffael mengalami depresi, dan jarang ada orang yang memperhatikannya!!". jawabnya.
Mendengar itu, Amira mulai merasa prihatin pada Raffael.
"eung tapi, bukankah ada Alenta yang mendampinginya!?". tanya Amira.
Laila terlihat seperti marah dan kecewa setelah mendengarkan oertabyaan Amira.
"dia lebih memilih untuk melanjutkan mimpinya ketimbang menenangkan tuan muda rerlebih dahulu!!". jawabnya.
"APA!? DAN RAFFAEL MASIH MAU BERSAMANYA!?". teriak Amira.
__ADS_1
"iya, memangnya kenapa!? kamu iri dengannya ??". tanya Raffael yang muncul entah darimana.
"HHAH!!". Amira.
"Kenapa kamu mengejutkanku!!". gerutunya pada Raffael.
"salahmu sendiri terlalu fokus!:`)!". Raffael.
"heuh sudahlah!! ada apa!? kenapa kamu datang kemari!?". tanya Amira.
"apa kamu melihat Bianca??". tanya Raffael.
"kenapa kamu bertanya padaku!? Bianca kan adikmu!!". ujar Amira.
"JAWAB SAJA!! kamu MELIHATNYA ATAU
TIDAK! AKU TIDAK BISA MENEMUKANNYA!! BAGAIMANA KALAU DIA HILANG HAA!?". Teriaknya pada Amira dengan mata melotot.
*dia menyeramkan saat marah*. Batin Amira dengan wajah tetap menghadap Raffael.
"tidak! aku tidak melihatnya!!". ujar Amira sembari menelan Saliva.
*hhah? nona Bianca hilang!?* Laila.
*Bianca!! dimana kamu!! kakakmu menangis dikamar karenmu!!*. Raffael.
*Bianca hilang!? apa aku perlu membantunya?*.Amira.
"Kamu cemas?." Tanya Amira.
"Udah tahu nanya lagi!".
"Maaf!" Raffael Tampak semakin sedih.
"ehmm boleh nggak, aku peluk kamu?" tanyanya sedikit ragu.
Raffael langsung saja memeluknya dengan erat. dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Amira.
"Tenanglah! kamu percaya aja kalo Bianca bakal ketemu! karena keyakinan bisa merubah segalanya!" motivasi dari Amira.
"Aku takut ini ada hubungannya sama rival Bisnisku! sekarang, dia udah berani teror keluargaku! aku takut, Mir!!" Ucapnya merinding.
"iya! aku tahu! tapi kamu nggak bisa berhenti disini!" Raffael menatapnya.
"aku nggak akan bilang kamu harus kuat kayak orang-orang! tapi aku paksa kamu buat terus cari dia walaupun harus nangis di stadion penuh sekalipun!" Kata Amira membuat Raffael terdiam.
"nggak ada waktu buat diem aja! dunia ini paksa kamu melangkah walaupun kamu cacat sekalipun!"
Raffael tersenyum. ternyata begitu dunia ini. dunia ini tidak akan mendukungmu ataupun membelamu. mereka hanya akan memaksamu dan menyiksamu. jadi, kalau bukan kamu yang mulai melangkah, siapa yang akan menyelamatkanmu!.
"Makasih ya,,,," Raffael menghentikan ucapannya.
"Sayang!!." Akhirnya kata-kata itu keluar. kata-kata yang sudah ditelannya sedari tadi.
Raffael maju dan mencium bibir Amira dengan nikmat. Namun, setelah beberapa menit, Amira mulai kehabisan napasnya.
"mmmpp!! mmmmppp! Akhhh!" Akhirnya ikatan itupun terlepas.
"Maaf!" Raffael tersenyum.
"Ah, kalo aku suka sama kamu gimana?" Tanya Raffael tiba-tiba.
Alisnya Amira naik sebelah. "Bukannya dulu kamu bilang nggak akan suka?" Katanya mengingat hari pertama bertemu Raffael.
"Ya, namanya orang kan bisa berubah pikiran!" Kata Raffael dengan entengnya.
"Boleh aja! tapi aku nggak yakin kamu beneran punya perasaan itu!" Kata Amira..
Laptop menyala. beberapa komentar dari instagramnya bermunculan setelah meng-upload sketsanya.
Raffael yang melihatnya pun penasaran. "Apa nih?"
"itu, emm!" dia ragu-ragu.
Raffael membukanya. design cantik dengan kesal casual. bahkan menurutnya Alenta kalah jauh dengannya.
"Cantik banget!"
"hah?" Amira terkejut mendengar pujian itu.
"Bisa jadi Product designing perusahaan dong kalo gini?" Katanya tanpa memikirkan Alenta.
"bukannya udah ada Alenta!" Amira melemah.
"Alenta? yang punya perusahaan siapa sih?." katanya kesal.
"iya-iya! Pak Presdir NGESELIN!"
mereka malah kembali bertengkar seperti biasanya.
__ADS_1