Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Melukis


__ADS_3

terik matahari siang semakin terasa menyengat kulit. Panasnya sinar matahari yang tembus di kulit ini tak membuat penghuni rumah keluarga Airlangga kepanasan sedikitpun. pasalnya, walaupun rumahnya sangat sederhana, di rumah ini telah di fasilitasi AC di setiap sudut rumahnya. tak ada kata kepanasan lagi di rumah ini.


namun, dari beberapa orang yang tengah asyik melakukan kegiatannya masing-masing ini, ada satu manusia yang merasa sangat kepanasan karena tersulut api emosinya. Amira. ya, Amira. ia masih tak dilepaskan oleh Raffael. kali ini, Raffael terus saja mengikutinya setelah Amira dapat terbebas sejenak dari dirinya.


"dasar tukang ngekor! kenapa kamu selalu mengikutiku? aku sudah lelah meladenimu!." ucap Amira dengan kesalnya membuat Raffael semakin gemas melihatnya. pasalnya walaupun sedang marah, suaranya tataplah kecil nan lembut.


"kenapa? aku suamimu! jadi, wajar saja aku mengikutimu! bagaimana jika nanti ada pria yang menemuimu dan kamu diapa-apakan olehnya?." Raffael menjelaskannya sambil menyeringai senang menahan hasratnya untuk tidak menyentuh pipi lembut Amira.


"terserah saja!." Amira bicara dengan ketusnya meninggalkan Raffael yang sedari tadi mengikutinya sampai di belakang rumah. disana terdapat taman yang dihiasi tanaman cantik sehingga membuat tenang suasana. namun, bukannya mendapat ketenangan, Amira malah semakin kesal karena Raffael itu.


Namun, bukan Raffael namanya kalau dia gampang menyerah dengan keinginannya. semua keinginan yang ada di dunia ini jika bisa akan dia dapatkan walaupun merenggut nyawanya sekalipun. ia kembali mengikuti langkah Amira yang menekuk wajahnya itu.


Ia mendengus kesal melihatnya, "Mira! kenapa kamu selalu saja ingin menjauhiku? apakah aku kurang tampan untuk seorang pria kaya raya?." tanyanya pada Amira yang masih berusaha melarikan diri itu.


"Hish! terserahlah! aku enggak peduli mau kamu tampan atau jelek, perutmu buncit atau enggak! aku tak peduli, dasar penguntit!." Ucapnya mempercepat langkah kai agar tak bisa diikuti oleh Raffael.


"ha? apa menguntit istri sendiri itu salah ya? bukankah tak ada undang-undang yang mengatur tentang ini?." ucapnya menanggapi perkataan Amira dengan polosnya.


"oh tuhan! selamatkan aku! aku tak ingin memiliki hubungan dengan pria semacam dia!." Selorohnya dalam hati.


kali ini, dia pergi ke tama yang berada di depan kamarnya. taman terbuka di dalam rumah itu adalah tempat favotit Amira untuk melukis. tentu saja, disana sudah ada alat lukis lengkap dihiasi dengan tanama hijau yang tersusun rapi di dekatnya.


Amira duduk di kursi kayu yang memiliki bentuk unik disana. namun, ponselnya berbunyi sangat keras sehingga dia tak jadi menyentuh alat lukisnya. dia segera mengangkat teleponnya melihat siapa yang menelpon.


dengan semangatnya, "halo?." sapanya dengan semangat.


"iya halo! apa kamu dirumah orang tuamu?." sapa gadis itu dilanjutkannya dengan pertannyaan.


"iya, ini aku dirumah! kenapa?." tanya Amira.


"baiklah sebentar lagi aku sampai kesana! jangan kemana-mana! aku kesana! aku sedang dalam perjalanan!." gadis itu segera menutup sambungan teleponnya secara sepihak membuat Amira yang baru saja membuka mulutnya harus menahan amarah lebih banyak lagi.


"huft sabar! dia temanku!." ucap ya sembari mengelus dadanya.


"heh! dasar Rina! sesukanya saja kalau bicara denganku!." Amira tersenyum dengan pernyataannya itu. Raffael yang melihatnya dari samping pun terlihat cemas dan ragu.


"Amira!." ucapnya dengan ragu.


"apa." Jawaban ketus tetapi tetap dengan suara lembut itu membuat Raffael lebih leluasa lagi untuk bertanya.


"eung? apa otakmu agak geser?." Raffael mengatakannya tanpa berpikir panjang. Namun, pertanyaannya itu tak bisa dimengerti oleh Amira.


"maksud mu?." tanya Amira dengan wajah mengeriyitnya meminta penjelasan.


"eung!! apa kamu penyuka sesama jenis?." tanya Raffael sembari menutup matanya rapat-rapat. karena ucapannya itu, ia mendapat reward berupa jitakan keras dari Amira. tentu saja, bagaimana bisa dia menganggap hal seperti itu sebagai penyuka sesama jenis. otak gilanya itu, pikir Amira.


"tanya saja pada sekertaris itu! dia kan sama halnya denganmu! penguntit kehidupan orang!." jelasnya dengan kesal.


"apa? jadi dia tahu kalau aku mencari informasi mengenainya lewat bantuan Affan?." Batinnya sedikir terkejut akan Amira.


Raffael bergidik ngeri sendiri melihatnya. jarang sekali ada orang yang bisa menebak dirinya dengan benar. "jangan-jangan dia sudah memata-mataiku selama ini?." Gumamnya dalam hati yang menerka-nerka apa yang dilakukan oleh Amira selama ini.


"kenapa? aku benar kan?." tanya Amira dengan menatap tajam ke arah Raffael.


"heh, memangnya kenapa? bukankah kamu istriku? kenapa aku enggak boleh tahu mengenaimu?." tanyanya tak kalah kesal dengan Amira.


"aku yakin sebelum itu kamu sudah melakukannya!." ucapnya dengan wajah sinis.


"aku berhak mengaturmu Amira! aku berhak tau apa saja tentang mu! ya, siapa tahu kamu sedang selingkuh kan?." ucapnya tanpa sadar.

__ADS_1


"ha? selingkuh? lalu apa yang kamu lakukan dengan kekasihmu itu? menjalankan janji pernikahan?." tanyanya yang sudah mulai pengaap dengan suasana ini.


Raffael yang mendengarnya pun tersenyum sinis, dan segera mengangkat tubuh Amira. Amira pun mulai memberontak, namun Raffael membawanya ke atas ranjang, dengan posisi Raffael di atas tubuh Amira.


Kini, hidung mereka sudah menempel. sudah tak ada lagi jarak di antara mereka. posisi yang intim itu membuat Amira tak dapat memberontak lagi.


"hah! lepaskan!." ucapnya. namun, Raffael malah mencengkeram bahu Amira dengan sangat erat. menatap sendu ke arah Amira.


"kenapa? kamu mengakuinya? kamu berselingkuh kan?." tanya Amira dengan tatapan sinisnya.


"aku enggak berselingkuh!." kekehnya kepada Amira.


"hah! sudah salah, masih menghindar lagi!." ucapnya memalingkan wajah dari Raffael.


"aku sudah berhubungan dengannya sebelum kita dijodohkan!." ucapnya dengan lantang.


"lalu?." tanya Amira kembali menatap intens wajah Raffael.


"ini semua salahmu karena sudah menyetujui perjodohan ini! itu yang membuatku tak bisa lebih leluasa seperti dulu lagi dengan Alenta." ucapnya dengan penuh amarah.


"heh! karena kamu juga, orang yang kusukai jadi enggan kepadaku! yang membuatku terpaksa melupakan perasaan ini! dan sekarang setelah menikah, dengan mudahnya kamu masih berhubungan dengan pacarmu itu setelah aku melupakannya! ." Amira menjelaskan apa yang membuatnya tak tulus dengan Raffael selama ini. bukan hanya karena Raffael tak menganggapnya sebagai seorang istri.


Raffael mendengus mendengarnya. tak disangka informasi dari Affandi masih banyak yang dilewatkannya. dia kira, Amira hanya gadis dingin yang tak bisa bercengkrama bahkan menyukai seorang lelaki.


Ia segera memeluk tubuh Amira dengan sangat erat. namun, Amira tampak tak berkutik sedikitpun namun, tersulut api emosi.


Disaat itu pula, Rina tiba-tiba masuk ke dalam kamar Amira tanpa mengetuk pintu. "Amira!." ucapnya yang terkesan tanpa aba-aba. seketika itu, Amira dan Raffael mengalihkan pandangannya ke asal suara.


Rina yang terkejut atas apa yang dilakukan keduanya pun hendak keluar, "ups, hehe maaf! aku lupa kamu sudah bersuami!." ucapnya sembari melangkahkan kakinya keluar.


kebiasaannya yang suka seenaknya dengan Amira. namun, sikapnya yang ini membuat Amira tertawa keheranan akan dirinya sendiri. bagaimana bisa dia bersahabat dengannya jika dia sendiri tak suka jika privasinya diganggu?


Amira menyingkirkan Raffael dari atas tubuhnya dan segera berlari menemui Tina. tentu saja di taman terbuka yang ada di depan kamar Amira.


"hehe, maaf ya! aku enggak sengaja!." ucapnya saat melihat Amira menyusul dirinya.


"enggak masalah!! memangnya apa yang kamu lihat?." tanya Amira bermaksud untuk mengorek isi otak sahabatnya itu.


"ehh kukira kamu melakukan itu!." ucapnya denga sedikit ragu.


seketika itupun, Amira memukun pelan bahu Rina yang membuat sang empu sedikit meringis. "dasar mesum! aku enggak sedang melakukannya!." ucapnya dengan cepat.


"lalu kamu melakukan apa jika enggak melakukannya?." tanya Rina kepada sahabatnya itu. ia menautkan kedua alisnya dengan imut disana. membuat Amura mencubit pipi sahabatnya itu dengan kencang.


"hei payah! lepaskan! lepaskan! ini sangat sakit!." ucapnya sembari memukuli tangan Amira. Amira pun tergelak akan reaksi yang ditunjukkan Rina.


Amira cekikikan melihat temannya yang menggerutu itu. tak tinggal diam, Rina segera menggelitiki tubuh Amira. membuat tawanya terdengar sampai ke dalam kamar. Tentu saja, Raffael mendengarnya ia tersenyum sumringah mendengar tawa Amira yang bisa dibilang memenuhi kamarnya.


"sudah! sudah! ahaha!." ucapnya yang membuat Rina berhenti menggelitikinya.


"ada masalah apa sehingga kamu datang kemari!?." tannya Amira.


"ehehe! enggak ada! aku hanya merindukan masa kuliah dulu! saat kita bertarung melukis!." ucapnya menatap langit-langit dengan senyum tenang.


"ohh jadi kamu ingin tantangan lagi?." tanya Amira yang terlihat antusias menngggapinya.


"iya! ayo lakukan, siapa yang menang dapat meminta yang kalah memenuhi satu permintaan ya!." ucapnya Rina mulai menyiapkan alat untuk dirinya dan sahabatnya.


"baiklah, sku setuju! apa temanya?." tanya Amira pada Rina yang sibuk mengeluarkan barangnya.

__ADS_1


tepat saat itu juga, Raffael keluar dari kamarnya dan berhenti di depan pintu melihat aksi apa yang akan dilakukan keduanya. Rina yang melihatnya pun memiliki ide berliannya.


"ahh! bagaimana kalau kita menggambar suami tampanmu itu?." tanya Rina dengan sedikit menggoda Amira, mengingat suaminya sedang berada di sana.


Amira melengos ke arah pintu. dia menatap tajam ke arah Raffael. "enggak! enggak akan pernah!." ucapnya dengan ketus.


"kenapa enggak? apa karena kamu enggak rela aku menggambar ketampanan suamimu itu? kamu takut aku terpesona ya?." godanya kepada Amira.


"Aku enggak peduli dengan hal bodoh seperti itu! aku terima tantanganmu!." ucapnya dengan penuh ambisi.


"ohh baiklah! ehh tuan? apa kamu bisa menilai siapa yang lukisannya paling bagus nantinya?." tanya Rina yang menghadap ke arah Raffael.


"apa ketentuannya?." tanya Raffael dengan ketus.


"yang kalah harus melakukan satu permintan yang menang!." ucapnya dengan menatap Amura penuh ambisi kemenangan.


"hmm menarik, baiklah!." ucapnya sembari melangkah ke arah kursi kayu yang ada di depan Amira dan Rina.


Raffael mulai menghitung mundur untuk memulai permainan yang membutuhkan keseriusan tingkat tinggi itu. mereka juga bercengkrama agar tidak bosan dengan kegiatan yang bisa berlangsung lebih dari satu jam tersebut.


Amira melukis wajah Raffael tanpa melihat sketsa nyata yang ada di hadapannya. dengan tepat, dia membuat wajah Raffael menghadap keatas saat terkena sinar matahari. membuat lukisannya sangan indah dipandang. ditambah lagi ia memberi sentuhan bayangan dan beberpa cat emas serta sedikit polesan filter yang nampak mempesona.


sedangkan Rina, dia melukis wajah Raffael dengan gaya kerajaannya. karena dipikir-pikir, Raffael itu kan seorang bangsawan, jadi dia membuatnya seperti itu setelah menatap intens wajah Raffael.


sekitar dua jam mereka menyelesaikannya. kini, seluruh penghuni rumah menyaksikan pertandingan itu. tentu saja, karena Raffael memanggil mereka semua untuk melihatnya secara langsung. semuanya terkesima akan lukisan indah dari kedua sahabat itu. dan nampaknya sangat susah untuk menentukan yang terbaik.


sebenarnya, lukisn Amira terlihat sedikit lebih detail daripada milik Rina. mengingat mereka hanya menyelesaikannya dalam waktu dua jam, membuat Rina sedikit kesulitan mengimbangi kecepatan Amira. jadi, lukisannya kali ini kurang maksimal, tidak seperti biasanya.


kedua orang tuanya Amura meng-voting putrinya karena mereka memang mengetahui lukisan anaknyalah yang terbaik saat ini. Namun, Sania dan Bianca yang tak suka dengan Amira tentunya meng-voting lukisan Rina saat itu. Sedangkan Raffael yang lebih kepo apa permintaan Rina membuatnya memilih Rina.


dengan ini pula, Rina lah yang menjadi pemenangnya karena lebih unggul sati votingan dari Amira. Amira yang mendengus kesal menahannya dan menanyakan apa permintaan Rina. "hhh apa permintaanmu!." tanyanya dengan kesal.


"emm sebentar!." ucapnya yang terlihat berfikir apa permintaan yang akan membuatnya sangat puas kali ini. dia akhirnya menemukan ide berlian yang akan membuat Amira malu ketulungan.


dengan senyum liciknya, dia mengajak kedua sejoli itu masuk ke dalam kamar dan mengatakan permintaannya. "Cium dia Amira!." ucapnya sambil tersenyum puas penuh kemenangan.


Amira yang mendengarnya pun membelalak dan melototi sahabatnya itu. "sial awas kamu Rina!." umpatnya dalam hati. sementara Raffael tersenyum senang mendengarnya.


"ayo lakukan! atau aku akan meminta yang lebih dari itu!.". ucap Rina tersenyum tipis, membuat Amira mencium pipi Raffael sekilas. sementara yabg dicium tersenyum puas dengan kejahilan Rina.


Amira hendak pergi dari sana, namun tangannya dicekal oleh Rina. "eits, siapa yang memintamu menciumnya seperti itu? cium mulutnya, dan aku akan memotretnya!." ucapnya membuat Amira semakin membelalak.


dengan terpaksa, dia menuruti permintaan temannya itu. karena terakhir kali dia tak menuruti permintaannya, Rina malah meminta yang tidak-tidak kepadanya.


Ia mulai mencium mulut Raffa dengan tenang. Rina pun mengambil satu foto dan disimpan dalam ponselnya. "ahh sudah! terimakasih ya, aku akan segera melukisnya dan memberinya sebagai hadiah pernikahan;." ucap Rina tersenyum puas melihat ekspresi Amura setelah melepas lumatannya. sementara Raffa tersenyum licik kearah Amira.


"nasib sial menghampirimu! Rina;." ucapnya penuh kekesalan.


"hehehe, maaf ya, untuk tuan Raffael, kamu boleh menyimpan lukisanku yang tadi agar aku tak terpesona dengan wajahmu nanti!." ucapnya sambil membuka pintu dan mengambil lukisan indah yang ia buat.


"haha! terimakasih! baru kali ini ada pertandingan melukis wajahku, aku menunggu hasil dari foto tadi!." ucap Raffael menerima Lukisan itu.


Rina mengucapkan terimakasih kembali, dan segera pamit pulang agar terhindar dari amukan Amira setelah itu. dengan kesal, Amira menuju toilet. namun, tangannya dicekal oleh Raffael.


"heh! kamu mau kemana." tanyanya sambil menarik Amira ke dalam dekapannya.


"mau mandi!." ucapnya dengan ketus.


"hehe! enak saja! kamu sudah menciumku tanpa izin, dan sekarang mau lari?" ucapnya sambil melepas pelukannya dan menghadapkan wajahnya tepat didepan Amira.

__ADS_1


__ADS_2