Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
18


__ADS_3

matahari pagi sudah nampak di ujung langit-langit membuat suasana pagi ini semakin cerah dan semangat. Amira dan yang lainnya kini sudah berada di meja makan yang sama itu lagi.


mereka makan dengan hikmatnya disana. tak ada pembicaraan yang membuat semuanya menjadi berantakan lagi seperti kemarin malam. hanya terdapat dentingan sendok yang meramaikan suasananya.


dengan wajah yang ditekuk, kedua kakak beradik itu memakan masakan Amira lagi. masih tak menyangka jika kakak ipar mereka akan melakukan hal seperti itu. yah, walaupun selama ini mereka tak menyukai Amira, namun mereka mengerti. orang yang telah di didik oleh seorang Wirawan Airlangga tidaklah seperti itu. jika Amira sampai masih menyukai seseorang, entah apa nasib sial yang akan menimpanya.


namun, kali ini mereka salah paham tentang perseteruan semalam. mereka mengira, saat ini Amira masih menyukai Mito dan tidak tulus melayani Raffael. sebab itulah mereka terlihat sangat marah.


Wirawan melihatnya. namun, ia diam saja dan beralih ke Amira. "Amira!." yang dipanggilpun menoleh kepada sang ayah. dia tak menjawabnya. hanya saja, ia memberi kode untuk menanyakan apa yang ada di benak sang ayah tersayang itu.


"ayah akan mengajukan pengunduran dirimu kepada Mito!." ucapnya secara tiba-tiba yang membuat semua mata tertuju hanya padanya.


"hei! santailah kalian! lanjutkan makannya!." ucapnya kembali setelah membuat suasana yang tenang itu menjadi sedikit mencekam.


"kamu memiliki potensi lebih dari seorang pegawai restoran, Amira!." sambung Ayahnya.


Amira hanya menganggukkan kepalanya mendengar pernyataan ayahnya itu. ia sudah tahu akan hal itu. tetapi, ia tak mampu meninggalkan sahabatnya sendiri. ia masih takut tak bisa mendapatkan teman sebaik Rina.


"lanjutkan, Ayah!." ujarnya dengan sopan.


"ayah ingin kamu masuk ke perusahaan Raffael dan melamar disana!." tanpa basa-basi lagi, dan tanpa ragu, Wirawan mengatakan hal itu


tampak semua orang terkejut dengan ucapannya itu.


"apa maksud ayah?." celetuknya menatap nanar sang ayah.


"ayah tahu kan, aku enggak suka hal itu?." tanya Amira dengan lagak seperti sedang mengintrogasi seseorang.


Raffael tersenyum simpul di meja makan itu. rencana yang sudah ia rencanakan malah dijalankan oleh sang ayah mertua. tak ada kecurigaan disana. hanya ada kesenangan yang tak bisa ia ungkapkan.


"ayah tahu! maka dari itulah kamu harus mulai membiasakan diri!." ucapnya tegas.


Amira melepaskan sendok dari tangannya. ia jatuhkan begitu saja sendok yang sudah berisis makanan itu. ia melipat tangannya di depan dada. menatap jengah kepada Ayahnya itu. seketika itu, Wirawan pun menatap tajam kepadanya.


"kenapa?." dengan tatapan yang masih sama, Wirawan mulai bicara lagi.


"Aku enggak akan mau masuk kesana, Ayah!." tanpa ragu dan dengan tegas Amira menyatakan itu. namun, tentu saja Raffael dan Wirawan tak tinggal diam akan hal itu.


"kenapa? kamu enggak mau bekerja bersamaku?." tanya Raffael.


"iya, lagipula jika disana kamu langsung bisa diawasi oleh Raffael nantinya! ayah enggak mau kejadian seperti di restoran beberapa waktu lalu terulang lagi!." tegasnya menimpali ucapan sang menantu.


Amira semakin malas berada di sana. ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. dengan wajah pasrahnya, sudah pasti kedua pria itu senang mendengarnya.


"tak ada yang perlu dikhawatirkan, Amira!." timpal ibu Maya.


"ya, aku tahu! tapi aku enggak suka disana, Ibu!." ucapnya menanggapi sang ibunda.


----------------


diwaktu yang sama, matahari pagi yang menenangkan tak membuat hati seseorang kian tenang ataupun bahagia. mencari rencana adalah hal yang ia lakukan setiap harinya. namun, tak ada yang bisa membuatnya tenang dengan hal itu. ia merasa kurang puas dengan rencana dari beberapa anak buahnya itu.


dia adalah Hendri Omero, sang ketua mafia yang selalu mengincar keberadaan putri keluarga Airlangga dan ingin sekali merebut kekuasaan yang didapat oleh seorang Raffael Wardana. tak ada yang membuatnya jengah dan kesal selain tuntutan ibunya dan kekuasaan Raffael itu.


"kali ini, aku ingin kalian awasi gadis bernama Amira ini! cari tahu keberadaannya! pak tua itu tak mungkin bisa menyembunyikannya lebih lama!." ucapnya kepada salah satu anak buah.

__ADS_1


"tuan! tak ada gunanya! kami sudah mencarinya kemanapun! tapi pria tua itu sepertinya malah santai-santai saja walaupun mengetahui apa yang kami lakukan!." salah satu dari merekapun angkat bicara. dengan kakinya yang gemetar itu, dia menundukkan kepala dan mengatakannya.


"kenapa? kenapa kalian enggak mencarinya saja?." pekiknya yang memekakkan telinga.


"kami enggak tahu wajahnya seperti apa tuan!." anak buahnya yang tadi kembali menjawab dengan menguatkan jiwanya.


"tidak! kalian enggak boleh melihat wajahnya sedikitpun!." sebuah larangan aneh yang membuat para Mafioso itu bergidik bahu sendiri. bagaimana bisa mereka bisa mencari jika tak melihat wajahnya? nama Amira bukanlah nama satu-satunya di dunia ini. bahkan mungkin di kota ini.


"apakah tuan sudah pernah melihat wajahnya?." tanya Mafioso yang lainnya. mereka mengira bahwa Hendri pun sebenarnya belum mengetahui seperti apa wajah Amira itu.


Hendri menyeringai mendengarnya. di memorinya terlihat dimana saat ia berkunjung ke rumah Wirawan. ia melihat foto Amira yang terpasang di dinding dan diatas lemari kecil disana. banyak sekali foto masa kecilnya yang ceria. namun, ada satu fotonya ketika ia sudah dewasa, yaitu foto wisudanya dengan Rina dan kedua orang tuanya. foto bahagianya yang tak bisa dibandingkan dengan apapun.


"pernah!." Hendri terus tersenyum sumringah mengingat wajah manis Amira itu. sedangkan para anak buahnya membelalak mendengarnya.


"bukankah anda enggak bertemu dengannya, tuan?.". tanyasalah satu dari mereka.


Hendri menoleh ke arah mereka dengan wajahnya yang kembali dingin. " aku melihat fotonya! sangat... manis!." ujarnya dengan ekspresi yang sama.


"kami tak bisa mencarinya jika tak melihat seperti apa wajahnya, tuan. kami bisa salah orang jika seperti itu. kami bahkan tak tahu alamat email ataupun media sosialnya!." salah satu dari mereka kembali menjelaskan betapa sulitnya mencari keberadaan Amira. terlebih lagi, Amira tak menggunakan nama asli ataupun wajahnya saat bermain media sosial. dia benar-benar dijaga ketat oleh ayahnya.


Hendri pun marah mendengarnya. ia mengobrak-abrik meja kerjanya yang berada di markas para Mafioso itu. ia duduk kembali di kursi kebesarannnya itu. sementara para anak buahnya hanya bisa diam seribu bahasa.


"hah! baiklah! kalau begitu, cari tahu kelemahan Raffael Wardana segera! aku ingin lihat seberapa keras kepalanya dia tak ingin memberikan kontrak perjanjian itu!." para Mafioso itu pun memberikan anggukan kepada sang atasan dan segera membubarkan diri menjalankan perintah.


mereka segera berpencar dan melakukan tugas sesuai keahlian masing-masing. mencari data Raffael lewat internet, meretas data, memata-matai Raffael di rumahnya, dan masih banyak lagi.


----------------


Amira akhirnya menyetujui permintaan ayahnya dan ditambah lagi desakan Raffael yang membuatnya kalah jumlah untuk membela diri. dia juga sudah mengirimkan surat pengunduran diri melalui pos. karena, Amira masih belum diizinkan pergi oleh kedua orang tuanya.


Amirapun keluar, melihat luasnya halaman rumahnya namun tetap sederhana dan bernuansa pedesaan itu. orang tuanya memang suka sekali dengan nuansa ini. sehingga membuat rumahnya paling sederhana daripada rumah tetangga-tetangganya. ditambah lagi, memang lingkungan yang ditempatinya ini adalah lingkungan orang kaya. yang pasti membuat mereka seperti sangat berbeda level dengan para tetangganya. maka dari itu, Amira jarang mendapatkan teman dari desany ini. dia sering dicemoohkan karena keadaan rumahnya yang sangat berbeda.


ia menatap heran kearah lapangan yang tidak terllau besar itu. setelah sekian menit lamanya, ayahnya pun datang dan menghampiri Amira beserta dengan Raffael. dia menatap heran anaknya.


"ada apa, nak?." tanya Wirawan sambil mengelus lembut kepala Amira.


"kenapa disini sangat sepi, Ayah? kemana mereka semua!?." tanya Amira.


"sepi? memangnya biasanya seperti apa?." Raffael yang enggak tahu menahu tentang rumah yang menjadi tempat singgahnya ini dengan menatap bingung.


ayah dan anak itupun menoleh ke arah Raffael. dengan senyum manis dari wajah mereka yang menurut Raffael sangat berbeda. "Amira lebih mirip ibu Maya ketika tersenyum!." batinnya dengan tersenyum kecut.


"biasanya disini ada anak buah ayah yang berlatih! tapi, beberapa hari lalu ayah menugaskan mereka ke suatu tempat!." Wirawan menjelaskannya tanpa ada yang disembunyikan lagi.


"memangnya kemana yah?." tanya Raffael yang nampaknya semakin kepo dengan jati diri sang ayah mertua.


"memata-mataiku maksudnya?." tanya Amira dengan tatapan menyidik. seketika itu, sang ayah pun langsung membesarkan pupil matanya. tak ingin ketahuan, namun sudah tertangkap basah. itulah yang menjelaskan perasaannya saat ini.


"ehh, iya!." Wirawan tertawa garing saat itu. tak tahu harus mengatakan apa. ia pun tak tau jika putrinya sendiri bisa setepat itu menebaknya.


Raffael yang melihatnya hanya bengong semata. tak tahu harus berreaksi apa disana. "tapi bukankah ada aku yang menjaga Amira, Ayah?." tanya Raffael.


Wirawan menghentikan tawanya dan beralih mentatap sang menantu. "memangnya kamu tahu, apa masalah yang sedang ayah hadapi?." tanyanya dengan tatapan tajam.


Raffael pun tersenyum kikuk disana sedangakan Amira melihat ikan koi yang dipelihara oleh Ayahnya. dia memberi makan ikan itu, dan memperhatikannya dengan seksama. entah apa yang akan ia lakukan.

__ADS_1


"ayah, apa anak buahmu yang perempuan juga ikut?." tanya Amira disela kegiatannya. namun, tanpa mengalihkan pandangannya dari ikan koi itu.


"emm, tidak! mereka ayah liburkan! ayo bantu ayah!." ujarnya meminta sang buah hati membantu menggantu airnya. Wirawan melirik Raffael dan membuat empunya terperanjat sendiri.


"aku? kenapa?." tanya Raffael sembari menunjuk dirinya sendiri saat sang ayah mertua memberi kode agar ikut membatu.


"agar kamu enggak sibuk dengan bisnismu terus!." ia kembali melakukan kegiatannya. sementara Raffael terlihat mendekat dan mengikuti instruksi dari mertuanya.


mereka melakukan aktivitas itu sampai-sampai baju yang mereka kenakan pun terkena tumpahan air kolam itu. baunya yang sangat menyengat membuat Raffael menutup hidungnya. namun, ayah dan anak itu sepertinya sudah biasa dengan bau tak sedap ini.


melihat Raffael yang kelimpungan itu, mereka hanya tertawa dan tertawa saja. sampai akhirnya, Raffael mengatakan kepada Wirawan agar ia bisa masuk dan mandi. Wirawan pun mengizinkannya. Raffael segera berlari dan masuk ke dalam kamar mandi.


"ouh! tak ada bau yang lebih buruk dari ini!." ucapnya sembari melepaskan pakaiannya dengan jijik.


Amira dan Ayahnya melanjutkan aktivitasnya. kali ini, mereka mengisi kolam itu, dan kembali memasukkan ikan koi kedalamnya. "ayah, apa ayah yakin dengan Raffael?." tanyanya dengan nanar.


Wirawan keheranan dengan tingkah anaknya kali ini. tak ada yang bisa ia katakan selain kata yakin, karena tuan besar sendirilah yang sudah merawat pria yang kini telah dewasa itu.


"iya nak, ayah yakin!." ucapnya dengan senyum bulan sabit yang terpapar diwajahnya.


Amira menurunkan pandangannya dengan wajah lesu. dia merasa Raffel bukanlah orang yang sebenci dan sejahat itu padanya. namun nyatanya, Raffael memang berperilaku menjengkelkan saat pertama dia datang ke rumah itu. terlebih lagi, Amira adalah orang yang memiliki insting yang kuat. hampir tak pernah ada kesalahan dalam instingnya ini. namun, tetap saja insting yang dimilikinya kalah dengan kebaikan hatinya yang tak terbendung.


"ayah, aku enggak terlalu suka padanya!." Amira menatap sendu pria tua yang ada di hadapannya itu. ayahnya pun terlihat semakin bingung dengannya.


"apa maksudmu nak? apa ayah salah?." tanyanya menatap nanar Amira.


"enggak ayah! ayah enggak salah! dia memang orang yang baik, awalnya!." kini, tatapan berani dan yakin itu muncul diwajahnya. Amira menatap ayah yang telah merawatnya sejak kecil itu dengan kepercayaan penuh.


"awalnya? ayah enggak mengerti, Amira?! bicaralah dengan jelas!." tukas ayah.


"entahlah ayah! sepertinya ada seseorang yang membuatnya berubah! ayah tahu? aku sangat mengenal ibu! ibu tak akan memandang seseorang dengan ramah jika orang itu bukanlah orang yang baik! tapi Raffael?." Ayah hanya terdiam mendengar ucapan Amira.


ia tahu betul seperti apa Raffael dari kecil sampai dewasa. Raffael kecil yang ramah kini telah berubah menjadi kejam, tak berperasaan dan arogan. tak ada waktu untuknya mencari


karena dia juga diterpa kesibukannya sendiri. bahkan jika disebutkan satu-satu, mungkin kesibukannya itu melebihi kesibukan sang tuan besar Mahendra.


"apa yang membuatmu yakin akan hal itu?." Kali ini, ayahnya itupun serius menanggapi hal itu. Amira sedikit ragu untuk mengungkapkannya. namun, ia harus mengeluarkan unek-uneknya itu sebelum ayahnya sendiri tahu dan memberikan hukuman yang berat untuk Raffael. menjelaskan kepadanya ada yang membuatnya berubah.


"wajahnya, Ayah!." ucapnya dengan tatapan serius. Ayah Wirawan pun membelalak mendengarnya. tak tahu apa isi kepala anaknya.


"ha? memangnya kenapa dengan wajahnya?." tanya Ayah yang ingin segera meluruskan pikirannya.


"ayah tahu kan, ada satu foto besar di rumahnya Raffael? itu foto saat mereka bertiga masih kecil! namun, tidak dipungkiri Raffael memang sedikit lebih dewasa dari kedua adiknya itu! mungkin sekitar umur 12 tahunan!." Amira menjelaskannya dengan sebisa mungkin sesuai apa yang ia ingat.


"iya! lalu?." Wirawan masih tak mengerti jalan fikiran gadis yang ada di depannya itu.


"Melihat foto itu, Rasanya seperti melihat kedamaian dalam hidup Raffael!." sambung wanita yang baru saja bersuami ini.


"ha? apa hubungannya dengan hal ini?." tanya Wirawan.


"ayah tahu? wajahnya dulu begitu ceria dan menenangkan! berbeda dengan sekarang!." ucapnya lagi.


"bukankah waktu itu dia masih remaja? tentu saja itu akan terjadi!." tukas ayah.


"orang yang sudah berubah sifatnya dan belum berubah itu wajahnya akan sangat kelihatan ayah! kita seperti sedang berusaha menemukan siapa yang berbohong dengan mengenali gerak-geriknya!." ucap Amira.

__ADS_1


"hah! aku tak mengerti dengan isi fikiranmu Mir!." seloroh ayah.


pembicaraan Amira yang awalnya serius itu akhirnya menjadi tidak jelas sendiri. hanya Amira saja yang tahu apa yang ada di pikirannya. entah ayahnya yang kurang mengerti atau Amira yang terlalu sulit dimengerti. tak ada yang tahu itu diantara keduanya.


__ADS_2